JAKARTA — Kontingen tinju Indonesia secara resmi mengakhiri perjalanannya di Kejuaraan Asia U23 2026 dengan meraih tiga medali perunggu setelah tiga wakil tuan rumah tumbang di babak semifinal yang digelar di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (12/7). Penghargaan perunggu tersebut diperoleh secara otomatis berdasarkan format kejuaraan yang tidak mengadakan perebutan medali perunggu, sehingga kedua petinju yang kalah di semifinal sama-sama menerima medali perak-perunggu.
Tiga petinju yang menyumbang medali bagi Merah Putih adalah Linda Sarui Langi Maililin di kelas minimum putri (45-48 kg), Maria Mesita Manguntu di kelas welter ringan putri (65 kg), serta Riko Prayogi di kelas penjelajah putra (85 kg). Ketiganya harus mengakui keunggulan lawan masing-masing dengan skor yang cukup lopsided, mencerminkan kesenjangan kualitas yang masih perlu dijembatani oleh tinju muda Indonesia saat berhadapan dengan petinju bergengsi dari Mongolia, Uzbekistan, dan Kazakhstan.
Linda Sarui Langi Maililin menjadi yang pertama turun di ring semifinal dan menghadapi petinju Mongolia, Sodon-od Binderiya. Petinju asal Nusa Tenggara Timur itu kalah poin 0-5 secara unanimous decision, dengan lima wasit memberikan skor penuh ke lawannya. Performa Binderiya yang lebih agresif dan presisi pukulannya membuat Linda kesulitan menemukan ritme bertarung, meskipun di ronde awal sempat mencoba menekan lawan dengan kombinasi jab-straight.
Nasib serupa dialami Maria Mesita Manguntu yang bertemu Sevinch Khurramova dari Uzbekistan, negara yang dikenal sebagai salah satu produsen petinju terbaik Asia. Maria kalah 0-5 dengan skor seragam 30-27 dari keempat wasit dan 30-26 dari satu wasit, menunjukkan dominasi penuh dari petinju Uzbekistan yang memiliki pengalaman internasional lebih matang. Khurramova memanfaatkan jangkauan dan kecepatan tangan yang superior untuk mengontrol jarak sepanjang pertarungan.
Satu-satunya wakil putra di semifinal U23, Riko Prayogi, mengalami kekalahan paling dramatis setelah wasit menghentikan pertarungan (RSC) di ronde kedua lawan Temirlan Mukatayev dari Kazakhstan. Riko yang turun di kelas 85 kg terlihat kesulitan menahan serbuan lawan yang memiliki fisik lebih besar dan daya pukul mematikan. Wasit memutuskan untuk melindungi keselamatan Riko setelah ia menerima serangkaian pukulan bersih ke area kepala tanpa mampu membalas atau bertahan efektif.
Meski tiga medali perunggu sudah tercatat, harapan emas Indonesia di ajang multi-kategori usia ini belum padam. Kejuaraan Asia U23 2026 digelar bersamaan dengan kategori U19, dan Indonesia masih menyisakan empat petinju yang akan berlaga di babak semifinal U19 pada Senin (13/7). Keempat atlet tersebut adalah Anggi Chalik (kelas terbang ringan putri 45-48 kg), Dira Atika (kelas bulu putri 57 kg), Joshua Toni Marties Lahin (kelas ringan putra 60 kg), dan Viktor Wengkang (kelas welter putra 65 kg).
Kehadiran empat finalis potensial di kategori U19 menjadi indikator positif bagi program regenerasi Persatuan Tinju Seluruh Indonesia (Pertin). Joshua dan Viktor sebelumnya sudah menorehkan kemenangan meyakinkan di babak quarterfinal, masing-masing mengalahkan lawan dari Thailand dan Korea Selatan. Kedua petinju putra ini dinilai memiliki potensi besar untuk transisi ke kategori senior dalam 2-3 tahun mendatang, mengingat usia mereka yang masih di bawah 19 tahun dengan pengalaman internasional yang sudah teruji.
Secara historis, kejuaraan bergengsi ini menjadi momentum penting bagi tinju Indonesia yang sedang dalam fase pembangunan jangka panjang menuju Asian Games 2026 di Nagoya dan Olympic 2028 di Los Angeles. Pengelolaan Pertin di bawah kepengurusan baru telah menerapkan sistem pelatihan terpusat yang lebih intensif, rekrutmen dini melalui program "Tinju Cilik" di tingkat sekolah, serta kerjasama dengan pelatih asing untuk memperkaya variasi taktik. Tiga medali perunggu U23 dan potensi empat medali emas U19 menjadi bukti awal bahwa strategi tersebut mulai menunjukkan hasil, meski kesenjangan dengan negara-negara tinju tradisional Asia seperti Uzbekistan, Kazakhstan, dan Mongolia masih terasa nyata di level U23.
Selain aspek teknis, penyelenggaraan kejuaraan ini di Jakarta juga memberikan dampak multiplikator bagi ekosistem olahraga nasional. Penggunaan fasilitas Gelora Bung Karno yang telah revitalisasi untuk Asian Games 2018 membuktikan kelayakan infrastruktur Indonesia untuk menggelar turnamen bergengsi berkelas dunia. Hal ini memperkuat posis Indonesia sebagai kandidat tuan rumah turnamen tinju internasional lain di masa depan, termasuk kemungkinan menggelar World Boxing Cup atau bahkan Kejuaraan Dunia Junior di tahun-tahun mendatang, yang tentunya akan memberikan paparan dan pengalaman tak ternilai bagi generasi muda petinju tanah air.