Sepakbola

Jepang Tunjuk Oiwa Go Pelatih Baru, Moriyasu Bertahan hingga Piala Asia 2027

Ringkasan

  • Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) resmi menunjuk Oiwa Go sebagai pelatih senior Timnas Jepang, namun Hajime Moriyasu tetap memimpin tim hingga Piala Asia 2027 bulan Januari mendatang.

Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) mengakhiri spekulasi panjang soal kepemimpinan timnas senior dengan menunjuk Oiwa Go sebagai pelatih baru. Keputusan ini diumumkan Jumat (24/7) lalu, menandai era baru bagi Samurai Biru pasca penampilan di Piala Dunia 2026.

Namun transisi kekuasaan tidak akan terjadi secara instan. Hajime Moriyasu, yang telah memimpin tim sejak 2018, ditugaskan menyelesaikan kontraknya hingga Piala Asia 2027 yang digelar Januari mendatang. JFA menilai waktu persiapan terlalu mepet untuk mengganti pelatih secara operasional menjelang turnamen bergengsi itu.

Latar belakang keputusan ini tak lepas dari performa Jepang di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Samurai Biru memang menampilkan permainan yang disegani lawan dan pujian pengamat. Sayangnya, undian yang tidak menguntungkan mempertemukan mereka dengan Brasil di babak 16 besar. Laga berakhir tipis 1-2 setelah gol tunggal di menit akhir, mengakhiri mimpi Jepang melangkah lebih jauh.

Kegagalan menembus babak 8 besar menjadi poin evaluasi krusial bagi JFA. Meski Moriyasu berhasil membangun identitas bermain modern dan mengembangkan generasi pemain berbakat, prestasi di panggung dunia tetap jadi ukuran mutlak. Federasi memutuskan butuh wajah baru dengan visi jangka panjang untuk siklus ke Piala Dunia 2030.

Oiwa Go bukan nama asing dalam sistem sepak bola Jepang. Saat ini ia memegang mandat melatih Timnas U-23 yang menargetkan Olimpiade Los Angeles 2028. Penunjukan ini menciptakan skema rangkap jabatan yang sudah pernah diterapkan sebelumnya. Pada 2021, Moriyasu sendiri pernah memegang dua peran serupa sekaligus.

Kontinuitas ini disengaja dirancang JFA untuk memastikan transisi mulus. Oiwa sudah mengenal karakter pemain muda yang nanti akan menjadi tulang punggung tim senior. Ia juga paham falsafah bermain Jepang yang dibangun Moriyasu selama enam tahun terakhir. Dua tahun ke depan akan jadi masa 'apresiasi' bagi Oiwa sebelum sepenuhnya mengambil alih kendali.

Dari perspektif Indonesia, kebijakan ini menawarkan pelajaran berharga. PSSI sering kali melakukan pergantian pelatih secara mendadak tanpa rencana suksesi yang jelas. Model Jepang — menyiapkan calon dari dalam sistem, memberinya pengalaman di level muda, lalu transisi bertahap — layak ditiru. Khususnya kini Indonesia sedang membangun timnas dengan banyak pemain naturalisasi dan muda.

Satu tantangan besar menanti Oiwa: mempertahankan identitas bermain ofensif sambil memperbaiki efisiensi di kotak penalti. Di Piala Dunia 2026, Jepang menciptakan peluang tapi gagal mengonversi. Lawan seperti Brasil tidak akan memberikan kesempatan kedua. Kemampuan Oiwa mengasah mentalitas pemenang di level senior akan diuji.

Jadwal Piala Asia 2027 di Arab Saudi menjadi ujian terakhir Moriyasu. Jika berhasil membawa Jepang ke final atau meraih gelar, ia keluar dengan legacy mulia. Sebalikkan, kegagalan bisa mempercepat tekanan bagi Oiwa yang harus siap ambil alih lebih awal dari rencana.

Bagi penggemar sepak bola Asia, dinamika kepemimpinan Jepang jadi indikator arah perkembangan sepak bola benua. Jepang konsisten jadi tolok ukur standar profesionalisme. Keputusan JFA kali ini menunjukkan keberanian evaluasi objektif tanpa emosi, sesuatu yang masih jarang terlihat di federasi sepak bola Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Masa depan dekat akan menjawab apakah model 'dual role' ini efektif. Oiwa harus membagi fokus antara Olimpiade 2028 dan persiapan tim senior. Jika berhasil, Jepang punya blueprint suksesi yang bisa jadi rujukan global. Jika gagal, pertanyaan akan timbul: apakah seharusnya transisi langsung dilakukan pasca Piala Dunia 2026?

Mengapa Ini Penting

Model suksesi pelatih bertahap Jepang jadi kontras tajam dengan kebiasaan PSSI yang sering ganti pelatih mendadak tanpa kaderisasi. Oiwa yang dilatih di sistem U-23 memastikan kontinuitas filosofi bermain — hal yang Indonesia butuhkan saat membangun timnas dengan banyak pemain muda dan naturalisasi. Keputusan JFA mempertahankan Moriyasu hingga Piala Asia 2027 juga menunjukkan rasa hormat pada kontribusi pelatih, bukan sekadar membuang begitu kalah. Bagi industri sepak bola Indonesia, ini studi kasus nyata: profesionalisme bukan soal hasil instan, tapi proses regenerasi yang terencana.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit