KANSAS CITY, Missouri — England memperoleh hadiah berupa laga semifinal Piala Dunia lawan rival lama Argentina setelah menampilkan ketahanan mental yang luar biasa di babak knockout. Three Lions mengalahkan Norwegia 2-1 lewat waktu tambahan pada Sabtu (12/7), memastikan tiket ke empat besar turnamen dan menyiapkan pertemuan bersejarah lawan juara bertahan dunia di Atlanta.
Perjalanan England ke semifinal kali ini menandakan kemunculan kedua mereka di empat besar dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, setelah tersingkir di tangan Kroasia lewat waktu tambahan di Rusia 2018. Keberhasilan ini juga membuka peluang bagi tim asuhan Thomas Tuchel untuk mengakhiri keringan gelar dunia yang sudah berusia 60 tahun, sejak kemenangan ikonik di Wembley 1966. Sejarah mencatat ini akan menjadi pertemuan keenam kedua tim di panggung Piala Dunia, menambah babak baru pada rivalitas yang dipenuhi drama dan kontroversi.
Di bawah kepemimpinan Tuchel, England membangun identitas tim yang ditandai oleh kemampuan bangkit dari ketinggalan. Di fase knockout, mereka dua kali tertinggal terlebih dahulu namun berhasil membalikkan situasi — bukti nyata dari mentalitas "tidak pernah menyerah" yang ditanamkan pelatih asal Jerman itu. "Mereka menolak untuk menyerah. Mereka menolak menerima kekalahan," ujar Tuchel setelah laga lawan Norwegia. "Mereka mengatasi kekecewaan. Mereka bekerja keras. Tidak ada satu pun keluhan 1 persen pun tentang hal itu."
Namun, Tuchel tidak mau puas. Pelatih berusia 50 tahun itu menyoroti perlunya peningkatan kualitas bermain meskipun hasil sudah tercapai. "Mengatasi kesulitan dan menemukan cara untuk menang adalah level tertinggi," katanya. "Kita menemukan jalan, kita di empat besar, yang paling penting. Tapi saya pikir kita bisa dan harus bermain sepak bola yang lebih baik." Pernyataan ini mencerminkan standar ketat Tuchel yang dikenal sebagai manajer perfeksionis di tingkat klub.
Kunci keberhasilan England hingga kini terletak pada kemitraan mematikan antara kapten Harry Kane dan bintang muda Jude Bellingham. Keduanya masing-masing mencetak enam gol dari total 13 gol England di turnamen ini — menjadi pasangan rekan satu tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang masing-masing mencetak enam gol atau lebih. Bellingham hadir di Atlanta dalam form mengerikan setelah mencetak empat gol dalam dua laga terakhir, menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia saat ini.
"Performa kelas dunia dari pemain kelas dunia di momen-momen besar," puji Tuchel. "Mutlak top class." Rekan setim, Noni Madueke, menambahkan: "Tidak terbayangkan apa yang dia lakukan. Tapi ini sangat normal baginya." Kematangan bermain Bellingham usia 21 tahun ini menjadi aset tak ternilai bagi skema Tuchel, yang memberikan kebebasan ekspresif ke pemain Real Madrid tersebut.
Perjalanan ke semifinal tidak luput dari tantangan fisik ekstrem. Kondisi panas yang menusuk di Kansas City membuat sejumlah pemain mengalami kram dan sakit. Tuchel mengungkapkan Declan Rice, yang tidak turun di babak kedua lawan Norwegia, menghabiskan tiga hari terakhir di tempat tidur karena sakit. Madueke namun menegasikan fokus tim pada hasil: "Dengarkan, jika kita bermain seperti ini dan menang dua laga lagi, saya tidak keberatan. Saya tidak peduli."
Sejarah pertemuan England dan Argentina di Piala Dunia penuh naratif epik. England menang di 1962 dan 1966, sebelum Diego Maradona mencetak gol "Hand of God" dan solo gemilangnya di Meksiko 1986. Argentina balas dendam lewat adu penalti 1998 — laga yang diingat untuk gol ajaib Michael Owen dan kartu merah David Beckham — sebelum Beckham membalas dengan gol kemenangan di fase grup 2002 di Jepang. Setiap pertemuan menambah lapisan emosi dan sejarah yang tak terpisahkan.
Kemenangan dramatis England atas Belanda di semifinal Euro 2024 lewat gol menit akhir Ollie Watkins baru-baru ini memberikan momentum psikologis berharga. Kini, mereka menghadapi uji coba paling berat: Lionel Scaloni dan skuad Argentina yang penuh bintang, juara dunia bertahan yang mengandalkan pengalaman dan ketahanan turnamen. Laga di Atlanta tidak hanya menentukan finalis Piala Dunia 2026, tetapi juga akan menjawab apakah generasi emas England ini mampu melampaui bayang-bayang masa lalu dan menorehkan nama mereka di sejarah.