FIFA memutuskan memperpanjang jeda babak pertama final Piala Dunia 2026 hingga antara 20 hingga 25 menit, melampaui batas standar 15 menit yang ditetapkan International Football Association Board (Ifab). Keputusan ini diambil untuk mengakomodasi pertunjukan hiburan bergaya Super Bowl berdurasi 11 menit yang akan menampilkan deretan bintang internasional di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7) waktu setempat.
Sumber internal FIFA mengindikasikan jeda akan berlangsung sekitar 20 menit, meski ada opsi mempertahankan istirahat normal 15 menit diikuti pertunjukan 11 menit. Aturan Ifab secara tegas menyatakan pemain berhak atas istirahat "tidak melebihi 15 menit", namun FIFA tampak mengesampingkan ketentuan ini demi kepentingan komersial dan hiburan. Final akan dimulai pukul 15.00 waktu setempat (20.00 WIB), sedangkan penutupan upacara pembukaan dijadwal pukul 13.30 waktu setempat.
Latar belakang keputusan ini terlihat jelas sejak final Club World Cup 2025 yang juga dihelat di New Jersey. Saat itu, jeda babak pertama memakan waktu 24 menit penuh untuk pertunjukan Coldplay, J Balvin, Doja Cat, Tems, dan Emmanuel Kelly. FIFA tampak ingin mereplikasi formula tersebut dengan skala lebih besar, mengubah final Piala Dunia menjadi panggung hiburan global yang menyaingi Super Bowl NFL.
Daftar bintang yang tampil semakin meyakinkan ambisi ini. Madonna dan Shakira — dua ikon musik global dengan pengalaman tampil di Super Bowl — dipasangkan dengan BTS, grup K-pop paling berpengaruh dekade ini. Justin Bieber baru saja ditambahkan ke liniup, bersama Burna Boy, konduktor Gustavo Dudamel, PS22 Chorus, dan Coldplay yang dikuratori Chris Martin. Upacara penutupan pun tidak kalah megah: Tom Cruise, Laura Pausini, Nicole Scherzinger, Robbie Williams, dan kreator konten IShowSpeed, dengan Jennifer Hudson menyanyikan lagu kebangsaan AS.
Dampak bagi penonton Indonesia signifikan. Final berlangsung pukul 02.00 WIB dini hari Senin, sedangkan pertunjukan babak pertama diperkirakan dimulai pukul 03.30 WIB. Para penggemar sepak bola murni harus menunggu lebih lama untuk melihat babak kedua, sementara penonton hiburan justru mendapat bonus. Pergeseran ini mencerminkan tren industri: sepak bola tidak lagi sekadar pertandingan, melainkan "acara" (event) yang dijual ke penonton global melalui streaming dan sponsor.
Di sisi lain, keputusan ini menimbulkan protes kalangan puris dan pelatih. Manajer tim khawatir ritme pemain terganggu karena pendinginan otot selama 25 menit — jauh lebih lama dari standar fisiologis. Beberapa pelatih klub Eropa sudah mengeluhkan kepadatan jadwal, dan perpanjangan jeda demi hiburan justru menambah beban fisik. Ifab hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi soal pelanggaran aturan ini.
Kendati demikian, FIFA tampak tidak peduli. Presiden Gianni Infantino sejak lama mendorong "modernisasi" Piala Dunia agar menarik generasi muda yang terbiasa dengan konten pendek dan hiburan instan. Kolaborasi dengan Chris Martin sebagai kurator pertunjukan menandakan FIFA merekrut industri musik mainstream untuk merancang pengalaman menonton. Ini bukan sekadar istirahat — ini produksi televisi.
Perbandingan dengan Liga 1 Indonesia menarik. Di liga domestik, jeda babak pertama tetap 15 menit, sering diisi wawancara singkat atau promosi sponsor. Belum ada upaya memanjangkan jeda untuk hiburan skala besar, mengingat keterbatasan anggaran dan jadwal siaran TV. Namun, tren global ini bisa jadi referensi jika Liga 1 ingin menarik penonton muda dan sponsor internasional di masa depan.
Sementara itu, final akan mempertemukan Spanyol yang mengalahkan Prancis 2-0 di Dallas, melawan pemenang semifinal England vs Argentina di Atlanta. Spanyol berpeluang merebut gelar keempat mereka, sementara England mencari gelar pertama sejak 1966. Argentina, juara 2022, berusaha mempertahankan kejuaraan. Narasi sportif ini justru tergeser oleh pesta bintang di pinggir lapangan.
Ke depan, model ini kemungkinan besar menjadi standar. FIFA sudah menjual hak siaran final 2026 dengan paket hiburan terintegrasi. Sponsor global seperti Adidas, Coca-Cola, dan Visa pasti menuntut eksposur maksimal selama 25 menit emas itu. Jika final 2026 sukses rating, jangan heran jika Piala Dunia 2030 di Maroko-Spanyol-Portugal menerapkan format serupa — bahkan mungkin lebih lama.
Bagi penonton Indonesia, pilihan jelas: bangun dini hari untuk menonton sepak bola murni, atau menikmati pesta bintang global sebagai bonus. FIFA sudah memilih jalan kedua. Sepak bola modern bukan lagi soal 90 menit di lapangan — tapi soal berapa lama penonton mau duduk di depan layar.