Ketegangan di skuad Vietnam mulai terlihat di permukaan menjelang laga penentu posisi di Grup A Piala AFF 2026. Pelatih Kim Sang Sik terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menarik Nguyen Dinh Bac — pencetak hat-trick lawan Timor Leste — tepat pada menit ke-45 pertemuan melawan Singapura, Minggu (2/8) malam. Pergantian dini itu bukan sekadar rotasi taktis, melainkan teguran keras atas sikap pemain yang dinilai terlalu mengutamakan kepentingan pribadi.
Dinh Bac tampak tidak percaya dan menolak meninggalkan lapangan hingga wasit harus mengingatkannya. Kamera menangkap ekspresi muram kedua belah pihak: Kim terlihat emosional saat mengarahkan pergantian, sementara Dinh Bac melewati pelatihnya dengan wajah masam. Adegan itu segera jadi bahan perbincangan media Vietnam dan menimbulkan tanda tanya soal kondisi mental tim sebelum menghadapi Indonesia.
Latar belakang kekesalan Kim jelas terlihat dari statistik laga. Sebagai sayap kiri dalam formasi trisula bersama Nguyen Xuan Son dan Do Hoan Hen, Dinh Bac kehilangan kendali di beberapa momen krusial. Pada menit ke-12, 18, dan 21, ia melewatkan peluang kolaborasi dan justru memilih aksi solo yang sia-sia. Bahkan di satu fase, kaki kanannya menginjak kaki Xuan Son — rekan setimnya sendiri — saat berusaha mengontrol bola.
Kinerja itu kontras tajam dengan penampilan pembuka. Lawan Timor Leste, Dinh Bac mencetak tiga gol dan jadi pahlawan kemenangan 4-0. Performa itu membuatnya naik ke puncak daftar pencetak gol turnamen dan menumbuhkan harapan besar. Namun lawan Singapura yang lebih kompak mengekspos kelemahan pengambilan keputusan Dinh Bac di tiga pertiga terakhir.
Kim tidak mau membiarkan ego individu merusak disiplin tim. "Dinh Bac tidak tampil sesuai rencana staf pelatih di babak pertama, jadi saya menggantinya lebih awal," tegas pelatih asal Korea Selatan itu usai laga. Ia mengakui pergantian itu juga berfungsi sebagai peringatan. "Saya tahu dia kecewa, tapi setiap individu harus berkorban untuk tujuan bersama," tambahnya.
Dinh Bac sendiri menerima kritik dengan lapang dada. "Saya melewatkan dua peluang mencetak gol. Jika saya mencetak, pertandingan akan lebih mudah," ujar pemain Cong An Hanoi itu kepada VN Express. Ia berjanji akan memperbaiki performa di latihan dan siap berkontribusi lawan Indonesia jika dipercaya kembali.
Dari perspektif Indonesia, keretakan ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, Vietnam kehilangan ritme dan kohesi saat memasuki laga paling menentukan. Tanpa Dinh Bac yang berfungsi sebagai peluncur transisi cepat, sayap kiri Vietnam kehilangan ancaman kedalaman. Di sisi lain, tekanan internal justru bisa memicu respons "back against the wall" yang membuat tim Kim lebih berbahaya.
Timnas Indonesia di bawah asuhan Patrick Kluivert seharusnya memanfaatkan ketidakpastian ini. Lini belakang Indonesia — yang dirapatkan oleh Jay Idzes dan Mees Hilgers — harus memaksa Vietnam bermain melalui tengah di mana kompakitas pertahanan Garuda lebih terjamin. Serangan balik cepat melalui Rafael Struick atau Thom Haye bisa mengekspos ruang yang ditinggalkan sayap Vietnam saat naik mendukung.
Sejarah pertemuan kedua tim di Piala AFF 2022 menunjukkan Vietnam selalu sulit memecah pertahanan Indonesia yang terorganisir. Kini dengan adanya gangguan internal, tugas Kluivert jadi lebih jelas: pertahankan disiplin taktis, jangan terprovokasi, dan manfaatkan kesalahan lawan. Kemenangan akan mengamankan posisi puncak grup dan menghindari lawan yang lebih berat di knockout.
Namun Kim bukan pelatih yang pasif. Ia punya rekam jejak mengelola ruang tamu penuh tekanan di klub dan timnas. Pergantian Dinh Bac dengan Nguyen Tai Loc — pemain yang lebih disiplin taktis dan rajin mengejar — menandakan Kim memprioritaskan struktur tim di atas bintang individu. Jika Vietnam bisa menstabilkan emosi di istirahat, mereka tetap berpotensi jadi musuh yang menakutkan.
Kunci laga besok (Selasa, 5/8) akan terletak pada siapa yang lebih cepat menemukan ritme. Indonesia punya keuntungan psikologis: mereka bermain tanpa beban emosional internal, didukung penuh penonton di Gelora Bung Karno, dan memiliki momentum tiga kemenangan beruntun. Vietnam harus membuktikan bahwa kecamuk Minggu malam hanya gejala sementara, bukan penyakit kronis.
Apapun hasilnya, episode Dinh Bac sudah jadi pelajaran berharga bagi sepak bola Asia Tenggara: bintang individu tak bisa menggantikan kolektif yang solid. Bagi Indonesia, ini momen untuk menegaskan bahwa era baru di bawah Kluivert dibangun pada fondasi disiplin, bukan kejeniusan sesaat.