Pelatih kepala Wallabies Les Kiss menutup spekulasi mengenai posisi Joseph-Aukuso Suaalii dengan tegas: pemain berusia 23 tahun itu akan tetap ditempatkan di nomor 13 saat Australia membuka seri dua test match melawan Argentina di San Salvador, Sabtu mendatang. Keputusan ini datang di tengah persaingan ketat di lini tengah setelah Isaac Henry menorehkan performa solid menggantikan Suaalii di Townsville, serta kembalinya Len Ikitau yang sudah pulih dari cedera.
Suaalii sendiri absen dalam laga terakhir melawan Jepang karena cedera hamstring, namun Kiss mengonfirmasikan bintang dual-code itu sudah siap beraksi. "Niatnya sejak awal adalah mempertahankannya di outside centre, dan itu tetap posisi favorit untuk saat ini," ujar Kiss dalam konferensi pers di San Salvador, Senin waktu setempat. Tegasan itu menjawab pertanyaan media apakah Suaalii akan digeser ke sayap atau fullback, posisi yang pernah ia emban di New South Wales Waratahs dan saat membela Kangaroos di liga rugby.
Kedatangan Suaalii ke rugby union telah menjadi narasi besar sejak dia resmi bergabung dengan Waratahs dan Wallabies akhir tahun lalu. Mantan pemain Sydney Roosters di NRL itu membawa reputasi sebagai atlet serbaguna dengan kemampuan fisik luar biasa — kecepatan, kekuatan tabrakan, dan daya baca permainan yang dibekali dari latar belakang rugby league. Namun transisi ke kode 15 pemain tidak instan, dan Kiss memilih kesabaran dengan menempatkannya di posisi yang menurutnya paling memanfaatkan seperangkat keterampilan Suaalii: outside centre, di mana dia bisa menggabungkan daya serbu dengan peran distributif.
Di pihak lain, performa Henry di Townsville menambah dilema seleksi yang sehat. Berpasangan dengan Hunter Paisami, Henry menunjukkan kematangan di atas rata-rata untuk pemain yang baru meraih kap kedua karir internasionalnya. Ikitau, yang sempat absen berbulan-bulan karena cedera lutut, kini sudah lolos protokol kebugaran dan siap berebut tempat. Tiga nama untuk dua slot midfield menciptakan kompetisi internal yang justru diharapkan Kiss untuk mengangkat standar latihan.
"Kelima pemain belakang butuh fleksibilitas," tambah Kiss. "Kami menanyakan pada pemain posisi lain apa yang bisa mereka isi secara produktif, agar tim memperluas opsi seleksi dan mengantisipasi berbagai situasi." Filosofi ini tercermin dalam susunan cadangan: Suaalii sendiri sudah pernah dicobakan di sayap, sedangkan kedua playmaker nomor 10 — Noah Lolesio dan Ben Donaldson — keduanya mampu bertindak sebagai fullback. Fleksibilitas posisional ini menjadi senjata strategis di era rugby modern di mana ganti pemain terbatas dan dinamika laga berubah cepat.
Inovasi Kiss tidak berhenti di lini belakang. Di babak kedua laga melawan Jepang, ia mengejutkan lawan dengan menurunkan dua "poacher" di barisan belakang: Fraser McReight dan Carlo Tizzano. Kombinasi ganda pengejar bola ini mengingatkan pada era "Pooper" — David Pocock dan Michael Hooper — yang membawa Australia ke final Piala Dunia 2015. McReight dengan kecerdasan memecah permainan dan Tizzano dengan intensitas fisik menciptakan tekanan konstan di breakdown, memaksa kesalahan lawan dan menciptakan peluang counter-attack.
Kiss mengakui kombinasi itu "sangat menggiurkan" untuk diulang, namun menegaskan ini bukan formula tetap. "Masih ada kombinasi lain melibatkan kekuatan barisan belakang yang ingin kami eksplorasi," ujarnya. Di bansku tersedia Rob Valetini yang menawarkan daya dorong balik, Harry Wilson dengan kemampuan offload, dan Langi Gleeson yang fisiknya mengintimidasi. Kedalaman squad ini menjadi modal besar menjelang Piala Dunia 2025 di tanah air.
Di sisi pertahanan, Wallabies mulai menampilkan identitas baru di bawah bimbingan Scott McLeod, mantan asisten pelatih All Blacks di dua Piala Dunia terakhir. Sistem pertahanan yang lebih terstruktur, komunikasi yang tajam, dan kemampuan mendorong lawan ke area kesalahan telah terlihat dalam dua laga lawan Jepang. Australia hanya mengkoncede satu try di 160 menit bermain — statistik yang layak dijadikan patokan.
Seri lawan Argentina akan menjadi uji nyata pertama untuk sistem baru ini. Los Pumas dikenal dengan gaya fisik, set-piece yang dominan, dan kemampuan memanfaatkan kesalahan lawan dengan efisien. Di San Salvador dan kemudian di Santa Fe, atmosfer penonton Argentina yang legendaris akan menambah tekanan mental. "Begitu penonton Argentina mulai bersemangat, lingkungan jadi sangat sulit. Australia harus cukup baik untuk meredam dan menahan itu," peringatkan Kiss.
Bagi penggemar rugby Indonesia, perkembangan Wallabies ini relevan karena Australia tetap menjadi tolok ukut standar rugby di Asia-Pasifik. Banyak pelatih dan pengembang permainan di Indonesia — baik di tingkat klub maupun pelatnas — merujuk pada struktur latihan, pola permainan, dan manajemen pemain Wallabies. Kesuksesan integrasi pemain lintas kode seperti Suaalii juga memberi pelajaran: rugby Indonesia bisa mengeksplorasi talenta dari cabang olahraga lain, misalnya atlet sepak bola atau atletik, untuk memperkaya pool pemain.
Lebih jauh, kehadiran McLeod — yang lama berada di sistem New Zealand — menandakan pergeseran budaya coaching di Australia yang kian terbuka pada pertukaran pengetahuan lintas negara. Di Indonesia, kolaborasi antar pelatih dari latar belakang berbeda (misalnya pelatih lokal dengan pengalaman luar negeri) masih jarang dilakukan secara sistematis. Model Wallabies ini bisa jadi referensi.
Mata dunia rugby akan tertuju ke San Salvador pekan ini. Bagi Kiss, laga ini bukan sekadar mencatat kemenangan, tapi memvalidasi proses: apakah pilihan posisional Suaalii benar, apakah sistem pertahanan McLeod tahan diuji tekanan tinggi, dan apakah kedalaman squad benar-benar siap untuk perjalanan menuju Piala Dunia 2025. Jawabannya akan menentukan arah Wallabies 12 bulan mendatang.