Turnamen Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko baru saja berakhir dengan Spanyol dinobatkan sebagai juara usai mengalahkan Argentina 1-0 di Stadion New Jersey. Namun, di balik kemeriahan pertandingan, perhelatan ini meninggalkan noda hitam akibat serangkaian kekacauan yang memicu desakan mundur terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino.
Tekanan paling keras datang dari Presiden La Liga, Javier Tebas. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Tebas secara terbuka meminta Infantino untuk turun dari jabatannya. Menurutnya, Infantino telah menghancurkan industri sepak bola demi kepentingan pribadi dan sudah waktunya dia pergi.
Kekacauan di Piala Dunia 2026 dimulai jauh sebelum kickoff. Timnas Iran mendapat perlakuan berbeda dari tim lain, sementara wasit asal Somalia, Omar Artan, dilarang masuk Amerika Serikat tanpa kejelasan. Penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim dan pengenalan jeda hidrasi juga menjadi bulan-bulanan kritik.
Puncak kontroversi terjadi ketika striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, mendapat kartu merah saat melawan Bosnia dan Herzegovina. Hukuman itu secara mengejutkan dicabut sehingga Balogun bisa bermain di babak 16 besar melawan Belgia. Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengaku telah menelepon Infantino secara langsung untuk merekomendasikan peninjauan kembali keputusan tersebut.
Intervensi langsung dari kepala negara ke otoritas sepak bola global menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi FIFA. Banyak pengamat menilai Infantino terlalu lemah dalam menjaga integritas regulasi wasit. Ini menjadi puncak gunung es dari berbagai masalah yang sudah lama menggerogoti organisasi sepak bola dunia.
Infantino sendiri bukan nama asing dalam kontroversi. Sejak menjabat pada 2016, ia kerap dikritik terkait perluasan Piala Dunia yang dianggap mengorbankan kualitas, serta kedekatannya dengan rezim-rezim otoriter. Kekacauan Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sistem yang dibangunnya mulai runtuh.
"Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya sudah habis," ujar Tebas. Ia menambahkan, Infantino mendapat dukungan penuh dari sistem federasi yang tidak memberikan ruang bagi oposisi. "Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin maju hanya untuk kalah. Inilah sistemnya, dan sistem ini busuk di intinya."
Tebas juga menyoroti budaya diam di lingkungan FIFA. "Saya mendengar banyak orang yang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Mereka mengatakan itu, tetapi kemudian mereka tidak melakukan apa pun. Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, diam atau keterlibatan," katanya.
Dampak dari kekacauan ini terasa hingga ke Indonesia. Sebagai negara yang kerap mengalami intervensi politik dalam sepak bola, kasus Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga. PSSI pernah dibekukan FIFA pada 2015 akibat campur tangan pemerintah, dan insiden pencabutan kartu merah akibat campur tangan Trump mengingatkan kembali betapa rapuhnya independensi federasi jika tekanan politik masuk.
Ke depan, tekanan terhadap Infantino diperkirakan akan terus meningkat. Meskipun masih mendapat dukungan dari federasi-federasi kecil yang bergantung pada dana FIFA, suara-suara kritis dari tokoh berpengaruh seperti Tebas bisa mengubah arah. Kongres FIFA mendatang akan menjadi panggung penting untuk mengevaluasi masa depan kepemimpinan Infantino.
Piala Dunia 2026 meninggalkan warisan yang pahit. Dari sisi olahraga, pertandingan tetap menarik. Namun dari sisi tata kelola, turnamen ini menjadi cermin bahwa sepak bola global membutuhkan reformasi serius. Desakan mundur terhadap Infantino mungkin baru awal dari perubahan yang lebih besar.