Tenis

Janice Tjen Gugur di Toronto Open, Rekor Buruk vs Samsonova Terus Berlanjut

Ringkasan

  • Petenis Indonesia Janice Tjen dikalahkan Liudmila Samsonova 6-7(9-11), 5-7 di babak pertama WTA Toronto Open, Selasa dini hari WIB, memperpanjang catatan kekalahan jadi 0-3.

Janice Tjen harus puas menelan pil pahit di debutnya di WTA Toronto Open 2025. Di hadapan penonton Kanada, petenis berusia 21 tahun itu tumbang di tangan Liudmila Samsonova, nomor 14 dunia, setelah dua set yang berlangsung sangat sengit hingga menit-menit terakhir. Skor akhir 6-7(9-11), 5-7 mencerminkan seberapa ketat pertarungan itu, namun hasilnya tetap sama: Janice belum pernah menaklukkan petenis Rusia tersebut dalam tiga kali pertemuan.

Laga yang berlangsung di Court 6 Aviva Centre memang menawarkan drama penuh. Set pertama berjalan pada garis tipis hingga 6-6, memaksa tie-break di mana Janice sempat memegang set point. Sayangnya, Samsonova menunjukkan mental baja di poin-poin krusial, menutup tie-break 11-9 usai Janice melakukan double fault di poin ke-20. Momentum itu dibawa Samsonova ke set kedua, di mana ia berhasil break serve Janice di game ke-12 usai pemain Indonesia melakukan kesalahan tidak terpaksa di baseline.

Kekalahan ini menambah deretan catatan buruk Janice melawan Samsonova. Dua duel sebelumnya — di Madrid Open 2024 dan Abu Dhabi Open 2025 — berakhir dengan skor yang lebih lopsided: 1-6, 2-6 dan 3-6, 4-6. Perbedaan nyata di Toronto adalah tingkat ketatnya laga. Janice berhasil mendorong Samsonova ke batas kemampuan, memaksa 22 game di set pertama dan 12 game di set kedua. "Ini pertarungan paling sengit yang pernah saya berikan padanya," ujar Janice dalam konferensi pers pasca laga, seperti dikutip situs resmi WTA.

Konteks turnamen ini tidak bisa dipisahkan dari jalur persiapan US Open. Toronto Open dan Cincinnati Open minggu depan merupakan dua turnamen WTA 1000 bergengsi yang menjadi uji coba final sebelum grand slam terakhir tahunan bergulir di Flushing Meadows mulai 30 Agustus. Janice sendiri memiliki kenangan manis di New York: tahun lalu ia meloloskan kualifikasi dan menembus babak kedua, prestasi yang melonjakkan namanya ke permukaan Classement WTA.

Posisi ranking saat ini — nomor 36 dunia — menempatkan Janice di ambang zona 30 besar. Masuk ke top 30 berarti seeding yang lebih menguntungkan di grand slam, menghindari lawan top seed di babak awal. Setiap poin di turnamen WTA 1000 bernilai emas: kemenangan di babak pertama Toronto saja bernilai 65 poin, sedangkan finalis bisa mengumpulkan 650 poin. Kekalahan dini ini berarti Janice harus berburu poin di Cincinnati dengan tekanan yang lebih besar.

Dari perspektif tenis Indonesia, performa Janice di Toronto menimbulkan evaluasi teknis yang mendalam. Meskipun skor dekat, statistik laga menunjukkan kesenjangan di aspek kunci: Samsonova mencatat 73 persen poin di first serve, sementara Janice hanya 58 persen. Petenis Rusia juga lebih agresif dengan 31 winner melawan 18, dan memaksa 22 kesalahan tidak terpaksa dari lawannya. Data ini mengindikasikan bahwa Janice masih perlu meningkatkan konsistensi servis pertama dan kemampuan mengendalikan poin dari baseline untuk bersaing setara dengan pemain top 20.

Pelatih Timnas Tenis Indonesia, Suwandi, yang mengawasi perkembangan Janice dari jarak jauh, menilai ada progress meski hasilnya kekalahan. "Level ketatnya laga ini jauh lebih baik dari Madrid dan Abu Dhabi. Janice sudah bisa mempertahankan serve lebih lama dan memaksa lawan bermain tambahan. Yang hilang hanyalah eksekusi di poin-poin besar," ujar mantan petenis Sea Games itu via WhatsApp, Senin malam. Suwandi menambahkan, fokus latihan minggu ini akan diarahkan pada return serve dan mental toughness di deuce-ad court.

Jadwal padat menanti. Cincinnati Open berlangsung 11-17 Agustus, hanya satu minggu setelah Toronto. Janice harus memutuskan apakah akan main kualifikasi atau memanfaatkan protected ranking untuk masuk main draw langsung. Keputusan ini akan dibahas dengan tim coaching dan manajemen PT PBI (Persatuan Tenis Indonesia) dalam 48 jam ke depan. Faktor kelelahan dan recovery jadi pertimbangan utama, mengingat laga vs Samsonova berlangsung 2 jam 18 menit di suhu 28 derajat Celsius dengan kelembaban tinggi.

Sejarah menunjukkan pola menarik: di 2024, Janice memilih main kualifikasi di Cincinnati, lolos, lalu menembus babak kedua US Open. Jika pola itu diulang, tekanan mental justru bisa jadi motivasi. Namun lawan di Cincinnati tidak akan lebih mudah — main draw dipastikan dipenuhi 32 pemain top dunia termasuk Aryna Sabalenka, Iga Swiatek, dan Coco Gauff. Setiap match jadi final sebelum final.

Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Janice di Toronto bukan sekadar kekalahan. Ini adalah bukti bahwa jarak antara pemain Indonesia dengan elite dunia semakin menyusut, meski belum tertutup sepenuhnya. Poin-poin deket vs Samsonova — yang pernah juara Wimbledon 2023 di ganda — membuktikan Janice memiliki senjata untuk bersaing di level tertinggi. Kunci berikutnya: mengubah "hampir menang" jadi "menang" di momen yang menentukan.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan Janice di Toronto mengungkap realitas keras: meski level permainan naik drastis, mental dan eksekusi di poin krusial masih jadi celah besar lawan top 20. Bagi ekosistem tenis Indonesia, ini jadi momentum evaluasi — bukan hanya soal latihan fisik, tapi pengelolaan jadwal turnamen, pemilihan lawan di kualifikasi, dan investasi sports science yang selama ini minim. Jika Janice gagal menembus top 30 sebelum US Open, Indonesia kehilangan peluang seeding yang bisa membuka jalan lebih jauh di grand slam — dan itu berarti hilangnya poin ranking, prize money, serta eksposur sponsor yang vital untuk regenerasi atlet muda.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
3 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit