Kepulangan tim nasional sepak bola Korea Selatan dari ajang Piala Dunia diwarnai suasana mencekam, jauh dari tradisi penyambutan meriah yang biasanya dilakukan. Alih-alih mendapatkan apresiasi, pelatih kepala Hong Myung-bo dan skuadnya justru menghadapi pengamanan ketat dari pihak kepolisian setibanya di Bandara Internasional Incheon pada Selasa pagi. Situasi ini mencerminkan puncak kekecewaan publik atas performa tim yang dinilai gagal total dalam turnamen bergengsi tersebut.
Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) secara resmi menyatakan bahwa tidak akan ada acara penyambutan kepulangan tim kali ini. Keputusan tersebut menandai sejarah baru bagi Korea Selatan, di mana untuk pertama kalinya tim nasional kembali dari turnamen internasional tanpa upacara resmi di bandara. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan atas potensi gangguan keamanan yang mungkin terjadi akibat kemarahan massa yang meluap.
Ketegangan memuncak setelah munculnya ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada pelatih Hong Myung-bo melalui unggahan daring. Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan intensif untuk melacak penulis ancaman tersebut, yang dilaporkan mengaku sebagai warga negara Amerika Serikat berusia 41 tahun. Pihak berwenang mempertimbangkan penerapan pasal intimidasi kriminal guna meredam eskalasi ancaman tersebut.
Kemarahan masyarakat tidak berhenti di dunia maya saja, tetapi telah merambah ke ruang publik secara nyata. Berbagai laporan media lokal menyebutkan bahwa sejumlah pemilik restoran, toko kelontong, dan tempat usaha lainnya telah memasang tanda larangan masuk bagi pelatih Hong Myung-bo. Fenomena penolakan ini menjadi cerminan bagaimana kekecewaan suporter sepak bola dapat bermanifestasi ke dalam aksi sosial yang ekstrem.
Kepulangan skuad tim nasional dilakukan secara terpisah. Pelatih Hong bersama delapan pemain utama, termasuk bintang seperti Kim Min-jae, Hwang Hee-chan, Hwang In-beom, dan Lee Kang-in, tiba dalam satu rombongan. Sementara itu, kapten tim sekaligus bintang paling populer, Son Heung-min, dikabarkan menempuh perjalanan pulang melalui jalur yang berbeda untuk menghindari kerumunan dan potensi konflik di bandara.
Situasi ini memicu desakan publik yang semakin kuat agar segera dilakukan perombakan total di dalam tubuh federasi sepak bola Korea Selatan. Banyak pihak menilai bahwa kegagalan untuk lolos ke babak 32 besar merupakan kegagalan sistemik yang membutuhkan evaluasi menyeluruh. Pemerintah dan otoritas keamanan kini tetap bersiaga tinggi untuk memastikan situasi tetap terkendalinya situasi di tengah tuntutan perubahan besar dalam dunia sepak bola nasional Korea Selatan.