Dunia sepak bola Inggris berduka atas kepergian Jimmy Rimmer, sosok yang menorehkan namanya dalam sejarah dua klub raksasa: Manchester United dan Aston Villa. Rimmer meninggal dunia pada usia 78 tahun, meninggalkan jejak karir yang langka dimiliki kiper modern — dua gelar Piala Eropa dengan peran yang kontras namun sama-sama vital.
Lahir di Southport, Rimmer memulai perjalanan profesionalnya di Manchester United pada akhir era 1960-an. Ia duduk di bangku cadangan ketika "Busby Babes" mengalahkan Benfica 4-1 di final Piala Eropa 1968 di Wembley, menjadi bagian dari tim pertama Inggris yang mengangkat trofi paling bergengsi di benua biru. Meski tidak turun ke lapangan, kehadirannya sebagai kiper kedua Alex Stepney menjadi catatan sejarah yang tak terhapuskan.
Kisah yang lebih dramatis tertulis 14 tahun kemudian di Rotterdam. Rimmer, yang sudah bergabung dengan Aston Villa sejak 1977, dipercaya Tony Barton untuk menjaga gawang di final Piala Eropa 1982 lawan Bayern Munich. Namun nasib berbelok tiba-tiba: pada menit ke-9, cedera leher memaksa Rimmer keluar dan digantikan Nigel Spink — kiper cadangan yang kemudian tampil legendaris dan mengamankan kemenangan 1-0 bagi Villa. Rimmer tetap menjadi kiper utama sepanjang perjalanan Villa ke final, serta di musim liga 1980-81 saat The Villans meraih gelar juara Inggris.
Statistiknya menguatkan kualitas Rimmer: 229 penampilan liga untuk Aston Villa, plus masa bermain di Swansea City dan Arsenal. Di Highbury, ia bahkan dinobatkan Pemain Terbaik Musim 1974-75 — penghargaan jarang diraih kiper. Satu kali penampilan untuk timnas Inggris lawan Italia pada 1976 melengkapi profil internasionalnya, meski persaingan dengan Ray Clemence dan Peter Shilton membatasi peluangnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nama Rimmer mungkin tidak sepopuler Peter Schmeichel atau Edwin van der Sar. Namun sosoknya mewakili era emas kiper Inggris klasik: tangguh di bawah mistar, jago menguasai kotak penalti, dan loyal pada satu klub dalam jangka panjang. Di era Liga 1 Indonesia saat ini, di mana kiper asing sering direkrut demi instan, karir Rimmer jadi pengingat bahwa konsistensi dan ketabahan justru membangun legasi yang lebih abadi.
Kedua klubnya mengucapkan duka mendalam. Aston Villa menyebut Rimmer sebagai "legenda sejati" yang perannya tak tergantikan di dua momen paling mulia sejarah klub. Manchester United pun menghormati kontribusinya di era pembangunan pasca-tragedi Munich. Mantan rekan setim, Alex Stepney, menuliskan di media sosial: "Berita sedih mendengar Jimmy Rimmer telah tiada, beristirahatlah dengan damai dan banyak cinta untuk keluarga Jimmy."
Kematian Rimmer menutup babak generasi kiper Inggris yang mendominasi Eropa akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Bersama Clemence, Shilton, dan Stepney, ia membentuk kolom tulang punggung kejuaraan klub Inggris di benua tersebut. Warisannya hidup lewat Nigel Spink, yang justru mendapat kesempatan berkat cedera Rimmer dan menuliskan namanya sendiri di buku sejarah.
Masa depan akan menilai Rimmer bukan dari menit-menit final 1982 yang terpotong, tapi dari 229 kali dia berdiri di antara tiang gawang Villa Park dengan kepercayaan penuh manajemen dan rekan setim. Bagi anak muda Indonesia yang bermimpi jadi kiper profesional, kisah Rimmer mengajarkan: kadang peran paling besar bukan di saat bersinar, tapi di saat menunggu — dan siap ketika panggilan tiba.