Petenis putri Indonesia Janice Tjen mencatatkan kemenangan dramatis di perempat final ganda Mubadala Citi DC Open 2026 di Washington, Amerika Serikat. Bersama pasangannya dari China, Zhang Shuai, Janice bangkit dari ketertinggalan untuk menundukkan duet Jepang-Meksiko, Miyu Kato dan Giuliana Olmos, dengan skor 4-6, 6-2, 10-0.
Pertandingan yang berlangsung selama satu jam 19 menit itu berjalan sangat ketat di awal. Janice dan Zhang, yang menempati status unggulan ketiga, gagal mengamankan set pertama setelah Kato/Olmos merebut dua gim penutup untuk menang 6-4. Namun, mentalitas juara pasangan Asia ini tidak goyah.
Di set kedua, strategi permainan berubah total. Janice/Zhang tampil jauh lebih agresif sejak peluit awal, memanfaatkan dua kesempatan break servis untuk membuka keunggulan. Tekanan berkelanjutan itu membuahkan hasil: set kedua dimenangi 6-2, menyamakan kedudukan secara keseluruhan.
Semua pihak kemudian menantikan super tie-break penentu. Apa yang terjadi di sana sungguh luar biasa. Janice dan Zhang menyapu bersih sepuluh poin secara beruntun, tanpa memberi satu pun kesempatan bagi Kato/Olmos untuk mencetak angka. Kemenangan 10-0 di super tie-break menutup pertandingan dengan cara yang sangat meyakinkan.
Statistik laga menunjukkan dominasi Janice/Zhang di sektor servis. Mereka mencatatkan tiga ace, berbanding nol yang dibukukan lawan. Dari 122 total poin yang diperebutkan, pasangan unggulan ketiga itu menguasai 67 poin. Convert rate break point juga tergolong efisien: empat dari 12 peluang berhasil dikonversi menjadi poin.
Kemenangan ini memperpanjang tren positif Janice/Zhang di turnamen WTA 500 tersebut. Di babak kedua, mereka sudah lebih dulu menyingkirkan pasangan Kamilla Rakhimova dan Fang-Hsien Wu dalam dua set langsung. Dua kemenangan beruntun itu menunjukkan kematangan komunikasi dan chemistry keduanya di lapangan.
Perjalanan Janice di DC Open 2026 menjadi bukti nyata perkembangan pesat petenis Indonesia di level internasional. Bersama Zhang Shuai, mantan petenis peringkat satu dunia ganda yang sudah malang-melintang di turnamen elit, Janice mendapat kesempatan belajar dari pengalaman kelas atas sekaligus menunjukkan kualitasnya sendiri.
Di semifinal, Janice/Zhang sudah menunggu pemenang antara unggulan pertama Sara Errani/Nicole Melichar-Martinez melawan Kleplac/Ninomiya. Apapun hasilnya, lawan yang dihadapi dipastikan berpengalaman di panggung besar. Namun, momentum yang sedang dibangun pasangan ini memberikan optimisme tersendiri.
Bagi komunitas tenis Indonesia, pencapaian Janice menjadi inspirasi tersendiri. Dalam satu dekade terakhir, jumlah petenis Indonesia yang mampu bertahan di tur WTA semakin terbatas. Keberhasilan Janice melangkah jauh di turnamen kategori WTA 500 menegaskan bahwa investasi dalam pengembangan atlet tenis berpotensi membuahkan hasil di kancah global.
Sebagai informasi, DC Open merupakan salah satu turnamen pemanasan jelang US Open, Grand Slam terakhir musim ini. Konsistensi di turnamen sekelas ini akan menjadi modal berharga bagi Janice untuk merangkak naik di ranking ganda dunia dan membuka peluang tampil lebih sering di turnamen atas.
Janice Tjen, yang sebelumnya juga dikenal sebagai partner Aldila Sutjiadi di sektor ganda, menunjukkan fleksibilitas tinggi dengan mampu beradaptasi bersama mitra berbeda. Kemampuan berkolaborasi dengan Zhang Shuai yang memiliki gaya bermain berbeda menjadi nilai tambah signifikan dalam karier profesionalnya.
Ke depannya, performa gemilang di DC Open berpotensi menjadi batu loncatan bagi Janice. Jika mampu menembus final atau bahkan meraih gelar, peringkat dunianya dipastikan akan melonjak signifikan. Hal itu sekaligus membuka peluang lebih besar untuk berpartisipasi di turnamen WTA 1000 dan Grand Slam di musim-musim mendatang.