Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Wijaya Noeradi menegaskan bahwa konsistensi Indonesia Pingpong League (IPL) dalam menyelenggarakan rangkaian turnamen memberikan dampak nyata bagi kelangsungan pembinaan atlet tenis meja nasional. Penilaian ini disampaikannya saat menghadiri BRI Grand Final IPL Season 2 2026 di Trans Studio Mall Cibubur, Depok, Jawa Barat, Rabu lalu.
Menurut Wijaya, atlet tidak cukup hanya mengandalkan rutinitas latihan di pusat pembinaan. Kompetisi rutin menjadi sarana pengukuran kemampuan yang objektif, sekaligus mengungkap kelemahan teknis maupun mental yang belum terlihat saat berlatih. "Tanpa turnamen, kita tidak tahu di mana posisi atlet kita," ujarnya.
Latar belakang pujian ini tak terlepas dari perjalanan IPL yang mulai digagas beberapa tahun silam sebagai liga profesional tenis meja pertama di Indonesia. Sebelum IPL hadir, kalender kompetisi domestik bersifat musiman dan terfragmentasi — sering kali hanya berupa kejuaraan nasional (Kejurnas) atau Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung sekali empat tahun. Keterbatasan itu menciptakan celah panjang bagi atlet untuk tidak bertanding secara kompetitif.
IPL mengubah lanskap tersebut dengan format liga bertahap yang berlangsung sepanjang tahun. Mulai dari fase kualifikasi, babak grup, hingga grand final, atlet terpaksa menghadapi tekanan poin, sistem promosi-degradasi, dan jadwal padat yang meniru dinamika turnamen internasional. Struktur itulah yang menurut Wijaya menciptakan "kesinambungan pembinaan" — frasa yang ia ulang untuk menekankan pentingnya tidak ada henti dalam siklus bersaing.
Selain kuantitas turnamen, Sekjen KOI juga menyoroti aspek tata kelola. IPL, yang diakui oleh Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF), dituntut menerapkan prinsip keterbukaan dan non-diskriminasi. Artinya, peluang tampil tidak terbatas pada atlet yang sudah bermarkas di pusat pembinaan Pelatnas Cipayung, melainkan terbuka bagi bakat dari daerah, klub swasta, maupun perguruan tinggi. Prinsip ini selaras dengan mandat KOI soal meritokrasi dalam seleksi atlet kontingen Indonesia.
Dampak praktisnya sudah terlihat. Sejak IPL berjalan, sejumlah nama muda seperti David Jacobs, Siti Aminah, hingga pemain paralympic mulai muncul ke permukaan lewat jalur liga. Mereka memperoleh jam terbang pertandingan yang sulit didapatkan jika hanya bergantung pada Kejurnas. Data internal IPL mencatat lebih dari 200 atlet aktif per musim — angka yang jauh melampaui kapasitas Pelatnas yang hanya menampung puluhan orang.
Di sisi lain, keberlanjutan IPL juga menjawab tantangan klasik tenis meja Indonesia: ketergantungan pada segelintir bintang senior. Era Lilis Indriyani, Anton Suseno, hingga David Jacobs sendiri pernah mendominasi tanpa cadangan yang siap menggantikan. Dengan sistem liga yang konsisten, proses regenerasi tak lagi bersifat reaktif (mencari pengganti saat senior pensiun), melainkan proaktif — bakat muda sudah teruji di lapangan jauh-jauh hari.
Perspektif ini semakin relevan mengingat target emas Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya. Wijaya menekankan bahwa pengalaman menghadapi lawan asing — baik lewat turnamen internasional yang diikuti atlet IPL, maupun undangan pemain asing ke liga domestik — menjadi simulasi tekanan yang tak bisa direplikasi di latihan. "Atlet kita butuh ruang bertanding berkelanjutan, bukan hanya peak performance sebulan sebelum Asian Games," tegasnya.
Kendati demikian, tantangan ke depan tetap ada. Biaya operasional liga profesional yang bergantung pada sponsor tunggal (BRI) menimbulkan risiko keberlanjutan jika kebijakan sponsor berubah. Selain itu, standar wasit, sistem video review (VAR), hingga fasilitas venue di beberapa kota tuan rumah masih memerlukan standarisasi agar mutu pertandingan setara turnamen ITTF Challenge Series.
Langkah strategis berikutnya, menurut pengamat, adalah memperluas ekosistem IPL ke tingkat universitas (seperti NCAA di AS) dan sekolah menengah. Kolaborasi dengan Kemenpora dan Kemendikbud untuk mengintegrasikan liga pelajar ke feeder system IPL akan menciptakan talang pipeline yang utuh — dari U-15, U-18, hingga pro. IPL Season 3 yang dijadwal berlangsung 2026-2027 diharapkan menjadi uji coba format tersebut.
Secara keseluruhan, apresiasi KOI terhadap IPL bukan sekadar pujian simbolis. Ia menandai pengakuan institusional bahwa model liga profesional mandiri, berkelanjutan, dan inklusif telah menjadi tulang punggung regenerasi tenis meja Indonesia — menggantikan model lama yang bergantung pada proyek-proyek musiman dan sentralistik.