Johor Darul Ta'zim (JDT) berdiri di ambang sejarah. Klub yang mendominasi Liga Super Malaysia selama lebih dari satu dekade ini hanya butuh satu hasil positif — menang atau seri — untuk menorehkan nama mereka sebagai pemegang rekor tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah sepak bola klub dunia. Rekor 108 laga tanpa kekalahan yang mereka catatkan sejak April 2021 kini menyamai pencapaian ASEC Mimosas dari Pantai Gading pada era 1989-1994.
Laga penentu akan berlangsung di Stadion Sultan Ibrahim, Johor Bahru, pada Jumat (21/8/2026) lawan Kuching City FC (KCFC). Jika JDT berhasil menghindari kekalahan, mereka akan meloncat ke angka 109 pertandingan dan memecahkan rekor yang telah bertahan lebih dari tiga dekade. Kesebelasan asuhan Xisco Munoz ini tidak lagi asing dengan tekanan besar; setiap lawan memperlakukan laga melawan JDT seperti final piala.
Dominasi JDT bukan fenomena musiman. Sejak 2014, The Southern Tigers mengoleksi gelar juara Liga Super Malaysia secara berturut-turut hingga musim 2025/2026. Investasi masif dari pemilik klub, Tengku Mahkota Johor (TMJ) Tunku Ismail Sultan Ibrahim, mengubah JDT dari klub biasa menjadi mesin kemenangan yang terstruktur. Infrastruktur world-class, akademi muda yang sistematis, dan rekrutmen pemain asing berkualitas menjadi tulang punggung keberhasilan berkelanjutan ini.
Rekor 108 laga tak terkalahkan dibangun di atas konsistensi menakjubkan. Kesebelasan itu mencatat kemenangan ke-108 dengan pesta gol 14-1 atas lawan mereka pada 11 Mei 2026 — skor yang mencerminkan kualitas jauh di atas rata-rata liga. Kekalahan terakhir mereka justru datang dari tim yang kini jadi lawan tradisional, Terengganu FC, dengan skor tipis 0-1 pada April 2021. Sejak saat itu, JDT menelan 96 kemenangan dan 12 hasil seri di liga domestik.
Chief Executive Officer JDT, Luis Garcia, mengakui betapa sulitnya menjaga ketidakterkalahkanan dalam jangka panjang. Mantan pemain dan eksekutif klub Eropa itu menilai dominasi JDT bukan hanya soal kualitas individu, tapi mentalitas kolektif yang dibangun tahun demi tahun. "Semua tim ingin mengalahkan Anda. Setiap laga jadi final bagi mereka," ucap Garcia kepada Berita Harian. Perspektifnya sebagai orang yang pernah merasakan lingkungan kompetitif Eropa menambah bobot pada pencapaian ini.
Perbandingan dengan ASEC Mimosas menarik untuk dibedah. Klub Abidjan itu mencatat 108 laga tak terkalahkan di era yang berbeda — tanpa VAR, dengan kalender pertandingan lebih padat, dan intensitas fisik yang khas liga Afrika 90-an. JDT mencapai angka sama di era modern dengan beban pertandingan lebih terstruktur, tapi juga tekanan media sosial dan ekspektasi sponsor yang jauh lebih besar. Kedua pencapaian ini layak dihormati di konteks masing-masing.
Bagi sepak bola Indonesia, pencapaian JDT jadi cerminan yang menyakitkan. Liga 1 Indonesia belum pernah memiliki klub dengan dominasi sebanding. Persib Bandung, Persija Jakarta, atau Bali United pernah dominan satu atau dua musim, tapi tidak ada yang mendekati konsistensi lima hingga sepuluh tahun penuh. Kesenjangan infrastruktur, manajemen klub, dan jangka panjang perencanaan terlihat jelas saat dibandingkan dengan model JDT yang didanai dan dikelola profesional sejak atas.
Faktor kunci lain adalah stabilitas pelatih. Xisco Munoz memimpin JDT sejak awal musim 2024/2025 dan melanjutkan fondasi yang dibangun pelatih-pelatih sebelumnya seperti Bojan Hodak dan Esteban Solari. Di Indonesia, pergantian pelatih tengah musim jadi norma, merusak kontinuitas taktis dan budaya tim. JDT membuktikan bahwa kesabaran manajemen pada proses jangka panjang membuahkan hasil yang luar biasa.
Secara komersial, rekor dunia ini akan melonjakkan nilai brand JDT ke level Asia Tenggara yang belum pernah disentuh klub lain. Sponsor utama, penjualan merchandise, dan hak siaran internasional akan naik signifikan. Bagi Liga Super Malaysia secara umum, ini momentum emas untuk menarik perhatian global — sesuatu yang liga Indonesia belum berhasil capai meski pasar potensialnya jauh lebih besar.
Tantangan mendatang bagi JDT bukan hanya mempertahankan rekor, tapi menterjemahkannya ke panggung AFC Champions League Elite. Dominasi domestik belum sebanding dengan performa benua, di mana JDT sering tersandung di fase grup atau 16 besar. Rekor tak terkalahkan di liga dalam negeri harus jadi modal kepercayaan diri, bukan zona nyaman. Munoz dan Garcia sadar: sejarawan akan menilai mereka dari kemampuan mereplikasi dominasi ini di kancah Asia.
Sementara Kuching City FC hadir sebagai penantang yang tidak punya beban. Tim dari Sarawak ini bermain bebas, dengan semangat jadi pembunuh raksasa. Untuk JDT, tekanan justru lebih berat: sejarah menunggu di ujung tandingan, dan satu kekalahan berarti menunda pencapaian yang sudah dekat di depan mata. Apapun hasilnya, JDT sudah menulis babak emas sepak bola Malaysia — dan menegaskan standar yang harus dikejar tetangga mereka di selatan.