Olahraga

Kemenpora Siapkan Anggaran Ekstra Pelatnas Panjat Tebing demi Olimpiade 2028

Ringkasan

  • Kemenpora menyatakan komitmen menambah anggaran pelatnas panjat tebing saat menjemput atlet di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (14/7), sebagai dukungan untuk Olimpiade 2028 di AS.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyampaikan janji resmi untuk meningkatkan dukungan anggaran bagi pemusatan latihan nasional (pelatnas) panjat tebing. Komitmen tersebut disuarakan langsung oleh Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, saat menyambut kepulangan atlet panjat tebing Indonesia di Terminal Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa (14/7) sore.

Penyambutan itu dilaksanakan setelah tim merah-putih menorehkan catatan gemilang dalam World Climbing Series (WCS) di Krakow, Polandia, dan Chamonix, Prancis. Nama-nama seperti Desak Made Rita Kusuma Dewi, Veddriq Leonardo, serta Putra Tri Ramadani menjadi bagian dari kontingen yang kembali ke tanah air. Desak sukses mengamankan dua medali emas nomor speed perorangan putri di kedua ajang tersebut, sementara Veddriq menyumbang satu emas nomor speed putra di Chamonix.

Lonjakan prestasi ini bukan kebetulan. Panjat tebing speed menjadi salah satu disiplin olahraga yang paling konsisten menghasilkan medali internasional bagi Indonesia dalam satu dekade terakhir. Keberhasilan atlet tanah air di kejuaraan dunia menjadi landasan logis bagi pemerintah untuk tidak lagi memandang sebelah mata cabang olahraga yang sempat dianggap marginal.

Olimpiade 2028 yang akan digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, menjadi magnet utama di balik percepatan kebijakan ini. Komite Olimpiade Internasional telah memutuskan untuk memisahkan nomor speed dari kombinasi mulai edisi tersebut, memberi peluang lebih lebar bagi spesialis seperti Veddriq dan Desak untuk merebut emas. Peta jalan prestasi pun disusun bertahap melalui Asian Games 2026 dan SEA Games 2027.

Surono menegaskan bahwa arahan tersebut berasal dari tingkat tertinggi. Presiden Prabowo Subianto, menurut deputi tersebut, telah berkomitmen mendukung prestasi olahraga nasional dengan menyuntikkan biaya tambahan anggaran terhadap bantuan fasilitasi pelatnas. Hal ini menandai pergeseran posture anggaran di mana cabang olahraga non-bulu tangkis mulai mendapat perhatian serius.

Dari kacamata industri olahraga tanah air, tambahan anggaran ini membawa implikasi langsung terhadap ekosistem pelatihan. Fasilitasi pelatnas yang lebih tebal memungkinkan federasi mengadakan try out ke lokasi dengan struktur tebing berstandar dunia. Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan sports tech, alokasi dana ekstra juga membuka ruang integrasi peralatan pengukur kinetik dan simulasi rute memanjat berbasis kecerdasan buatan yang selama ini hanya dinikmati atlet negara maju.

Dampaknya meluas ke tingkat akar rumput. Klub panjat tebing lokal di Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta kerap kesulitan membiayai sentra latihan karena ketergantungan pada dana sukarela. Ketika pemerintah pusat menaikkan anggaran pelatnas, efek bola salju berupa pembinaan usia dini dan pelatihan pelatih bersertifikat diproyeksikan menguat.

Kendati demikian, tantangan administrasi tetap menyertai. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa besaran anggaran yang dijanjikan tidak selalu linier dengan serapan di lapangan akibat birokrasi pengadaan. Transparansi penyaluran dana menjadi kunci agar komitmen Presiden Prabowo tidak berhenti di atas kertas.

“Saya sebelumnya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Desak Made dan Veddriq yang berhasil mempersembahkan medali emas di Krakow dan Chamonix,” tutur Surono di tengah kerumunan wartawan bandara. Ia menambahkan, “Kemenpora berkomitmen memberikan dukungan fasilitasi bantuan pelatnas dan try out untuk persiapan Asian Games 2026, SEA Games 2027, dan Olimpiade 2028.”

Pernyataan senada dipertegas terkait posisi anggaran. “Jadi Presiden Prabowo komitmen mendukung prestasi olahraga Indonesia dengan memberikan biaya tambahan anggaran untuk atlet Indonesia,” katanya menjelaskan lebih lanjut. Kalimat tersebut sekaligus menepis keraguan publik yang sempat menyoroti minimnya insentif bagi atlet panjat tebing pasca-kejuaraan dunia.

Ke depan, langkah konkret yang dinanti adalah realisasi try out ke benua Eropa dan Amerika menjelang Olimpiade. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) diperkirakan akan merilis kalender pelatnas terpadu dalam beberapa bulan mendatang. Sinergi antara Kemenpora, FPTI, dan tim sports science akan menentukan apakah emas Olimpiade pertama dari sektor non-bulu tangkis bisa terwujud di Los Angeles.

Tren prestasi yang dibangun dari Krakow dan Chamonix harus dirawat dengan konsistensi pembiayaan. Dengan komitmen anggaran baru, Indonesia berada pada posisi strategis untuk mengukuhkan diri sebagai kekuatan utama panjat tebing speed dunia. Masa depan atlet seperti Desak dan Veddriq kini bergantung pada kecepatan eksekusi birokrasi, bukan lagi pada bakat semata.

Mengapa Ini Penting

Kenaikan anggaran pelatnas panjat tebing menandai pergeseran prioritas pemerintah dari olahraga populer ke disiplin berbasis data dan presisi. Alokasi dana ekstra membuka peluang adopsi teknologi sports science seperti sensor kinetik dan simulasi rute AI yang vital bagi atlet speed. Keberhasilan di Olimpiade 2028 dapat memicu investasi startup sports tech lokal yang selama ini tertinggal dari negara maju. Masyarakat ikut menikmati efek demonstrasi berupa lahirnya klub panjat tebing berbasis pelatihan ilmiah di berbagai daerah.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit