Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, melontarkan kritik tajam terhadap jadwal Piala Presiden 2026. Pria asal Portugal itu menilai rentang waktu antarlaga terlalu singkat, sehingga menyulitkan timnya melakukan pemulihan fisik. Ia juga khawatir para pemainnya semakin rentan cedera.
Keluhan itu disampaikan Tavares usai Persebaya menjalani tiga pertandingan fase grup dengan intensitas tinggi. Anak asuhnya bertemu Persija Jakarta, PSMS Medan, dan Port FC hanya dalam tempo tujuh hari. Jadwal padat itu membuat skuad Bajul Ijo harus bekerja ekstra keras untuk menjaga kebugaran.
"Ini faktanya, kami mulai bermain pada 26, 29 Juli, kemudian 1 Agustus. Lihat perbedaan intensitasnya, sangat tinggi, terutama pertandingan hari ini," kata Tavares, Sabtu (1/8) malam.
Ia menjelaskan, jeda pemulihan yang minim memaksa staf pelatih melakukan rotasi besar-besaran. Menurutnya, keputusan itu bukan tanpa risiko, karena bisa mengganggu ritme permainan tim. Namun, ia menegaskan bahwa rotasi adalah jalan keluar paling aman untuk mencegah cedera beruntun.
"Kami mencoba melakukan pergantian pemain, karena jika tidak, kemungkinan lebih banyak pemain mengalami cedera akan semakin tinggi," ucapnya.
Situasi makin rumit karena pertandingan digelar larut malam. Tavares mengungkapkan, para pemain baru tiba di rumah masing-masing menjelang dini hari. Akibatnya, waktu istirahat mereka berkurang drastis, dan proses pemulihan baru bisa dimulai pada malam berikutnya.
"Para pemain tiba di rumah mungkin tengah malam atau pukul 01.00. Setelah pertandingan mereka tidak akan langsung tidur. Jadi, mereka mungkin baru bisa pemulihan pada malam berikutnya," jelas Tavares.
Keluhan ini sebenarnya bukan hal baru dalam sepak bola Indonesia. Masalah jadwal padat kerap menjadi momok, terutama saat turnamen pramusim melibatkan banyak tim. Padahal, Piala Presiden seharusnya menjadi ajang pemanasan yang ideal sebelum kompetisi resmi bergulir.
Jika jadwal terus dipaksakan tanpa memperhatikan aspek pemulihan, kualitas permainan tim-tim peserta berpotensi menurun. Para pelatih juga akan lebih sering mengorbankan sisi taktik demi menjaga kondisi fisik pemain. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merugikan sepak bola nasional, terutama untuk klub yang mengandalkan pemain muda.
Persebaya sendiri berhasil melewati fase grup dengan sempurna. Mereka lolos ke semifinal sebagai juara Grup B dengan koleksi sembilan poin. Namun, keberhasilan itu diiringi kelelahan yang menumpuk di skuad.
Tavares berharap panitia bisa memberikan jeda lebih panjang pada babak semifinal. Ia menilai setiap tim membutuhkan waktu cukup untuk memulihkan kondisi fisik sekaligus menggelar sesi latihan. "Inilah jadwal yang diberikan kepada kami oleh Piala Presiden. Jadi, kami harus bermain dengan aturan yang diberikan kepada kami. Namun ke depan, semoga ada perbaikan," ujarnya.
Persebaya dijadwalkan bertemu Arema FC pada babak semifinal, Selasa (4/8). Laga ini diprediksi berjalan sengit, mengingat rivalitas kedua tim sudah terkenal panas. Dengan kondisi pemain yang tidak seratus persen fit, duel melawan Arema akan menjadi ujian terbesar bagi Tavares.
Di sisi lain, kritik Tavares juga menjadi pengingat bagi penyelenggara bahwa kesehatan pemain harus menjadi prioritas utama. Turnamen sepak bola profesional tidak hanya menuntut kualitas pertandingan, tetapi juga manajemen jadwal yang berpihak pada keselamatan atlet. Jika tidak, performa tim-tim Indonesia di kancah Asia akan terus tertinggal.