Olahraga

Kegagalan Inggris di Semifinal Piala Dunia Jadi Luka Terdalam 60 Tahun

Kegagalan Inggris di Semifinal Piala Dunia Jadi Luka Terdalam 60 Tahun

Ringkasan

  • Inggris kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia Atlanta lewat gol injury time, perpanjang puasa 60 tahun.

Inggris menelan kekalahan 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, melalui gol telat Lautaro Martinez pada masa injury time. Kekalahan itu memperpanjang puasa gelar timnas Inggris sejak 1966 dan disebut sebagai kegagalan paling menyakitkan dalam enam dekade terakhir.

Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55. Pelatih Thomas Tuchel dan para pemain seolah sudah menggenggam tiket final yang dinantikan selama 60 tahun. Lima menit lagi waktu normal berakhir, Inggris tinggal selangkah menuju partai puncak di New Jersey.

Argentina membalas lewat Enzo Fernandez pada menit ke-85. Martinez lalu memastikan kemenangan timnya dengan sundulan di masa tambahan waktu. Stadion sunyi bagi pendukung Inggris yang terpaku menyaksikan timnya runtuh di menit akhir.

Tuchel mengganti Gordon dengan bek Ezri Konsa 18 menit jelang akhir. Formasi berubah menjadi lima bek. Declan Rice dan Reece James ditarik keluar, masuk Nico O'Reilly dan Dan Burn. Keputusan itu membuka ruang bagi serangan Argentina yang dikawal Lionel Messi.

Statistik memperlihatkan betapa pasifnya Inggris usai unggul. Penguasaan bola mereka hanya 12 persen antara gol Gordon hingga gol Martinez nyaris 40 menit kemudian. Taktik bertahan ala Tuchel justru mengundang tekanan beruntun yang berujung dua gol Argentina.

FA menunjuk Tuchel usai Euro 2024 menggantikan Gareth Southgate. Mandat tunggalnya ialah membawa Inggris juara Piala Dunia 2026 atau menambah satu bintang di dada jersey. Ia diharapkan menghapus cerita sial Southgate yang kalah di final Euro dan semifinal 2018.

Nyatanya, Tuchel mengulangi kehati-hatian yang selama ini dikritik dari Southgate. Ia gagal memenangi laga saat timnya di atas angin. Kekalahan ini melahirkan pertanyaan soal kelayakan pendekatan pelatih asal Jerman tersebut dalam turnamen besar.

Posisi bek kanan jadi masalah sejak awal. Tuchel bertaruh pada Reece James yang rentan cedera; saat hamstringnya bermasalah, Jarell Quansah, Djed Spence, dan Konsa bergantian isi posisi itu. Trent Alexander-Arnold dicadangkan jauh karena dianggap rapuh defensif.

Cole Palmer, Phil Foden, dan Morgan Gibbs-White tak mendapat kepercayaan penuh. Ivan Toney baru dimainkan menit ke-96, penampilan perdananya di turnamen. Jordan Henderson dibawa demi pengaruh di ruang ganti, padahal ia cuma jadi penonton usai patah lengan saat selebrasi lawan Meksiko.

Bagi penggemar di Indonesia, kekalahan ini jadi pengingat betapa taktik reaktif sering merugikan tim besar. Liga 1 kerap menyaksikan pelatih asing meniru pola serupa: unggul lalu tutup rapat, akhirnya kebobolan di akhir. Pengalaman Inggris sebaiknya jadi pelajaran teknis bagi staf pelatih lokal.

Turnamen ini juga menunjukkan betapa pentingnya manajemen rotasi dan pemilihan pemain kreatif. Tanpa Palmer atau Foden di menit krusial, Inggris kehilangan opsi transisi. Klub-klub Indonesia dengan sumber daya terbatas wajib memaksimalkan pemain muda berdaya cipta ketimbang sekadar figur senior berpengaruh.

Tuchel dipastikan menerima sorotan tajam dalam beberapa pekan ke depan. FA kemungkinan mengevaluasi strategi jelang sisa kualifikasi dan persiapan final sesungguhnya. Argentina, di sisi lain, melaju dengan mental juara yang sulit dipatahkan meski penampilan mereka sepanjang turnamen tak selalu meyakinkan.

Kekalahan semifinal ini akan diingat sebagai serangkaian 'apa andai' bagi Inggris. Mereka gagal menembus batas yang tak terlewati sejak 1966, dan kali ini kesalahan terbesar datang dari bangku pelatih sendiri.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan ini relevan bagi pecinta sepak bola Indonesia karena menunjukkan bahaya taktik bertahan reaktif yang kerap dipakai di Liga 1. Pelatih lokal dapat mengambil pelajaran soal risiko mengubah formasi saat memimpin tanpa cadangan kreatif. Penggunaan pemain senior bukan pelatih juga jadi bahan evaluasi untuk efisiensi skuad tim nasional. Tren pemilihan pemain berbasis nama而非 performa turnamen layak dikoreksi oleh klub dan asosiasi di Tanah Air.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Kegagalan Inggris di Semifinal Piala Dunia Jadi Luka Terdalam 60 Tahun"?

Inggris kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia Atlanta lewat gol injury time, perpanjang puasa 60 tahun.

Mengapa Olahraga ini penting?

Kekalahan ini relevan bagi pecinta sepak bola Indonesia karena menunjukkan bahaya taktik bertahan reaktif yang kerap dipakai di Liga 1. Pelatih lokal dapat mengambil pelajaran soal risiko mengubah formasi saat memimpin tanpa cadangan kreatif. Penggunaan pemain senior bukan pelatih juga jadi bahan evaluasi untuk efisiensi skuad tim nasional. Tren pemilihan pemain berbasis nama而非 performa turnamen l

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit