Jakarta, Warkah Indonesia — Langkah Timnas Vietnam di Piala AFF 2026 mulai terganjal. Bertanding di Stadion My Dinh, Hanoi, Kamis (11/12/2026) malam WIB, Golden Star Warriors hanya mampu bermain imbang 0-0 kontra Singapura. Hasil ini memicu kritik tajam dari media lokal, yang menyoroti kebingungan pelatih Kim Sang-sik dalam membaca jalannya pertandingan.
Tim asuhan Kim Sang-sik tampil dominan dalam penguasaan bola. Namun, efektivitas serangan menjadi masalah besar. Sepanjang laga, Vietnam hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran. Pertahanan rapat The Lions, julukan Singapura, tampil disiplin dan mampu memutus alur serangan tuan rumah.
Kegagalan mencetak gol membuat Kim Sang-sik melakukan sejumlah perubahan. Keputusan paling mengejutkan terjadi pada menit ke-41. Ia menarik keluar Nguyen Dinh Bac, penyerang yang baru saja mencetak hat-trick saat Vietnam melibas Timor Leste di laga pembuka. Sebagai penggantinya, Kim memasukkan Nguyen Tai Loc, penyerang naturalisasi.
Kebijakan pergantian pemain itu langsung menuai sorotan. Media Vietnam, Tuoi Tre, menilai keputusan tersebut tidak efektif dan sulit dijelaskan. Mereka bahkan menyebut Kim Sang-sik benar-benar bingung dalam upaya memecah kebuntuan.
"Melihat ekspresi juru taktik asal Korea Selatan tersebut di layar kaca, dia tampak benar-benar panik ketika tim Vietnam terus-menerus membuang peluang, hingga memicu keputusan pergantian pemain yang tidak tepat," tulis Tuoi Tre dalam ulasannya.
Kritik tersebut menambah tekanan di pundak Kim Sang-sik. Sebelumnya, ia dipuja-puja setelah kemenangan telak atas Timor Leste. Kini, performa timnya dipertanyakan, terutama dalam hal penyelesaian akhir dan kecerdasan taktik saat menghadapi pertahanan yang terorganisir.
Masalah yang dihadapi Vietnam ini memberikan pelajaran berharga bagi sepak bola Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Skuat Garuda kerap menghadapi situasi serupa saat berhadapan dengan tim yang bermain bertahan. Kegagalan memanfaatkan peluang menjadi momok yang tak jarang menghantui.
Analisis sederhana menunjukkan bahwa kemenangan besar atas tim lemah tidak menjamin kesuksesan melawan lawan yang lebih solid. Dinh Bac yang bersinar saat melawan Timor Leste mendadak kehilangan ruang gerak. Ia tak mendapat suplai bola yang cukup, dan justru menjadi korban keputusan impulsif pelatihnya.
Keputusan Kim menarik Dinh Bac di menit akhir babak pertama bisa dilihat sebagai bentuk kepanikan. Ia mengorbankan penyerang paling tajamnya demi harapan pada pemain naturalisasi yang mungkin belum sepenuhnya kerasan dengan skema permainan tim. Hasilnya, nihil.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi tontonan menarik. Shin Tae-yong, pelatih Timnas Indonesia, juga kerap dihadapkan pada kritik serupa saat melakukan pergantian pemain yang dianggap tidak tepat. Namun, konsistensi dan keberanian mengambil keputusan menjadi pembeda.
Situasi Vietnam juga mengingatkan bahwa persaingan di Piala AFF tidak pernah mudah. Singapura, yang kerap dianggap sebagai tim kelas menengah, mampu menunjukkan bahwa organisasi permainan yang baik bisa meredam tim yang secara individu lebih unggul. Ini menjadi sinyal bagi semua kontestan.
Ke depannya, Kim Sang-sik dituntut segera membenahi lini serangnya. Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih. Pertahanan Singapura mungkin belum sekuat Thailand atau Malaysia, tetapi jika masalah ini tak diatasi, peluang Vietnam untuk melaju jauh bisa sirna.
Media Vietnam sendiri berharap Kim Sang-sik belajar dari kesalahan ini. Mereka menuntut pendekatan yang lebih fleksibel dan keputusan yang lebih logis. Piala AFF adalah ajang yang keras, tempat setiap kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Kini, semua mata tertuju pada langkah perbaikan yang akan dilakukan juru taktik asal Korea tersebut.