Olahraga

Ismail Elfath Pimpin Semifinal Piala Dunia 2026 Inggris Kontra Argentina

Ringkasan

  • FIFA menunjuk Ismail Elfath (AS) memimpin semifinal Piala Dunia 2026 Inggris vs Argentina di Mercedes-Benz Stadium pada Kamis (16/7) dini hari WIB.

FIFA resmi menunjuk Ismail Elfath, wasit berkebangsaan Amerika Serikat, sebagai pengadil lapangan untuk laga semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Inggris dan Argentina. Pertandingan bergengsi tersebut akan berlangsung di Mercedes-Benz Stadium pada Kamis (16/7) dini hari WIB.

Elfath, yang kini berusia 44 tahun, tidak akan bekerja sendirian. Ia didampingi oleh dua hakim garis senegaranya, Corey Parker dan Kyle Atkins. Penunjukan ini menjadikan Elfath sebagai wasit kedua dari konfederasi Concacaf yang dipercaya memimpin pertandingan babak empat besar.

Sebelumnya, FIFA telah menugaskan Ivan Barton dari El Salvador untuk mengawal laga semifinal lainnya antara Prancis melawan Spanyol di Arlington, Texas. Kehadiran dua wasit Concacaf di panggung semifinal menunjukkan kepercayaan federasi sepak bola dunia terhadap kualitas officiating di wilayah Amerika Utara, Tengah, dan Karibia.

Sepanjang gelaran Piala Dunia 2026, Elfath tercatat telah memimpin tiga pertandingan fase grup dan knockout. Ia memimpin laga Jepang versus Belanda, Uruguay kontra Spanyol, serta Brasil menghadapi Norwegia. Dari ketiga pertandingan tersebut, ia telah mengeluarkan enam kartu kuning dan satu kartu merah yang dijatuhkan kepada pemain Uruguay, Agustin Canobbio.

Laga Inggris versus Argentina sendiri menyimpan sejarah panjang yang sarat dengan kontroversi. Pertemuan kali ini menjadi yang pertama sejak laga uji coba pada 2005 silam, sekaligus bentrokan perdana di panggung Piala Dunia sejak edisi 2002. Pecinta sepak bola pasti masih ingat gol ikonik “Tangan Tuhan” milik Diego Maradona pada 1986, hingga kartu merah dramatis David Beckham akibat menendang Diego Simeone di edisi 1998.

Tugas berat menanti Elfath. Pasalnya, langkah sang juara bertahan Argentina menuju babak semifinal kali ini terus diiringi serangkaian keputusan wasit dan Video Assistant Referee (VAR) yang memicu perdebatan tajam di kalangan pecinta sepak bola global. Teknologi VAR, yang sejatinya dirancang untuk meminimalisir kesalahan manusia, justru menjadi sumber polemik bagi La Albiceleste.

Beberapa momen krusial yang dianggap menguntungkan Argentina antara lain kelolosan Lionel Messi dari hukuman kartu merah. Megabintang tersebut luput dari pengusiran wasit meski melakukan pelanggaran keras terhadap Aissa Mandi di laga pembuka fase grup. Situasi ini memunculkan tanda tanya mengenai standar penerapan aturan pelanggaran keras di turnamen ini.

Kontroversi berlanjut di babak perempat final melalui skandal kartu merah Swiss. Intervensi VAR membatalkan hukuman kartu terhadap Leandro Paredes, namun justru mengganjar striker Swiss Breel Embolo dengan kartu kuning kedua melalui aturan mistaken identity. Kesalahan identitas tersebut menjadi catatan buruk implementasi teknologi bantu wasit di ajang empat tahunan ini.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka menyebut timnya menjadi korban ketidakadilan setelah VAR menganulir gol krusial saat mereka kalah 3-2 di babak 16 besar. Ucapan pelatih berpaspor Mesir itu mencerminkan kekecewaan luas terhadap inkonsistensi arbitrase yang dinilai terlalu memihak juara bertahan.

Di tanah air, teknologi VAR memang sudah diterapkan di Liga 1, namun belum setransparan di kompetisi Eropa atau Piala Dunia. Minimnya publikasi proses review VAR kepada penonton membuat kepercayaan terhadap wasit kerap goyah, sebagaimana kerap terjadi pada duel big match lokal yang memicu protes keras klub.

Kasus mistaken identity yang menimpa Embolo seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa sistem apa pun membutuhkan human oversight yang presisi dan terlatih. Tensi tinggi partai Inggris vs Argentina dipastikan akan memaksa Elfath bekerja ekstra keras dan menunjukkan otoritas mutlak sejak menit pertama.

Ke depannya, laga ini mungkin menjadi titik balik bagi FIFA dalam mengevaluasi protokol VAR secara komprehensif. Jika kontroversi serupa kembali terjadi di semifinal, tekanan untuk merevisi sistem arbitrase akan semakin kuat, sementara penggemar di Tanah Air akan menyimak bagaimana inovasi wasit berpadu dengan atletik level tertinggi.

Mengapa Ini Penting

Kontroversi VAR yang menyertai langkah Argentina menunjukkan bahwa teknologi arbitrase belum sepenuhnya mampu menghilangkan bias dan kesalahan manusiawi di level tertinggi, sebuah pelajaran krusial bagi ekosistem sepak bola Indonesia yang masih berupaya mematangkan integrasi VAR di Liga 1. Penunjukan wasit Concacaf juga mencerminkan pergeseran kekuatan geopolitik sepak bola seiring tuan rumah bersama 2026, yang berdampak pada standar rekrutmen officiating global. Penggemar di Tanah Air perlu menyadari bahwa transparansi proses review, bukan sekadar keberadaan teknologi, yang menjadi kunci meminimalisir kerusuhan narasi usai pertandingan.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit