Argentina memastikan kehadirannya di semifinal Piala Dunia 2026 usai mengatasi perlawanan sengit dari Swiss dengan kemenangan 3-1 di Stadion Kansas City, Missouri, Minggu (12/7) pagi WIB. Kemenangan itu mengantarkan La Albiceleste ke laga puncak melawan Inggris, yang berlangsung pada Kamis (16/7) pukul 02.00 WIB di Stadion Atlanta, AS — sebuah pertemuan yang segera merebut perhatian dunia sepak bola karena beban sejarah dan narasi dramatis yang menyertainya.
Sang juara bertahan tampil dominan sejak awal melalui gol cepat Alexis Mac Allister pada menit ke-9, memanfaatkan kebocoran pertahanan Swiss usai corner. Namun Swiss tidak menyerah dan menyamakan kedudukan 1-1 lewat Dan Ndoye pada menit ke-67, memanfaatkan kala bola mati yang tidak tertangani rapi oleh Emiliano Martinez. Titik balik datang dua menit kemudian ketika Breel Embolo menerima kartu merah langsung usai entrada berbahaya ke Lisandro Martinez, memaksa Swiss bermain 10 pemain.
Dalam keadaan superioritas numerik, Argentina mengunci kemenangan di babak perpanjangan waktu. Julián Álvarez, yang masuk sebagai pengganti, mencetak gol keuntungan pada menit ke-112 dengan finishing lincah di kotak penalti usai assist Lionel Messi. Lautaro Martínez kemudian menutup skor 3-1 di menit terakhir usai konter kilat, memastikan Argentina melangkah tanpa drama berlebihan meskipun harus bekerja keras 120 menit.
Di sisi lain, Inggris harus berjuang keras untuk menundukkan Norwegia 2-1 di Stadion Miami. The Three Lions tertinggal lebih dulu usai Andreas Schjelderup mengejutkan Jordan Pickford dengan tendangan jauh pada menit ke-36. Jude Bellingham kemudian muncul sebagai penyelamat, mencetak dua gol — pertama lewat header pada menit ke-58 usai cross Luke Shaw, dan kedua via penalti kontroversial pada menit ke-89 setelah Erling Haaland dinilai melakukan pelanggaran di kotak penalti. Kemenangan itu mengakhiri puasa semifinal Inggris sejak 2018.
Pertemuan Inggris vs Argentina di panggung Piala Dunia selalu membawa narasi yang melampaui 90 menit bermain. Sejarah mencatat laga legendaris 1986 di Meksiko, di mana Diego Maradona mencetak "Gol Tangan Tuhan" dan "Gol Abad" dalam rentang empat menit, mengantar Argentina ke final dan akhirnya gelar juara. Tiga belas tahun kemudian, pertemuan 1998 di Prancis memunculkan drama kartu merah David Beckham usai tendangan ke Diego Simeone, dengan Argentina lolos lewat adu penalti. Laga 2002 di Sapporo lalu melihat Michael Owen mencetak penalti kemenangan usai tendangan Mauricio Pochettino.
Kali ini, konteksnya berbeda namun tak kalah dramatis. Argentina datang sebagai juara bertahan dengan Lionel Messi yang kemungkinan besar menjalani turnamen besar terakhirnya di usia 39 tahun. La Pulga, meskipun tidak mencetak gol melawan Swiss, tetap menjadi jantung tim dengan visi permainan dan kemampuan menciptakan peluang. Di sisi lain, Inggris dibawa generasi emas baru angepimpin Jude Bellingham, Harry Kane, dan Bukayo Saka — tim yang mencari gelar dunia pertama sejak 1966 di bawah manajemen Thomas Tuchel.
Secara taktis, laga semifinal ini menjanjikan pertarungan menarik. Argentina di bawah Lionel Scaloni cenderung bermain kontrol dengan transisi cepat, mengandalkan kreativitas Messi dan kecepatan Álvarez serta Nico Williams di sayap. Pertahanan yang dipimpin Cristian Romero dan Lisandro Martinez dikenal fisik dan agresif. Inggris meanwhile menerapkan sistem 3-4-2-1 yang fleksibel, dengan Bellingham bebas bergerak di belakang Kane, didukung overlapping run dari Kyle Walker dan Luke Shaw. Kunci pertandingan kemungkinan besar terletak pada pertarungan tengah lapangan: apakah Enzo Fernández dan Mac Allister bisa menahan tekanan Declan Rice dan Bellingham.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini memiliki daya tarik khusus. Rivalitas sejarah, hadirnya bintang-bintang global seperti Messi dan Bellingham, serta jam tayang 02.00 WIB yang "ramah" untuk penonton Indonesia, membuat semifinal ini menjadi ajang nonton bareng yang dinanti. Media sosial Indonesia dipastikan akan bergemetar dengan debat soal "Gol Tangan Tuhan" versi modern, perbandingan generasi Maradona-Messi vs Lineker-Kane-Bellingham, dan prediksi siapa yang akan melangkah ke final di New Jersey. Industri broadcasting dan platform streaming domestik juga bersiap memanfaatkan momentum ini untuk akuisisi pelanggan baru.