Kegagalan tim nasional sepak bola Korea Selatan yang tersingkir lebih awal di fase grup Piala Dunia 2026 telah memicu kemarahan publik yang meluas. Hasil buruk ini tidak hanya memaksa pelatih Hong Myung-bo untuk mengundurkan diri, tetapi juga memicu seruan keras dari Presiden Lee Jae Myung agar dilakukan investigasi menyeluruh terhadap pengelolaan federasi sepak bola nasional.
Korea Selatan, yang pernah mencatatkan sejarah sebagai semifinalis pada tahun 2002, harus mengakhiri perjalanan mereka secara memalukan setelah kalah 1-0 dari Afrika Selatan. Kekalahan ini memastikan mereka gagal melaju ke babak 32 besar, sebuah hasil yang dianggap sebagai kemunduran besar bagi negara yang memiliki ambisi tinggi di panggung sepak bola internasional.
Presiden Lee Jae Myung secara terbuka mengkritik keras kinerja para pengurus federasi dan menyebut adanya ketidakmampuan yang sistemik dalam manajemen tim. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh rakyat Korea atas performa tim yang jauh dari harapan, sekaligus menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas krisis ini.
Legenda sepak bola Korea Selatan, Park Ji-sung, turut angkat bicara mengenai krisis ini. Mantan kapten tim nasional ini menyatakan bahwa kegagalan tersebut sebenarnya sudah bisa diprediksi. Ia mengkritik keras hilangnya pembelajaran dan pengembangan sepak bola dalam satu dekade terakhir, yang membuat tim nasional terus terjebak dalam masalah yang sama setiap kali menghadapi turnamen besar.
Posisi Hong Myung-bo memang telah menjadi sorotan sejak ia kembali menjabat pada Juli 2024 menggantikan Jurgen Klinsmann. Proses penunjukannya yang dinilai kurang transparan oleh Korea Football Association (KFA) telah memicu ketidakpuasan publik sejak awal. Keputusannya mencadangkan kapten Son Heung-min dalam laga krusial melawan Afrika Selatan pun menjadi bensin yang membakar amarah para penggemar.
Kini, KFA dihadapkan pada tekanan besar untuk melakukan perombakan total. Media lokal melaporkan bahwa tidak ada penyambutan resmi bagi para pemain saat mereka kembali ke tanah air, mencerminkan betapa dalamnya kekecewaan publik. Situasi ini menjadi pengingat bagi federasi di seluruh dunia bahwa transparansi dan manajemen yang kompeten adalah kunci utama dalam menjaga integritas dan prestasi olahraga nasional.