Olahraga

Jawa Barat Rebut Juara Umum Kejurnas Squash 2026, GOR Wibawa Mukti Kembali Buktikan Kapasitas Internasional

Ringkasan

  • Jawa Barat juara umum Kejurnas Squash 2026 dengan raihan 11 emas di GOR Wibawa Mukti, Bekasi.
  • DKI Jakarta runner-up, Kaltim juara ketiga.
  • Acara jadi momentum perluas pembinaan menuju PON 2028 dan Olimpiade.

Kabupaten Bekasi — Tuan rumah Jawa Barat berhasil mengukir sejarah dengan meraih gelar juara umum Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Squash 2026 yang berlangsung di GOR Wibawa Mukti, Cikarang, pada 7–11 Juli 2026. Kontingen Jabar mengoleksi total 31 medali, terdiri dari 11 emas, 5 perak, dan 15 perunggu, menempatkan mereka di puncak klasemen final dengan margin yang nyata atas peserta lain.

Posisi runner-up diraih oleh DKI Jakarta yang mengumpulkan 21 medali (2 emas, 7 perak, 12 perunggu), diikuti Kalimantan Timur di urutan ketiga dengan 5 medali (1 emas, 1 perak, 3 perunggu). Kejuaraan yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Persatuan Squash Indonesia (PB PSI) ini diikuti oleh 162 atlet dari berbagai provinsi, bertanding dalam kategori perorangan putra dan putri mencakup kelompok usia U9, U11, U15, U17, U19, U23, hingga senior.

Ketua Pelaksana Kejurnas Squash 2026, Endang Suranata, menyoroti peran vital fasilitas yang memadai. "Sukses penyelenggaraan tidak terlepas dari kontribusi besar Pemerintah Kabupaten Bekasi yang telah menghadirkan fasilitas berstandar internasional, GOR Squash Wibawa Mukti, sebagai venue Kejurnas bahkan dalam dua tahun terakhir secara berturut-turut," ujarnya di Cikarang, Minggu. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada PB PSI, KONI Pusat, Kemenpora, KOI, serta mitra dan sponsor atas dukungan penuh.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bekasi, Iman Nugraha, mengapresiasi kepercayaan PB PSI yang menunjuk kembali daerahnya sebagai tuan rumah. Pihaknya berkomitmen terus mendukung kemajuan squash melalui pembinaan dan peningkatan kapasitas sarana prasarana guna melahirkan atlet berprestasi hingga kancah internasional. Menurutnya, keberadaan GOR Wibawa Mukti menjadi modal strategis membangun ekosistem pembinaan berkelanjutan.

"Penyelenggaraan event-event besar akan menjadi bagian penting dalam meningkatkan prestasi atlet sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Bekasi sebagai salah satu episentrum pengembangan olahraga squash di Indonesia," tegas Iman. Komitmen ini selaras dengan visi jangka panjang daerah untuk menjadikan olahraga raket ini sebagai salah satu unggulan pembinaan prestasi.

Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI, Kolonel Kes (Purn.) Irfan Bachtiar, turut memberikan apresiasi tinggi atas kualitas penyelenggaraan. Ia menilai venue Squash Wibawa Mukti layak menjadi lokasi kejuaraan tingkat nasional maupun internasional. Namun, Irfan juga menyoroti tantangan struktural: kontingen daerah dan atlet peserta masih terbilang minim meski cabang olahraga ini mulai digemari masyarakat.

"Kita memiliki fasilitas pertandingan yang sangat representatif. Sekarang tantangannya adalah bagaimana memperluas pembinaan sehingga semakin banyak provinsi yang ikut berkompetisi dan banyak melahirkan atlet berkualitas," kata mantan pebulu tangkis tangan ini. Pernyataan ini menggarisbawahi kesenjangan antara infrastruktur kelas dunia yang sudah tersedia dengan basis atlet yang masih perlu diperlebar secara masif.

Secara kontekstual, Kejurnas 2026 ini juga menjadi momentum strategis bagi PB PSI dalam rangka memperkuat posisi squash di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 serta mendorong aspirasi masuk program Olimpiade. Status squash yang telah diakui sebagai cabang olahraga Olimpiade (mulai Los Angeles 2028) membuka peluang baru bagi pengembangan atlet muda yang dipoles sejak dini melalui rangkaian kejuaraan bertingkat seperti ini. Dominasi Jawa Barat sekaligus mengirim sinyal bahwa model pembinaan berbasis daerah dengan dukungan fasilitas prima mampu menghasilkan output prestasi yang konsisten.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan Jawa Barat menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, KONI, dan induk cabang olahraga dengan fasilitas berstandar internasional mampu menciptakan ekosistem prestasi berkelanjutan. Keberhasilan GOR Wibawa Mukti jadi tuan rumah berturut-turut membuktikan bahwa investasi infrastruktur olahraga berkualitas bukan sekadar bangunan, tapi katalisator tumbuhnya basis atlet. Tantangan utama kini bukan fasilitas, tapi ekspansi partisipasi provinsi dan kedalaman pool atlet — hal krusial mengingat squash baru masuk program Olimpiade 2028 dan butuh regenerasi masif untuk bersaing di kancah dunia. Bagi pembaca dan industri olahraga, ini jadi studi kasus nyata: pembinaan berbasis daerah dengan komitmen jangka panjanglah kunci emas, bukan sekadar kebijakan sentralistik.

Sumber Asli
ANTARA News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit