Stadion Mercedes-Benz di Atlanta menyaksikan kekecewaan timnas Inggris untuk kali keempat berturut-turut gagal menembus final Piala Dunia. The Three Lions mengakhiri perjalanan mereka di babak semifinal usai dikalahkan Argentina 1-2, Kamis (16/7) dini hari WIB. Kekalahan itu tidak hanya mengakhiri mimpi gelar dunia kedua setelah 1966, tapi juga meletakkan posisi Thomas Tuchel di atas bara api.
Inggris sempat unggul 1-0 berkat gol Anthony Gordon pada menit ke-55, momentum yang sempat membuat penggemar berharap. Namun Argentina, yang dipandu Lionel Messi di usia 39 tahun, menunjukkan mentalitas juara. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan sebelum Lautaro Martinez menembakkan gol kemenangan yang mematikan. Dua gol balik dalam waktu singkat mengungkap kelemahan mental dan taktis tim Tuchel di menit-menit krusial.
Kegagalan di Atlanta menambah deretan kekecewaan Inggris di pesta besar. Sejak Euro 2020, timnas ini tiga kali gagal di babak final — dua kali di Euro dan sekali di Piala Dunia 2022. Kini, semifinal Piala Dunia 2026 jadi babak baru narasi "hampir tapi tidak cukup". Bagi federasi sepak bola Inggris (FA), kesabaran memiliki batas. Proyek Tuchel yang dimulai Januari 2025 dinilai belum memberikan hasil yang sepadan dengan investasi dan bakat pemain yang tersedia.
Di tengah gejolak, nama Pep Guardiola muncul sebagai kandidat utama menggantikan Tuchel. Bursa taruhan BetVictor, dikutip The Standard, menempatkan mantan pelatih Manchester City itu sebagai favorit utama jika kursi pelatih utama England kosong. Guardiola menganggur sejak mundur dari City musim lalu usai meraih treble historis. Reputasinya sebagai arsitek sepak bola modern membuatnya menjadi incaran banyak federasi, termasuk Italia yang baru mengangkat Paolo Maldini jadi direktur teknis, serta Jerman yang juga mempertimbangkan Jurgen Klopp.
Namun, Tuchel sendiri menolak mundur. Dalam konferensi pers pasca laga, pelatih kelahiran Krumbach itu menegaskan komitmen menyelesaikan kontrak hingga Euro 2028 di kandang sendiri. "Kami akan terus melanjutkan kontrak hingga Euro di kandang sendiri. Saya menantikan hal itu meskipun saat ini sulit untuk melihat sejauh itu ke depan," ujarnya dengan nada yang mencampurkan keyakinan dan realisme. Kontrak Tuchel berjalan hingga Juni 2028, dengan klausul pemutusan yang mahal bagi FA.
Dilema FA kini kompleks. Memecat Tuchel berarti membayar kompensasi besar dan memulai proyek baru hanya dua tahun sebelum Euro 2028. Di sisi lain, mempertahankannya berisiko melanjutkan stagnansi dengan tim yang terlihat kehilangan arah di menit-menit kritis. Beberapa mantan pemain Inggris seperti Gary Lineker dan Rio Ferdinand telah membuka suara di media sosial, menilai bahwa gaya main Inggris terlalu kaku dan kehilangan identitas di bawah Tuchel.
Dari sudut pandang taktis, kekalahan dari Argentina mengekspos masalah berulang: ketidakmampuan mengunci keunggulan dan kerapuhan transisi pertahanan. Gordon membuka keunggulan lewat konter cepat, tapi Inggris gagal memanfaatkan ruang yang terbuka usai gol. Sebaliknya, Argentina mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Inggris di mana Kyle Walker — berusia 36 tahun — kesulitan mengejar kecepatan pemain sayap lawan. Perubahan personel di menit-menit akhir pun tidak memberikan dampak signifikan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini relevan karena mengilustrasikan betapa tipisnya garis antara kesuksesan dan kegagalan di level tertinggi. Banyak anak muda Indonesia yang mengidolakan pemain Inggris seperti Jude Bellingham, Bukayo Saka, atau Cole Palmer. Kekalahan ini jadi pengingat bahwa bakat individu tidak cukup tanpa sistem yang koheren dan mentalitas juara — pelajaran yang berlaku untuk pengembangan sepak bola nasional kita sendiri.
Di tingkat klub, situasi Guardiola menarik perhatian. Jika benar ia menerima tawaran England, ini akan menjadi kali pertama pelatih Spanyol itu mengelola tim nasional. Gaya possession-based-nya yang membutuhkan waktu adaptasi panjang di level klub, dipertanyakan apakah efektif di level internasional dengan waktu latihan terbatas. Klopp, yang juga dikaitkan dengan Jerman, menawarkan profil berbeda: manajemen emosional dan transisi cepat yang cocok dengan karakter Die Mannschaft.
Langkah selanjutnya FA akan menentukan arah sepak bola Inggris untuk beberapa tahun ke depan. Rapat dewan FA dijadwalkan minggu depan untuk mengevaluasi kinerja Tuchel secara menyeluruh. Faktor kunci bukan hanya hasil di Atlanta, tapi juga perkembangan pemain muda, gaya bermain, dan keselarasan visi jangka panjang. Keputusan mereka akan menggelegar ruang ganti Wembley — dan mungkin mengubah lanskap manajerial sepak bola Eropa.
Sementara itu, Argentina melangkah ke final untuk menghadapi Prancis di perebutan gelar juara dunia. Messi, di usia senja karier, berpeluang menutup babak internasional dengan gelar kedua berturut-turut. Bagi Inggris, musim panas 2026 berakhir tidak dengan pesta, tapi dengan pertanyaan yang menunggu jawaban di meja dewan FA.