Jakarta — Jordi Amat, bek senior dan salah satu pemimpin di gubahan Timnas Indonesia, membeberkan satu instruksi kunci dari pelatih kepala John Herdman menjelang kick off Piala AFF 2026. Herdman menuntut skuad Garuda untuk tidak hanya bermain, tetapi memahami dan mengeksploitasi potensi yang sudah tersimpan di dalam tim itu sendiri.
Pesan itu disampaikan Amat di tengah sesi latihan tim di Jakarta, Jumat (24/7), tepat tiga hari sebelum laga pembukaan melawan Kamboja. Menurut bek berusia 34 tahun itu, Herdman secara konsisten menekankan pentingnya kesadaran kolektif atas kemampuan masing-masing pemain, bukan sekadar mengandalkan bintang-bintang individu.
Perubahan nuansa ini terlihat nyata sejak dua minggu terakhir. Dalam laga uji coba melawan Bali United, Timnas Indonesia mencatat kemenangan 3-0 dengan gol dari Marc Klok, Dony Tri Pamungkas, dan Mitchell Baker. Hasil itu bukan sekadar angka, melainkan bukti visual bahwa pola main Herdman mulai terserap. Amat sendiri mengakui adanya "koneksi antarpemain" yang lebih tajam dibanding periode sebelumnya.
Koneksi itu tidak lahir secara instan. Herdman, yang resmi mengendalikan tim sejak awal 2025, membawa filosofi berbasis data dan manajemen psikologis yang berbeda dari pendahulunya. Ia memperkenalkan sistem rotasi posisi fleksibel, di mana pemain seperti Klok atau Sandy Walsh bisa bergeser peran tergantung lawan. Pendekatan ini memaksa seluruh skuad memahami tugas rekan satu tim, menciptakan pemahaman bersama yang jadi fondasi kekompakan.
Bagi Amat, yang sudah berulang kali merasakan tekanan turnamen regional, kesadaran kolektif itu lebih berharga dari sekadar taktik papan. "Kita punya pemain berkualitas di setiap lini. Tapi kualitas tanpa kesadaran kolektif hanya akan jadi potensi mati," ujarnya. Kalimat itu mencerminkan matangnya mentalitas tim yang kini tidak hanya bergantung pada semangat juang, tapi juga kecerdasan bermain.
Jadwal Piala AFF 2026 menempatkan Indonesia di Grup B yang relatif padat. Setelah hadapi Kamboja di Gelora Bung Karno (27/7), tim harus terbang ke Bangkok untuk lawan Timor Leste (31/7), lalu kembali menjamu Vietnam (3/8) dan menutup fase grup di Singapura (7/8). Kemenangan pembukaan jadi krusial untuk menghindari tekanan psikologis di laga-laga berikutnya.
Lawannya sendiri tidak bisa diremehkan. Vietnam, juara bertahan, dikenal disiplin taktis dan fisik tangguh. Singapura di bawah Tsutomu Ogura pun telah menunjukkan kemajuan signifikan di kualifikasi Piala Asia 2027. Kamboja dan Timor Leste, meski dianggap lawan lemah, sering jadi "tim jebakan" yang berani memainkan kontra serang cepat di menit-menit awal.
Di sisi lain, kehadiran pemain naturalisasi seperti Baker, Walsh, hingga Ivar Jenner menambah variasi taktis. Herdman punya opsi formasi 4-2-3-1 yang bisa berubah jadi 3-4-3 saat mengejar gol, atau 5-4-1 saat mempertahankan keunggulan. Fleksibilitas ini baru bisa berfungsi kalau seluruh pemain paham tugas masing-masing — persis poin yang ditekankan Herdman sejak hari pertama.
Amat sendiri, meski sudah 34 tahun, tetap jadi anak kunci di lini belakang. Pengalaman bermain di La Liga Spanyol memberinya ketenangan saat membangun serangan dari belakang, serta otoritas vocal di kotak penalti. Ia juga jadi jembatan komunikasi antara Herdman dan pemain-pemain muda seperti Dony Tri Pamungkas atau Arkhan Fikri, memastikan pesan pelatih tidak tersesat dalam terjemahan.
Proyeksi ke depan, Piala AFF 2026 jadi ujian nyata apakah era Herdman benar-benar mengubah DNA Timnas Indonesia dari tim yang bergantung inspirasi individu, jadi unit yang konsisten dan sadar akan kekuatan sendiri. Jika pesan "tunjukkan kekuatan kalian" itu terealisasi di lapangan, gelaran juara yang hilang sejak 2010 tidak mustahil dijangkau lagi.