Tim nasional Inggris kembali harus menelan pil pahit di babak semifinal Piala Dunia 2026. Bertanding di Atlanta, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026) waktu setempat, Three Lions takluk 2-1 dari Argentina setelah sempat unggul lebih dulu. Gol Anthony Gordon pada menit ke-55 membawa Inggris bermimpi, tetapi dua gol balasan dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez (menit ke-90+2) menghancurkan harapan itu.
Kekalahan ini menambah daftar panjang kegagalan Inggris di momen krusial. Ini adalah kali kedua dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir mereka menyerah di semifinal—sebelumnya pada 2018 Kroasia yang menjadi algojo. Bek Newcastle United, Dan Burn, yang masuk sebagai pemain pengganti saat skor masih 1-0, mengungkapkan kekecewaannya. "Kami menjalankan rencana permainan dengan baik. Tapi setelah unggul, kami terlalu pasif, terlalu banyak memberikan umpan silang dan peluang. Ketika menghadapi tim sekualitas Argentina, kesalahan seperti itu akan berakibat fatal. Saya rasa kekalahan ini akan menghantui saya untuk waktu yang lama," ujar Burn kepada BBC Sport.
Pelatih Thomas Tuchel mengakui timnya kehilangan kendali setelah gol pertama. "Kami unggul, tapi justru itu mengubah momentum sepenuhnya ke arah mereka. Argentina bermain tanpa beban, mengambil semua risiko, dan kami tidak mampu menghentikan umpan silang serta pergerakan pemain di kotak penalti. Kami tidak cukup fisik, tidak bisa memenangi duel, dan kehilangan bola terus-menerus. Ini soal pergeseran momentum total dari gol kami sendiri," jelas Tuchel dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live.
Perjalanan Inggris menuju semifinal sebenarnya cukup impresif. Di babak 16 besar, mereka menyingkirkan Meksiko dengan skor 3-2 meski harus bermain dengan sepuluh pemain sejak paruh kedua. Lalu di perempat final, mereka menaklukkan Norwegia 2-1 dengan pertahanan yang solid. Namun, saat menghadapi juara bertahan Argentina, konsistensi itu lenyap. "Kami pikir bisa mempertahankan kotak penalti seperti laga-laga sebelumnya, tapi kenyataannya kami tidak sekompak yang diinginkan," tambah Burn.
Kapten Inggris Harry Kane menyebut kegagalan ini sebagai bagian dari masalah besar yang sudah membayangi tim dalam empat atau lima turnamen terakhir. "Kami unggul dan pantas menang selama 60 menit, lalu kesulitan memegang bola dan memberikan tekanan. Kami harus mencari cara untuk memperbaiki situasi seperti ini. Ini mungkin menjadi 'missing piece' yang terus menghantui kami," ujar Kane, yang kini mengoleksi enam gol di turnamen. Ia masih berpeluang memenangi Sepatu Emas, meski tertinggal dari Lionel Messi dan Kylian Mbappe yang sama-sama mengemas delapan gol.
Gelandang Jude Bellingham juga tak kuasa menyembunyikan kekecewaan. Ia ingin menjadi bagian dari skuad Inggris yang akhirnya mampu membawa pulang trofi. "Saya sangat ingin memberikan yang terbaik untuk para penggemar yang sudah menanti bertahun-tahun. Tapi kini saya harus mengatakan hal yang sama seperti yang selalu mereka dengar. Ini sangat menyakitkan," ucap pemain Real Madrid itu. Bellingham juga mencatatkan enam gol selama turnamen.
Dari sisi pemenang, Argentina kembali menunjukkan kelasnya sebagai juara bertahan. Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun masih menjadi motor permainan dengan dua assist. Kerja samanya dengan Lautaro Martinez kembali menjadi momok bagi pertahanan lawan. Kemenangan ini juga menjadi semacam balas dendam atas kekalahan Argentina di final Piala Dunia 2022 melawan Prancis.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Inggris ini memberikan pelajaran berharga. Kemampuan mempertahankan keunggulan dan ketenangan di bawah tekanan adalah aspek yang sering luput dari pembinaan pemain muda. Indonesia yang tengah giat membangun fondasi sepak bola bisa mencontoh mentalitas Argentina yang tidak pernah menyerah meskipun tertinggal. Sebaliknya, Inggris menunjukkan bahwa penguasaan permainan dan keunggulan tidak selalu menjamin kemenangan jika kepercayaan diri justru luntur setelah mencetak gol.
Thomas Tuchel dipastikan tetap menangani Inggris hingga setidaknya Piala Eropa 2028 yang akan menjadi tuan rumah bersama. PSSI dan federasi sepak bola dunia mungkin akan mengamati bagaimana Tuchel membangun kembali mentalitas tim. "Kami sangat dekat, tapi Argentina masih menunjukkan kesenjangan di 30 menit terakhir. Kami kecewa, tapi kami akan mencoba lagi," ujar Tuchel.
Inggris masih memiliki satu pertandingan tersisa: perebutan tempat ketiga melawan Prancis pada Sabtu (18/7/2026) yang akan disiarkan langsung BBC. Laga itu mungkin terasa pahit, namun bisa menjadi ajang pembuktian bahwa tim ini mampu bangkit. Sementara itu, Kane yang akan berusia 33 tahun pada musim panas ini belum mau berspekulasi soal masa depannya di timnas. "Empat tahun adalah waktu yang lama. Tapi seperti Leo Messi yang masih tampil hebat di usia 39, saya akan menjalani tahun demi tahun dulu," katanya.
Kekalahan ini menegaskan bahwa jalan menuju gelar juara bagi Inggris masih panjang. Investasi pada pembinaan usia muda dan penguatan mental juara harus terus dilakukan. Untuk Indonesia, momentum kebangkitan sepak bola nasional perlu diiringi dengan pembelajaran dari kegagalan dan kesuksesan negara lain. Bukan tidak mungkin, kelak Indonesia bisa tampil di panggung dunia dengan mentalitas baja seperti Argentina atau bahkan Inggris yang pantang menyerah.