Olahraga

Joe Root: Pemain Muda Inggris Belajar ODI Sambil Bertanding

Ringkasan

  • Joe Root sebut pemain muda Inggris belajar ODI saat bertanding akibat minimnya eksposur domestik pasca kalah-menang vs India di Cardiff.

Joe Root menyatakan sejumlah pemain muda timnas kriket Inggris harus belajar format one-day international (ODI) secara langsung saat bertanding karena minimnya jam terbang di kompetisi domestik. Pernyataan itu muncul setelah Root memimpin Inggris menang atas India dengan selisih empat wicket di Cardiff pada laga ODI kedua, Kamis waktu setempat.

Root, yang sudah berusia 35 tahun, tampil sebagai pembeda dengan mencetak 99 run tanpa memperlihatkan celah kesalahan di kondisi lapangan yang sulit. Kemenangan itu mengakhiri tekanan setelah Inggris kalah di laga pembuka seri melawan India di Edgbaston. Performa mantan kapten tersebut menunjukkan pentingnya pengalaman dalam menavigasi pertandingan bergaya klasik yang menuntut rotasi strike dan ketenangan menghadapi tekanan.

Masalah utama yang dihadapi Inggris adalah struktur kalender kriket domestik mereka. Piala One-Day, turnamen satu hari tingkat domestik, kini digelar berbarengan dengan The Hundred, kompetisi kriket berformat singkat yang sangat populer. Akibat tumpang tindih jadwal itu, Piala One-Day berubah menjadi ajang pengembangan bagi pemain muda alih-alih kompetisi utama bagi pemain senior.

Dampaknya terlihat jelas pada statistik. Enam batsman teratas Inggris di laga Cardiff secara kolektif memiliki pengalaman 400 pertandingan lebih sedikit dibanding enam pemain India di kriket List A, yang mencakup ODI internasional dan kompetisi domestik bola putih utama. Ketimpangan jam terbang itu membuat pemain Inggris tidak memiliki fondasi bermain ODI sebelum masuk ke level internasional.

Root menilai ketiadaan fondasi tersebut menjadi tantangan terbesar tim saat ini dan ke depan. Pemain yang dipromosikan ke timnas tidak memiliki pemahaman mendalam soal ODI karena jarang memainkannya di level domestik. Di negara-negara kriket lain, pemain biasanya mendapatkan grounding sebelum naik ke tim utama, situasi yang sudah tidak terjadi di Inggris.

Bagi penggemar olahraga di Indonesia, kondisi ini mencerminkan dilema serupa terkait format kompetisi. Di Tanah Air, perkembangan kriket masih terbatas, namun dalam olahraga lain seperti bola voli atau basket, benturan jadwal liga domestik dengan turnamen ekshibisi berdampak pada kematangan pemain. Ketika kompetisi utama tidak memberi ruang pada format tertentu, pemain harus belajar secara instan di pertandingan resmi.

Kriket Indonesia sendiri lebih banyak berfokus pada format T20 karena durasi pendek yang cocok dengan minat penonton baru. Namun, minimnya eksposur terhadap ODI justru membuat sulit melahirkan pemain yang adaptif seperti Root. Pengalaman Inggris membuktikan bahwa tanpa jenjang kompetisi yang tepat, pembentukan karakter pemain di format panjang akan tertunda.

Root menekankan bahwa adaptasi menjadi kunci di ODI modern. Ia mengatakan pemain harus berani menyerap tekanan karena waktu di lapangan selalu lebih banyak dari yang diperkirakan. Menurutnya, memiliki banyak variasi permainan akan menjadikan seseorang pemain yang lebih baik dalam jangka panjang.

"Ada kalanya pemain harus bermain jelek namun tetap membawa tim menang. Itu bagian dari proses belajar," ujar Root. Ia menambahkan bahwa batsman era sekarang terbiasa dengan T20 yang bisa memanipulasi lapangan, tapi di ODI dengan pitch sulit, mereka harus menemukan cara untuk menang secara tidak cantik sekalipun.

Inggris saat ini berada di peringkat delapan dunia dan butuh masuk sembilan besar demi kualifikasi otomatis Piala Dunia 2027. Root berharap timnya dinilai dari performa terkini, termasuk cara mereka beradaptasi cepat seperti saat memenangi seri melawan Sri Lanka awal tahun ini. Kekalahan di Edgbaston menjadi pelajaran berharga sebelum meraih kemenangan di Cardiff.

Laga penentuan melawan India akan digelar di Lord's pada Minggu mendatang. Root optimistis kelompok ini bisa meniru sukses 2019 asal terus berkembang. Ia menyebut tim juara dunia dulu punya 15-16 pemain konsisten, dan Inggris kini punya sumber daya untuk mencapai hal serupa melalui proses belajar yang cepat.

Proyeksi ke depan menunjukkan Inggris harus merombak sistem agar pemain muda mendapat eksposur ODI lebih awal. Jika tidak, mereka akan terus bergantung pada sosok seperti Root dan Jos Buttler yang sudah punya 191 serta 201 caps ODI. Tren ke depan mungkin berupa pemisahan jadwal The Hundred dan Piala One-Day demi menyelamatkan format panjang di Inggris.

Mengapa Ini Penting

Bagi komunitas kriket Indonesia, kasus Inggris menunjukkan bahaya jika sebuah format diabaikan demi kompetisi populer seperti T20. Pengelola liga lokal perlu merancang jenjang kompetisi yang memberi ruang pada ODI agar pemain tidak belajar di level internasional. Hal ini relevan saat Indonesia mulai memperkenalkan kriket ke ajang multievent Asia. Kegagalan sistem bisa membuat prestasi timnas stagnan meski punya bakat muda melimpah.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit