Thomas Tuchel menghadapi semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina dengan kabar baik dari kandang Inggris. Hanya dua pemain yang tidak tersedia untuk laga di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, pada Rabu malam waktu setempat: Jordan Henderson yang masih pulih dari operasi patah tulang lengan dan Jarell Quansah yang menjalani sanksi kartu merah. Kedua cedera dan suspensi itu ditimbulkan dari laga perempat final melawan Meksiko beberapa hari lalu.
Ketersediaan penuh hampir seluruh skuad memberikan fleksibilitas taktis bagi Tuchel. Pelatih berkebangsaan Jerman itu belum pernah memasang belitan pertahanan yang sama dalam dua laga berturut-turut di turnamen ini, namun laporan BBC Sport mengindikasikan ia cenderung mempertahankan keempat orang yang memulai laga perempat final lawan Norwegia: Ezri Konsa, John Stones, Marc Guehi, dan Nico O'Reilly. Keempatnya dinilai beroperasi dengan baik dalam kemenangan 2-1 yang mengantarkan Inggris ke empat besar.
Keputusan mempertahankan belitan belakang itu tidak terlepas dari stabilitas yang ditunjukkan Stones dan Guehi di tengah, serta kontribusi ofensif Konsa dan O'Reilly di sayap. Stones, yang mengalami musim penuh tantangan di Manchester City, tampak menemukan ritme terbaiknya di turnamen ini. Sementara Guehi memanfaatkan pengalaman bermain di Liga Champions dengan Crystal Palace untuk menenangkan pertahanan di bawah tekanan Argentina yang diprediksi akan mengandalkan transisi cepat melalui Lionel Messi dan Julián Álvarez.
Kabar menggembirakan lainnya datang dari Declan Rice. Gelandang Arsenal itu terpaksa melewati persiapan optimal untuk laga lawan Norwegia karena sakit yang cukup parah. Namun pelaporan BBC Sport pada Senin lalu sudah mengisyaratkan kondisinya membaik, dan fakta Rice berlatih penuh pada Selasa memastikan kehadirannya di lini tengah. Kehadiran Rice krusial bukan hanya untuk melindungi pertahanan, tapi juga mengatur tempo permainan dan memecah pressing Argentina yang dikenal agresif.
Dengan Rice kembali, Tuchel punya opsi untuk memasangkan dia bersama Jude Bellingham dan Trent Alexander-Arnold di tengah, atau menurunkan Alexander-Arnold ke posisi bek kanan menggantikan Konsa jika ingin variasi atak. Fleksibilitas ini menjadi senjata ampuh menghadapi Argentina yang di bawah Lionel Scaloni bermain dengan sistem cair dan penuh rotasi posisi.
Dari perspektif Indonesia, laga ini menjadi momen sejarah yang langka: Inggris dan Argentina bertemu di semifinal Piala Dunia setelah 36 tahun pertemuan terakhir mereka di panggung senior — yakni di Piala Dunia 1990 di Napoli. Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang terbiasa menonton liga Eropa lewat layanan streaming, semifinal ini hadir di zona waktu yang relatif ramah: pukul 07.00 WIB Kamis pagi. Banyak komunitas penggemar klub Inggris di Jakarta, Surabaya, dan Bandung sudah merencanakan nonton bareng di kafe dan restoran yang buka dini hari.
Menariknya, narasi cedera Henderson mengingatkan pada pengalaman beberapa pemain Indonesia yang mengalami cedera serupa saat merayakan kemenangan. Kasus terbaru adalah Rizky Ridho yang patah tulang jari saat merayakan gol di Piala AFF 2024. Meskipun skala turnamen berbeda, hal ini menyoroti pentingnya manajemen emosi dan protokol perayaan yang aman — topik yang mulai dibahas di kalangan staf medis PSSI dan klub-klub Liga 1.
Sementara Quansah, bek muda Liverpool berusia 21 tahun, kehilangan momen emas karirnya akibat kartu merah yang banyak dinilai keras oleh pengamat. Insiden ini memicu diskusi di media sosial Indonesia soal konsistensi wasit VAR di turnamen besar. Beberapa akun analisis taktik lokal menyarankan PSSI untuk mengadakan workshop wasit VAR sebelum musim Liga 1 2025/26 dimulai, mengacu pada standar FIFA yang diterapkan di Piala Dunia ini.
Tuchel sendiri dalam konferensi pers pra-laga menegaskan bahwa ia tidak akan mengambil risiko memakakan Henderson meski kapten tim itu sudah bergabung latihan ringan. "Jordan adalah pemimpin alami, tapi kesehatan jangka panjang lebih penting," ujar pelatih mantan Chelsea dan Bayern Munich itu. Sikap ini selaras dengan tren manajemen beban pemain modern yang mulai diadopsi klub-klub Indonesia melalui kolaborasi dengan pakar olahraga Australia dan Eropa.
Argentina datang ke Atlanta dengan skuad penuh dan kepercayaan diri tinggi setelah mengalahkan Brasil di perempat final lewat adu penalti. Scaloni diyakini akan mempertahankan formasi 4-4-2 yang berubah jadi 3-2-5 saat bertahan, memanfaatkan kecepatan Nico González dan ketajaman Alexis Mac Allister di transisi. Inggris harus waspada pada bola diam — area di mana Argentina mencetak tiga gol di babak gugur turnamen ini.
Prediksi susunan pemain Inggris: Pickford; Konsa, Stones, Guehi, O'Reilly; Rice, Bellingham, Alexander-Arnold; Saka, Kane, Foden. Susunan ini menyeimbangkan ketahanan defensif dan kreativitas serang, dengan Harry Kane bertugas memanfaatkan ruang di antara lini pertahanan dan gelandang Argentina.
Laga ini bukan hanya soal tiket final, tapi juga uji karakter bagi generasi emas Inggris yang belum pernah menjuarai Piala Dunia sejak 1966. Bagi penonton Indonesia, ini momen menyaksikan taktik tingkat tertinggi langsung diterapkan: bagaimana Tuchel menyesuaikan sistem menghadapi fleksibilitas Argentina, dan apakah Rice benar-benar pulih 100 persen. Jawabannya akan menentukan siapa yang akan menghadap Prancis atau Spanyol di final New Jersey 13 Juli mendatang.