Sepakbola

Kim Sang Sik Targetkan Rafaelson Cetak Tiga Gol di Final AFF Lawan Thailand

Ringkasan

  • Pelatih Vietnam Kim Sang Sik menargetkan Rafaelson mencetak tiga gol di final Piala AFF 2026 melawan Thailand pada 22 dan 26 Agustus, usai striker naturalisasi itu bawa timnya ke final dengan lima gol.

Vietnam telah memastikan tiket ke final Piala AFF 2026 setelah menggebuk Malaysia dengan skor agregat 4-0. Kemenangan 2-0 di leg pertama di Kuala Lumpur diulang di leg kedua di Hanoi, dan tiga dari empat gol Vietnam berasal dari kaki Rafaelson, striker kelahiran Brasil yang kini bermarga Nguyen Xuan Son.

Prestasi itu mengantarkan Rafaelson ke puncak daftar pencetak gol bersama rekan satu tim, Nguyen Dinh Bac, masing-masing mengoleksi lima gol. Namun untuk Kim Sang Sik, angka lima itu belum cukup. Pelatih asal Korea Selatan itu sengaja melempar komentar setengah guyon yang justru mengungkap ambisi besarnya: "Xuan Son baru bikin lima gol?" ucapnya kepada Bongda 24 H.

Di balik guyonan itu tersimpan target nyata. Kim Sang Sik berharap Rafaelson bisa mencetak tiga gol di laga final dua leg melawan Thailand. Jika tercapai, total golnya akan mencapai delapan — melebihi rekor pribadinya sendiri dua tahun lalu saat membawa Vietnam juara Piala AFF 2024 dengan tujuh gol dan gelar top skor.

Perjalanan Rafaelson ke puncak ini tidak instan. Pemain berusia 31 tahun itu debut di liga Vietnam pada 2019 berbaju Nam Dinh, lalu berpindah ke Topenland Binh Dinh sebelum bergabung dengan Thep Xanh Nam Dinh musim ini. Proses naturalisasi berlangsung lama, baru resmi disahkan pada Maret 2024, tepat waktu untuk edisi Piala AFF tahun itu.

Kini di edisi ke-16, Rafaelson tampil sebagai mesin gol yang mengerikan. Lima golnya didapat dari tiga pertandingan: dua gol lawan Laos, satu gol lawan Indonesia di fase grup, dan dua gol lawan Malaysia di semifinal. Kemampuannya membaca ruang, finishing dua kaki, dan komposure di kotak penalti menjadikannya senjata utama Vietnam.

Namun Thailand bukan lawan biasa. Tim Changsuek dikenal memiliki pertahanan tertata rapi di bawah pelatih Masatada Ishii, dengan pasangan bek tengah Pansa Hemviboon dan Elias Dolah yang fisik dan tangkas. Di fase grup, Thailand hanya kebobolan satu gol dari lima laga. Menembus benteng mereka membutuhkan lebih dari sekadar brilian individu.

Di sisi lain, Vietnam juga tidak bisa bergantung sepenuhnya pada Rafaelson. Kim Sang Sik sendiri mengakui kontribusi pemain lain seperti Nguyen Dinh Bac, Doan Van Hau, dan trung gian kreatif Nguyen Quang Hai. Keseimbangan antara serbuan Rafaelson dan dukungan lini tengah akan menentukan nasib final.

Bagi sepak bola Indonesia, final Vietnam vs Thailand ini mengingatkan pada dominasi dua negara itu di Asia Tenggara selama dua dekade. Indonesia yang pernah juara AFF 2024 di bawah Shin Tae-yong kini harus mengejar ketinggalan. Kehadiran striker naturalisasi berkualitas seperti Rafaelson menjadi bukti betapa pentingnya rekrutmen cerdas dalam membangun tim nasional yang kompetitif.

Final leg pertama akan digelar di Stadion Rajamangala, Bangkok, pada 22 Agustus, sebelum leg kedua di Stadion My Dinh, Hanoi, empat hari kemudian. Thailand berkeuntungan bermain leg kedua di kandang lawan, namun Vietnam datang dengan momentum dan kepercayaan diri puncak.

Sejarah mencatat Vietnam dan Thailand adalah dua tim paling sukses di Piala AFF dengan masing-masing tiga gelar juara. Kemenangan Vietnam tahun ini akan menyamakan rekor Thailand, sedangkan kemenangan Thailand akan membuat mereka berdiri sendirian di puncak. Rafaelson, dengan target tiga golnya, berpotensi menjadi penentu sejarah.

Apakah target Kim Sang Sik terwujud? Jawabannya akan terungkap dalam 180 menit pertarungan sengit di Bangkok dan Hanoi. Yang pasti, Rafaelson sudah membuktikan ia adalah striker klas dunia di kancah Asia Tenggara — dan final ini adalah panggungnya untuk mengukir legendarisnya lebih dalam.

Mengapa Ini Penting

Final Vietnam vs Thailand menjadi uji nyata strategi naturalisasi Vietnam yang sudah matang sejak 2019. Rafaelson bukan sekadar penyerang andalan, tapi simbol proyek jangka panjang yang membuahkan hasil. Bagi Indonesia, ini pelajaran keras: membangun tim nasional butuh perencanaan rekrutmen bertahun-tahun, bukan solusi instan. Dominasi Vietnam-Thailand di AFF juga menunjukkan kesenjangan infrastruktur dan pengembangan pemain muda yang harus segera ditutup jika Garuda ingin kembali berkuasa di Asia Tenggara.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
19 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit