Performa gemilang Jude Bellingham di Piala Dunia 2026 mencuri perhatian dunia. Pemain tengah Inggris tersebut sukses memborong dua gol saat timnya menekuk Norwegia di perempat final, memastikan tiket semifinal.
Torehan tersebut membuat legenda Chelsea sekaligus eks kapten Timnas Inggris, John Terry, melontarkan pujian luar biasa. Terry berani menyamakan kontribusi dan kualitas Bellingham dengan maestro sepak bola Prancis, Zinedine Zidane.
Bellingham memang tampil sebagai motor serangan Inggris sepanjang turnamen di Amerika Utara tersebut. Sebelumnya, ia juga mencetak dua gol krusial yang mengantarkan kemenangan dramatis 3-2 atas tuan rumah Meksiko pada babak 16 besar. Aksi konsisten itu mengingatkan banyak kalangan pada sosok pemain besar yang mampu mengangkat beban tim sendirian di panggung tertinggi.
Pujian Terry bukan sekadar euforia sesaat. Ia merujuk pada magis Zidane saat menggendong Prancis merengkuh trofi juara pada edisi 1998 dan menembus partai final edisi 2006. Bagi Terry, ketenangan Bellingham di luar lapangan pun mencerminkan kedewasaan seorang juara dunia.
Catatan statistik semakin mengukuhkan status Bellingham sebagai bintang kelas dunia. Dua gol di Stadion Miami membuatnya resmi menjadi gelandang pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mengoleksi enam gol dalam satu edisi turnamen. Rekor tersebut mematahkan mitos bahwa gelandang murni sulit bersaing dalam daftar pencetak gol tertinggi.
Di Indonesia, fenomena Bellingham memantik diskusi hangat di kalangan pecinta sepak bola lokal. Penggemar Tanah Air kerap membandingkan gaya permainan Bellingham yang dinamis dan berkarakter dengan harapan mereka terhadap gelandang Timnas Indonesia. Sayangnya, komposisi pemain tengah di Liga 1 masih minim sosok dengan ketajaman dan visi serupa.
Lebih jauh, eksploitasi Bellingham di Piala Dunia menjadi cermin betapa pentingnya investasi pembinaan usia dini. Inggris sukses mencetak generasi emas melalui akademi klub yang kompetitif. Sementara itu, Indonesia baru merintis program serupa melalui Elite Pro Academy, yang butuh dekade untuk melahirkan talenta sepadan di level internasional.
Bagi pengguna layanan streaming olahraga di Indonesia, aksi Bellingham menjadi daya tarik utama peningkatan rating siaran Piala Dunia 2026. Pertarungan fisik dan teknisnya melawan tim-tim besar membuktikan bahwa sepak bola modern menuntut gelandang serba bisa, bukan sekadar pengatur ritme.
"Saya sudah katakan sejak awal Piala Dunia ini bahwa dia mengingatkan saya pada Zidane. Dia sedang menyeret tim ini ke semifinal sekarang. Bagi saya dia sudah berstatus kelas dunia," ujar Terry dalam laman resmi FIFA. Mantan bek tangguh itu juga memuji ketenangan luar biasa Bellingham saat berbicara di luar lapangan.
Persetujuan datang dari legenda Brasil, Gilberto Silva. Gelandang Arsenal era emas yang pernah merasakan pahitnya disingkirkan oleh Zidane di Piala Dunia 2006 itu menilai komparasi Terry sangat masuk akal. "Di pertandingan besar, Anda butuh pemain besar. Dia menunjukkannya bersama Real Madrid dan sekarang di Piala Dunia," kata Gilberto.
Kini, Inggris bersiap menghadapi ujian sesungguhnya. Mereka akan berhadapan dengan juara bertahan Argentina yang masih diperkuat Lionel Messi pada laga semifinal di Stadion Atlanta, Kamis (16/7) dini hari WIB. Laga ini diprediksi menjadi panggung duel generasi antara Messi dan Bellingham.
Terry sendiri menegaskan skuadnya sama sekali tidak gentar menghadapi Albiceleste. Ia mengklaim kualitas individu Inggris per posisi saat ini jauh lebih mewah. "Saya rasa ini adalah waktunya Inggris. Kami selalu berhasil melewati momen krusial," pungkas Terry optimistis.