Kiper Barcelona Joan Garcia telah meraih sukses besar di musim pertamanya bersama klub. Ia memenangkan La Liga, Piala Super Spanyol, dan trofi paling prestisius di level tim nasional: Piala Dunia 2026. Kini Garcia mengalihkan bidikannya ke kompetisi antarklub paling bergengsi, Liga Champions.
Garcia bergabung dengan Barcelona secara gratis dari Espanyol pada musim panas lalu. Kepindahan itu sempat diragukan, namun ia langsung menjadi kiper utama Blaugrana. Hingga akhir musim, Garcia mencatatkan 45 penampilan di semua ajang dengan 18 clean sheet dan hanya kebobolan 42 gol. Performa solidnya menjadi salah satu kunci Barcelona mempertahankan gelar La Liga dengan keunggulan delapan poin dari Real Madrid. Di Piala Super Spanyol, Barca mengalahkan Real Madrid 3-2 di final.
Namun, di pentas Liga Champions, Garcia belum bisa berbuat banyak. Barcelona harus mengakui keunggulan Atletico Madrid di perempat final dengan agregat 2-3. Ini memperpanjang puasa gelar Liga Champions Barcelona yang sudah berlangsung sebelas tahun sejak terakhir juara pada 2015.
Menatap musim 2026/2027, Garcia menetapkan target pribadi untuk memenangkan trofi Liga Champions. “Aku sudah di Barcelona selama setahun. Kami telah memenangi La Liga, Piala Super Spanyol, dan tahun ini aku memenangi Piala Dunia, jadi sudah pasti target berikutnya adalah Liga Champions. Piala Dunia itu trofi terpenting di dalam sepak bola internasional, dan Liga Champions itu padanan terdekatnya di level klub. Jadi itulah target yang kutetapkan untuk diriku sendiri di musim ini,” kata Garcia dalam wawancara dengan media Spanyol.
Meski ambisius, Garcia mengingatkan bahwa obsesi berlebihan bisa menjadi bumerang. “Terobsesi itu enggak bagus karena ada pengaruh buruk yang sangat besar jika Anda tidak mencapai targetnya. Namun, kami punya keyakinan yang besar bahwa kami bisa mencapainya,” tegasnya.
Sikap bijak ini menjadi penting karena tekanan untuk merebut kembali kejayaan di Eropa sangat besar di Barcelona. Klub raksasa Katalan itu terakhir menjadi juara Eropa pada 2015, dan sejak itu mereka beberapa kali tersingkir di fase gugur dengan cara yang mengecewakan.
Dari sudut pandang penggemar di Indonesia, perkembangan Garcia tentu menarik perhatian. Barcelona memiliki basis suporter yang sangat besar di tanah air. Banyak penggemar yang menanti apakah Garcia bisa menjadi katalisator kebangkitan Barca di Eropa. Lebih dari itu, pernyataan Garcia tentang obsesi bisa menjadi pelajaran bagi atlet muda Indonesia: target besar harus diimbangi dengan kepala dingin dan fokus yang sehat.
Di Indonesia sendiri, kasus ambisi berlebihan yang berujung tekanan mental kerap dialami atlet. Garcia menunjukkan bahwa mengakui target bukan berarti harus terobsesi. Ini adalah perspektif yang bisa diadopsi untuk mengelola ekspektasi, terutama di olahraga yang penuh tekanan.
Dari segi performa, Garcia jelas opsi utama di bawah mistar Barca. Konsistensinya dalam mengawal gawang menjadi modal besar untuk bersaing di Liga Champions. Jika lini pertahanan di sekitarnya juga padu, bukan tidak mungkin Barcelona bisa kembali berjaya.
Musim 2026/2027 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Garcia dan Barcelona. Dengan target yang jelas dan mentalitas yang tepat, mereka berpeluang mengakhiri penantian panjang. Seperti kata Garcia, kuncinya adalah percaya diri tanpa terobsesi.