Jonatan Christie kembali berdiri di ambang sejarah. Kejuaraan Dunia 2026 yang digelar di Paris menjadi kesempatan kelima bagi sang juara All England 2024 untuk mengakhiri kelangkaan medali di ajang bergengsi itu. Sebagai unggulan ketiga, posisinya di peta turnamen seharusnya memberikan jalur relatif lancar menuju babak empat besar — langkah yang selama ini selalu terhenti di ujung jari tangannya.
Lima kali keikutsertaan, tiga kali tersandung di perempat final. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan lukisan ketegangan mental dan teknis yang berulang. Di Basel 2019, Sai Praneeth menghentikan langkahnya. Di Tokyo 2022, Chou Tien Chen menewaskan dia dalam gim penentuan 20-22 setelah Jonatan sempat unggul. Lalu di Kopenhagen 2025, Kunlavut Vitidsarn jadi penentu nasib. Ketiga kekalahan itu terjadi di titik paling kritis: satu langkah lagi menuju jaminan medali perunggu.
Kekalahan dari Chou Tien Chen dua tahun lalu masih terasa paling dalam. Jonatan sempat memimpin di gim ketiga, mengendalikan tempo, hingga kesalahan tak terpaksa di poin-poin krusial membalikkan arah pertandingan. Momen itu mengajarkan dia betapa tipisnya margin antara finalis dan pencari medali. Pelatih dan tim analis PBSI telah mengevaluasi pola permainan lawan serta kecenderungan Jonatan sendiri di poin-poin tekanan tinggi.
Di edisi Paris, undian menempatkan Jonatan di kuartir bawah. Babak pertama dia bebas, namun di 16 besar bayangan Lin Chun Yi sudah menunggu. Pebulutangkis Tiongkok itu memiliki rekaman sempurna 3-0 atas Jonatan dalam tiga pertemuan terakhir, termasuk di Final Indonesia Masters 2025 lalu. Gaya permainan Lin yang cepat, variatif, dan jarang membuat kesalahan tak terpaksa justru menjadi musuh alami untuk Jonatan yang mengandalkan ritme dan daya tahan.
Jika berhasil menaklukkan Lin, rintangan di perempat final tak kalah menakutkan. Tiga nama berpotensi menyorong: Victor Lai dari Kanada, Loh Kean Yew dari Singapura, dan Brian Yang juga dari Kanada. Victor Lai layak dijaga khusus. Jonatan belum pernah menaklukkan pebulutangkis berusia 21 tahun itu dalam dua laga terakhir. Gaya agresif Lai di depan net dan kemampuan membaca servis lawan sering mematikan ritme Jonatan di awal gim.
Kondisi fisik dan mental Jonatan memasuki turnamen ini juga jadi tanda tanya. Di Japan Open dan China Open bulan lalu, dia gagal tembus semifinal. Di Tokyo, dia tumbang di tangan Kenta Nishimoto di perempat final. Di Changzhou, Chico Aura Dwi Wardoyo justru yang menyingkirkannya di babak kedua. Dua kekalahan berturut-turut itu menunjukkan adanya celah di daya tahan fisik gim ketiga serta konsistensi smash pembuka.
Pelatih tunggal ganda Rexy Mainaky mengakui tim sudah menyiapkan skema latihan khusus selama tiga minggu terakhir. Fokus utamanya: memperkuat daya tahan anaerobik untuk gim panjang, serta variasi servis pendek ke badan lawan agar tidak mudah dibaca. Jonatan sendiri di media sosial minggu lalu menulis singkat: "Fokus pada proses, hasil akan mengikuti." Kalimat ringkas itu mencerminkan geseran mindset dari mengejar target ke mengejar eksekusi.
Bagi bulutangkis Indonesia, kehadiran Jonatan sebagai satu-satunya wakil putra di babak utama menambah beban psikologis. Era pasca-Anthony Ginting dan Chico Aura yang masih naik daun menuntut Jonatan jadi tolok ukur konsistensi. PBSI menargetkan minimal satu medali dari sektor putra, dan Jonatan adalah peluang paling realistis. Kegagalan lagi berarti evaluasi total terhadap sistem regenerasi dan manajemen puncak performa.
Sejarah mencatat Indonesia belum pernah kehabisan medali putra di Kejuaraan Dunia sejak era Taufik Hidayat 2005. Jonatan punya kesempatan melanjutkan warisan itu, tapi juga risiko jadi yang memutus rantai. Dukungan penuh dari Kementerian Olahraga, sponsor utama, dan jutaan penggemar di media sosial jadi pedang bermata dua: motivasi sekaligus tekanan tambahan.
Langkah selanjutnya jelas: loloskan Lin Chun Yi dulu. Baru lalu bicara soal perempat final. Tim analis sudah menyiapkan laporan video 50 laga terakhir Lin, memetakan pola gerak kaki dan zona lemah di backhand. Jonatan dijadwalkan latihan simulasi lawan kiri tangan mulai hari Senin. Jika semua berjalan sesuai rencana, Paris bisa jadi babak baru dalam kariernya — bukan lagi pencari medali, tapi pemiliknya.