Janice Tjen menolak menyerah meski perjalanannya di nomor tunggal US Open 2026 berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Petenis berusia 23 tahun itu dijadwalkan kembali ke lapangan pada Kamis (3/9) pukul 22.00 WIB untuk memulai kampanye ganda putri bersama Leylah Fernandez, juara US Open 2021. Lawan mereka adalah pasangan Prancis-Belgia, Isabelle Haverlag dan Nika Radisic, yang menunggu di babak pertama.
Kekalahan di tangan Mirra Andreeva, unggulan kelima asal Rusia, memang menyisakan catatan pahit. Skor 6-2, 6-2 mencerminkan dominasi Andreeva yang memanfaatkan keempat peluang break point dengan sempurna, sementara Janice tidak sekali pun mengancam servis lawan. Namun, statistik itu tidak menceritakan seluruh cerita: pada awal set pertama, Janice sempat menyamakan skor 2-2 sebelum Andreeva menggeram dengan empat gim beruntun.
Transisi ke sektor ganda bukan sekadar rencana cadangan. Bagi Janice, nomor ganda telah menjadi ladang yang lebih familiar. Bersama Fernandez, dia memiliki kombinasi servis-volei agresif dari sisi Kanada dan konsistensi baseline dari sisi Indonesia. Pasangan ini pernah meraih gelaran di turnamen WTA 125K Montevideo akhir 2025, membuktikan kimia mereka di lapangan keras.
Haverlag dan Radisic sendiri bukan lawan yang bisa diremehkan. Haverlag, berusia 25 tahun, memiliki pengalaman bermain di babak kedua Grand Slam Wimbledon 2023. Radisic, lebih muda dua tahun, dikenal dengan refleks cepat di net. Kedua pemain ini terbiasa berpasangan di sirkuit ITF dan WTA 250, membuat mereka tim yang terkoordinasi.
Bagi tenis Indonesia, kehadiran Janice di ganda putri Grand Slam menandakan perkembangan sistematis. Sejak era Yayuk Basuki dan Romana Tedjakusuma, jarang petenis putri Indonesia konsisten menembus babak utama ganda di keempat major. Janice, yang mencapai ranking karir tertinggi di posisi 142 dunia pada Juli 2026, membuktikan jalur pengembangan melalui sirkuit ITF W100 dan WTA 125K mulai membuahkan hasil.
Pelatih PBSI, Suwandi, menilai pengalaman bermain di Louis Armstrong Stadium — meski berakhir kekalahan — sebagai investasi jangka panjang. "Tekanan bermain di stadion besar terhadap unggulan dunia berbeda total dengan turnamen level bawah. Janice belajar mengelola emosi dan menyesuaikan tempo permainan," ujar Suwandi saat dihubungi terpisah. Ia menambahkan, fokus kini dialihkan ke peningkatan persentase first serve dan variasi return.
Dari sisi komersial, keberlangsungan Janice di US Open — meski hanya di satu sektor — berarti eksposur merek sponsor Indonesia tetap terlihat di layar global. Logo BRI, Pegadaian, dan Bank Mandiri yang menempel di pakaian dan topi Janice terus tayang selama siaran langsung ESPN dan Disney+ Hotstar. Ini nilai tambah yang tidak bisa diukur hanya dari prize money.
Jadwal padat menanti. Jika lolos babak pertama, Janice dan Fernandez berpotensi menghadapi unggulan nomor dua, Gabriela Dabrowski dan Erin Routliffe, di babak 16 besar. Tantangan fisik dan mental akan meningkat drastis. Janice harus memanajemen pemulihan antara laga tunggal yang berlangsung Rabu (2/9) sore waktu setempat dan laga ganda Kamis malam.
Sejarah mencatat, terakhir kali petenis Indonesia menembus perempat final ganda putri US Open adalah Yayuk Basuki bersama Nana Miyagi pada 1997. Jarak 29 tahun itu menjadi target tidak tertulis bagi Janice. Dengan gaya permainan yang mengandalkan placement daripada power, dia cocok beradaptasi dengan format ganda yang lebih cepat dan menuntut kemampuan baca permainan tajam.
Kemenangan atas Haverlag dan Radisic akan membuka peluang Janice memperoleh poin ranking WTA ganda yang signifikan. Saat ini dia menduduki posisi 87 dunia di klasemen ganda, jauh lebih tinggi dibanding ranking tunggalnya. Naik ke top 50 berarti akses langsung ke main draw Grand Slam tanpa melalui kualifikasi — langkah krusial untuk karir jangka panjang.
Di luar lapangan, perjuangan Janice menginspirasi generasi muda tenis Indonesia. Akademi Tenis Indonesia di Jakarta melaporkan peningkatan pendaftaran anak-anak usia 8-12 tahun sebesar 18 persen sejak Janice debut di Australian Open 2025. Fenomena "efek Janice" nyata terasa di lapangan berlapis keras sekolah-sekolah menengah di Jabodetabek.
Langkah selanjutnya jelas: menaklukkan babak pertama ganda, lalu mengejar sejauh mana kemampuan berpasangan dengan Fernandez. US Open 2026 belum berakhir bagi Janice Tjen — malah baru dimulai dari sudut yang berbeda.