Erasmus University Rotterdam (EUR) di Belanda bukan sekadar institusi pendidikan tinggi bagi Mohammad Hatta dan Soemitro Djojohadikusumo. Bagi kedua tokoh pendiri bangsa tersebut, kampus yang dulu dikenal sebagai Nederlandse Handelshogeschool ini menjadi kawah candradimuka yang menempa pemikiran ekonomi dan visi politik mereka sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya. Hingga saat ini, jejak tersebut masih diabadikan di Belanda, salah satunya melalui penamaan gedung 'Hatta Building' di kampus tersebut.
Penghormatan EUR terhadap Bung Hatta tidak main-main. Salinan ijazah asli sang proklamator dipajang secara permanen di aula gedung yang menyandang namanya. Selama menempuh studi antara tahun 1921 hingga 1932, Hatta tidak hanya berkutat dengan buku teks. Ia menjadi motor penggerak Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi mahasiswa yang menjadi wadah perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. Kepemimpinannya sebagai ketua perhimpunan pada 1926 hingga 1930 mencerminkan bagaimana Hatta memadukan ketajaman analisis ekonomi dengan semangat perjuangan nasional.
Di sisi lain, Soemitro Djojohadikusumo membawa narasi yang berbeda namun sama krusialnya. Ia tiba di Rotterdam pada 1935 dengan dorongan kuat dari orang tuanya untuk mempelajari ilmu ekonomi. Awalnya, Soemitro mengaku tidak memiliki minat besar pada bidang tersebut. Namun, rasa penasaran mengenai dinamika yang terjadi di tanah air dan krisis ekonomi global yang melanda dunia saat itu mengubah pandangannya. Ia merasa perlu memahami mekanisme ekonomi sebagai instrumen untuk memerdekakan Indonesia dari keterpurukan.
Perjalanan intelektual Soemitro membawanya melintasi batas negara. Ia sempat mendalami sejarah dan filsafat di Collège de Sorbonne, Paris, sebelum kembali ke Belanda untuk menyelesaikan disertasi doktoralnya. Di tengah kecamuk invasi Nazi Jerman pada 1940, ia berhasil merampungkan riset berjudul 'Het Volkscredietwezen in de Depressie'. Gelar doktor ekonomi pun ia raih pada 1943 di usia yang sangat muda, yakni 26 tahun.
Salah satu faktor kunci yang membentuk pola pikir ekonomi Soemitro adalah bimbingan Profesor Jan Tinbergen, sosok yang nantinya dianugerahi Nobel Ekonomi pertama di dunia. Dari Tinbergen, Soemitro menyerap prinsip bahwa kebijakan ekonomi harus bersifat terukur, di mana satu instrumen kebijakan difokuskan untuk mencapai satu tujuan spesifik. Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi Soemitro dalam merancang kebijakan ekonomi Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan hingga era pembangunan nasional.
Kisah Hatta dan Soemitro di Belanda menunjukkan bahwa pendidikan internasional telah menjadi bagian integral dari sejarah pembentukan karakter para pemimpin bangsa. Mereka tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga jaringan intelektual dan metodologi berpikir yang relevan dengan kebutuhan tanah air saat itu. Pengalaman mereka di luar negeri memberikan perspektif global yang memungkinkan Indonesia menempatkan diri dalam peta ekonomi dunia dengan lebih percaya diri.
Bagi generasi saat ini, warisan Hatta dan Soemitro bukan sekadar sejarah masa lalu. Pola pikir mereka dalam menghadapi krisis ekonomi, seperti yang tertuang dalam disertasi Soemitro tentang kredit rakyat, tetap relevan untuk dipelajari. Sistem ekonomi yang inklusif dan berbasis pada kebutuhan rakyat merupakan benang merah yang ditarik dari pendidikan mereka di Eropa hingga implementasi kebijakan di Indonesia.
Kehadiran 'Hatta Building' dan pameran ijazah di Belanda menjadi pengingat bahwa kontribusi intelektual Indonesia diakui di panggung dunia. Hal ini membuktikan bahwa tokoh Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing dan memberikan pengaruh di universitas-universitas terkemuka dunia bahkan pada masa pra-kemerdekaan. Ini adalah modal sosial yang sangat berharga bagi diplomasi pendidikan Indonesia.
Ke depannya, tren kolaborasi pendidikan dan riset antara Indonesia dan Belanda diprediksi akan terus menguat. Fokus pada ekonomi kerakyatan dan kebijakan publik yang terukur, yang pernah ditekankan oleh Soemitro melalui bimbingan Tinbergen, kini bertransformasi ke arah ekonomi digital dan keberlanjutan. Semangat untuk memahami dinamika global demi kemajuan nasional tetap menjadi kompas utama bagi para cendekiawan muda Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri.
Sebagai penutup, kisah kedua tokoh ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada gelar, tetapi pada pemahaman mendalam mengenai realitas sosial dan ekonomi. Hatta dan Soemitro telah membuktikan bahwa dengan pengorbanan besar dan dedikasi intelektual, seseorang dapat mengubah arah sejarah bangsanya. Warisan pemikiran mereka di Erasmus University Rotterdam akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus belajar dan berkontribusi bagi tanah air.