Olahraga

Kamaru Usman Equip Pensiun Usai Kalah dari Du Plessis di UFC Oklahoma City

Kamaru Usman Equip Pensiun Usai Kalah dari Du Plessis di UFC Oklahoma City

Ringkasan

  • Mantan juara welter UFC Kamaru Usman mengakui mempertimbangkan pensiun usai dikalahkan Dricus du Plessis via keputusan juri di laga utama UFC Oklahoma City, Sabtu waktu setempat.

Kamaru Usman duduk diam di studio podcast miliknya, Pound-for-Pound, beberapa hari usai pertarungan di Oklahoma City. Ekspresi wajahnya datar, jauh berbeda dari sikap percaya diri yang biasa ditampilkan di konferensi pers pra-pertarungan. "Saat ini, saya hanya perlu duduk bersama para pelatih, duduk bersama tim, mengevaluasi semuanya," ujarnya dengan nada yang terdengar lebih berat dari sekadar analisis teknis kekalahan.

Kekalahan itu bukan sekadar angka tambahan di kolom loss rekam jejak 21-5-0 miliknya. Tiga juri menilai 50-45, 46-49, dan 46-49 untuk Du Plessis — skor yang mencerminkan dominasi juara menengah bertahan selama lima ronde. Usman naik ke kelas menengah (83,9 kg) usai dua kali gagal merebut kembali gelar welter dari Leon Edwards, namun penampilan di Oklahoma City justru menimbulkan pertanyaan fundamental: apakah tubuh 37 tahun ini masih sanggup menjawab tuntutan fisik level tertinggi?

Karier Usman dibangun di atas fondasi tekanan konstan dan kondisi fisik luar biasa. Dia pernah mempertahankan gelar welter lima kali berturut-turut, mencatatkan rekam jejak 15-0 di UFC sebelum tersandung Edwards. Namun tiga kekalahan terakhir — dua kali kepada Edwards dan sekali kepada Khamzat Chimaev — menampilkan pola yang mengkhawatirkan. Lawan-lawan mulai menemukan celah pada gaya serang menggelegar yang jadi tandanya.

Laga melawan Chimaev pada Maret 2023 jadi titik balik tersendiri. Usman menerima tawaran pertarungan hanya seminggu sebelum acara. "Jika saya punya dua ronde lagi, siapa pun tidak akan tahu apa yang akan terjadi," katanya, merujuk pada momentum yang mulai beralih di ronde ketiga. Alasan singkat itu jadi narasi penguat keputusan naik kelas berat, berharap ukuran tubuh yang lebih alami mengembalikan keunggulan fisik.

Realitas di Oklahoma City mengecewakan. Du Plessis tidak hanya lebih besar, tapi juga lebih segar dan lebih variatif. Usman yang terkenal dengan tekanan wrestling dan kardio tak terbatas justru terlihat kehabisan ide di ronde tengah. Dia mengakui merasa "tidak mewakili" tim dan dirinya sendiri dengan benar — pengakuan langka dari atlet yang selalu bangga pada etos kerja.

"Setiap kekalahan adalah pil pahit yang sulit ditelan, tetapi saya bangga karena saya tidak pernah terlihat kewalahan atau kalah melawan lawan-lawan saya di masa lalu," ujar Usman. Pernyataan itu mengungkapkan mindset juara: dia menerima hasil, tapi menolak narasi bahwa dia dihancurkan. Masalahnya, olahraga ini tidak menghargai usaha semata. Scorecard berbicara lebih keras.

Konteks usia jadi faktor tak terelakkan. Di usia 37 tahun, Usman sudah melampaui usia puncak kebanyakan petarung kelas menengah. Hanya segelintir nama seperti Glover Teixeira atau Yoel Romero yang bersinar di usia serupa, dan keduanya memiliki gaya bertarung yang jauh lebih hemat energi dibandingkan tekanan konstan khas Usman. Setiap kamp latihan jadi taruhan lebih tinggi: risiko cedera meningkat, pemulihan melambat, dan margin error mengecil.

Bagi UFC, pensiun Usman akan berarti hilangnya salah satu bintang paling bankable era modern. Dia menarik penonton pasar Nigeria dan diaspora Afrika, serta basis fans global yang menghargai dominasinya di welterweight. Dana White sudah kehilangan Conor McGregor dari jadwal rutin, dan generasi baru seperti Islam Makhachev atau Alex Pereira belum sepenuhnya mengisi kekosongan daya tarik komersial skala global.

Di sisi Indonesia, kehadiran Usman di layar — baik via pay-per-view maupun klip viral media sosial — selama ini jadi pintu masuk banyak penggemar muda mengenal MMA. Kekalahan ini, dan mungkin pensiunnya, menutup babak petarung "komplit" yang jarang memiliki kelemahan teknis terlihat. Generasi petarung Indonesia yang tumbuh menonton Usman — seperti yang berlatih di gym-gym MMA di Jakarta, Bali, atau Surabaya — kehilangan teladan disiplin yang langka.

"Ini penilaian yang adil dan jujur. Meskipun mungkin saya tidak merasakannya di dalam hati, kelihatannya memang begitu dan saya tidak menyukainya," kata Usman soal persepsi publik yang menilainya terlalu ambisius naik kelas berat. Kalimat itu mungkin jadi epitaf kariernya: seorang juju yang tidak mau mundur sebelum merasa benar-benar habis, tapi akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa tubuh punya batas sendiri.

Langkah selanjutnya ada di meja evaluasi bersama tim Manajemen dan pelatih utama Trevor Wittman. Opsi tersisa: turun kembali ke welterweight menghadapi generasi baru seperti Belal Muhammad atau Shavkat Rakhmonov, tetap di menengah memakai risiko fisik lebih besar, atau menggantung sarung tangan dengan rekam jejak yang tetap mengesankan. Apapun keputusannya, malam Oklahoma City sudah mengubah narasi: dari "juara yang mencoba menantang diri" jadi "legenda yang menghadapi mortalitas".

Mengapa Ini Penting

Kepotongan Kamaru Usman menandai akhir era dominasi welterweight yang langka — lima pertahanan gelar berturut-turut — dan mengangkat pertanyaan besar soal longevitas petarung di era modern UFC di mana jadwal padat dan lawan semakin canggih secara teknis. Bagi industri, hilangnya 'The Nigerian Nightmare' berarti kehilangan salah satu duta global paling articulate dan marketable, terutama untuk ekspansi pasar Afrika. Di Indonesia, di mana komunitas MMA berkembang pesat lewat gym lokal dan konten streaming, pensiun Usman menghapus teladan disiplin dan sportivitas yang jadi rujukan banyak atlet muda. Keputusannya akan memengaruhi lanskap divisi welter dan menengah: siapa yang akan mengisi kekosongan daya tarik pay-per-view, dan apakah UFC akan mempercepat regenerasi bintang baru?

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Kamaru Usman Equip Pensiun Usai Kalah dari Du Plessis di UFC Oklahoma City"?

Mantan juara welter UFC Kamaru Usman mengakui mempertimbangkan pensiun usai dikalahkan Dricus du Plessis via keputusan juri di laga utama UFC Oklahoma City, Sabtu waktu setempat.

Mengapa Olahraga ini penting?

Kepotongan Kamaru Usman menandai akhir era dominasi welterweight yang langka — lima pertahanan gelar berturut-turut — dan mengangkat pertanyaan besar soal longevitas petarung di era modern UFC di mana jadwal padat dan lawan semakin canggih secara teknis. Bagi industri, hilangnya 'The Nigerian Nightmare' berarti kehilangan salah satu duta global paling articulate dan marketable, terutama untuk eksp

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit