Tim nasional Inggris tersingkir dari Piala Dunia usai kalah 2-1 dari Argentina di babak semifinal melalui gol telat Lautaro Martinez, Minggu lalu, di tengah keunggulan yang mereka pegang sejak menit ke-55. Kekalahan itu memperpanjang catatan 60 tahun tanpa gelar mayor bagi sepak bola Inggris, sekaligus memunculkan pertanyaan tajam soal komposisi skuad asuhan Thomas Tuchel yang dinilai hanya mengandalkan segelintir bintang.
Tuchel sempat memuji mentalitas pasukannya usai menang 2-1 atas Norwegia di perempat final. Ia bahkan menyebut semangat timnya layak dibotolkan dan dijual. Namun pujian itu bertemu realitas pahit ketika Inggris runtuh di akhir laga melawan Argentina, kehilangan kendali permainan dan peluang pertama tampil di final Piala Dunia sejak 1966.
Rentetan kegagalan Inggris memang sudah berlangsung lama. Dua kekalahan beruntun di final Euro serta tersingkir di semifinal Piala Dunia 2018 dari Kroasia membuat mereka kerap disebut sebagai tim 'hampir juara'. Usaha, fighting spirit, dan momen individu memang tersedia, tapi hal itu tidak cukup membawa mereka melampaui batas.
Dua pemain menjadi tumpuan utama Inggris di turnamen ini. Harry Kane dan Jude Bellingham mencetak 12 dari 14 gol tim, masing-masing enam gol. Sisanya datang dari Marcus Rashford dan Anthony Gordon. Ketergantungan pada dua nama itu memperlihatkan lubang di sektor lain, terutama saat Declan Rice dan Bukayo Saka bermasalah dengan sakit dan cedera.
John Stones tetap solid di lini belakang meski usianya kini 32 tahun. Di posisi lain, Inggris cukup stabil namun jarang memukau. Mereka tidak punya kualitas merata seperti Spanyol atau Prancis, juga tidak memiliki ketangguhan bawaan ala Argentina bersama Lionel Messi. Kampanye ini jalan dengan diselamatkan oleh momen, bukan pertunjukan konsisten.
Bagi penggemar di Indonesia, pola ini mirip dengan ketergantungan tim lokal pada satu striker asing atau playmaker naturalisasi. Ketika sang bintang meredup, tim langsung kehilangan arah. Liga 1 beberapa musim terakhir kerap menampilkan klub yang bertumpu pada satu pemain, lalu terdegradasi saat sang penggawa absen. Inggris memberi pelajaran bahwa kedalaman skuad menentukan langkah di level elite.
Gaya bermain Tuchel banyak meniru template Liga Primer Inggris: empat bek, dua gelandang jangkar, Bellingham sebagai nomor 10, dan dua sayap ortodoks. Formasi itu cukup di domestik, tapi tidak memadai di Piala Dunia. Inggris kehilangan kemampuan menguasai bola dan mendikte tempo lawan tangguh. Statistik mencatat mereka hanya punya 12% penguasaan bola dari menit ke-55 hingga gol Martinez di injury time.
Pelatih asal Jerman itu mengakui penguasaan bola bukan bagian dari DNA timnya. 'Mungkin bukan di DNA kami seperti Spanyol atau Argentina untuk mengambil bola dan mengontrol permainan, itu masalah besar,' ujar Tuchel. Ia tetap yakin kualitas pemainnya muncul di latihan, namun nyatanya tidak cukup saat tekanan meningkat.
FA sudah mencoba banyak opsi. Tuchel didatangkan sebagai antitesis Gareth Southgate yang dianggap terlalu konservatif, padahal Southgate membawa dua final Euro dan satu semifinal Piala Dunia. Alih-alih tampil berani, Tuchel justru melakukan taktik mundur saat memimpin semifinal. Trent Alexander-Arnold dibuang jauh sebelum skuad dipilih. Cole Palmer dan Phil Foden dicoret meski punya bakat, sementara Adam Wharton yang piawai menjaga bola tak dipakai maksimal.
Ke depan, Inggris harus merombak pendekatan seleksi pemain. Mengandalkan pragmatisme tanpa X-factor di luar Kane dan Bellingham tidak akan mengangkat trofi. Wharton atau Gibbs-White layak diberi ruang untuk membangun kontrol permainan. Tanpa itu, label 'tim hampir' akan terus menempel.
Proyeksi sesungguhnya bagi Indonesia jelas: pembinaan harus menghasilkan banyak pemain berkualitas, bukan sekadar mengandalkan nama besar di satu posisi. Tekanan turnamen besar menuntut kedalaman yang merata. Inggris sudah membuktikan bahwa mental saja tak mengganti kualitas menyeluruh.