Justin Hubner, bek 22 tahun yang sempat masuk daftar 26 pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026, kini terancam tidak bisa membela Garuda di turnamen tersebut. PSSI mengumumkan nama Hubner pada Jumat (24/7), namun klub asal Belanda, Fortuna Sittard, dengan tegas menolak melepas pemain yang masih terikat kontrak.
Hubner, yang musim lalu memperkuat Fortuna di Eredivisie, menjadi pilihan utama di lini belakang berkat kemampuan membaca permainan, duel udara, dan pengalaman bermain di Eropa. Namun, jadwal AFF 2026 yang bertepatan dengan awal kompetisi Liga Belanda musim 2026/2027 membuat klub enggan melepaskannya. Fortuna bahkan menyatakan bahwa mereka sudah memberi tahu Hubner beberapa minggu lalu bahwa ia tidak bisa mengikuti Piala AFF 2026 karena turnamen tersebut tidak termasuk dalam kalender internasional FIFA.
"Dia hanya sedang dalam perjalanan ke Prancis [tempat tim dijadwalkan menjalani laga uji coba melawan FC Metz pada Sabtu sore waktu setempat]," ujar juru bicara Fortuna Sittard yang dikutip dari Limburger. Menurut klub, status Hubner sudah jelas sejak jauh hari, dan mereka tidak akan mempertimbangkan permintaan PSSI karena AFF bukan agenda FIFA.
Status Piala AFF yang berada di luar kalender resmi FIFA memang membuat klub tidak memiliki kewajiban melepas pemainnya. Karena itu, keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan klub masing-masing. Hal ini berbeda dengan turnamen yang masuk kalender FIFA, seperti Piala Dunia atau Olimpiade, di mana klub wajib melepaskan pemain sesuai aturan FIFA.
Jika benar Fortuna menolak, Timnas Indonesia berpotensi kehilangan salah satu bek andalannya pada Piala AFF 2026. Kehilangan Hubner bisa melemahkan sektor pertahanan Garuda, apalagi Indonesia belum memiliki bek tengah muda yang sebanding dengan kualitasnya di Eropa. PSSI sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait perkembangan terbaru mengenai status Hubner.
Reaksi fans di media sosial beragam. Sebagian berharap PSSI bisa bernegosiasi dengan Fortuna, sementara yang lain pesimis karena klub tidak merasa wajib melepaskan pemain untuk turnamen non-FIFA. "Kalau dia tidak bisa main, kita harus cari bek tengah baru yang bisa diandalkan. Ini jadi ujian bagi PSSI dalam mengelola pemain Indonesia di luar negeri," tulis salah satu netizen.
Secara lebih luas, kasus ini mencerminkan tantangan yang dihadapi sepak bola Indonesia dalam memanfaatkan talenta yang bermain di luar negeri. Banyak pemain muda seperti Hubner yang memiliki peluang terbatas untuk membela negara karena jadwal turnamen yang bertabrakan dengan kompetisi domestik. Jika PSSI ingin meningkatkan kualitas tim nasional, perlu ada strategi yang jelas untuk bernegosiasi dengan klub, mungkin melalui pendekatan diplomatik atau insentif finansial.
Ke depan, Hubner mungkin akan fokus pada pramusim bersama Fortuna di Prancis. Jika ia berhasil mendapat tempat di skuad utama, peluangnya untuk membela Indonesia di masa depan akan tetap ada, asalkan jadwal AFF bisa disesuaikan atau klub bersedia melepaskan untuk turnamen mendatang. Sementara itu, PSSI harus segera menyusun rencana cadangan, baik dengan memanggil bek tengah lokal yang sudah siap atau melakukan komunikasi intensif dengan Fortuna untuk mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak.