Langkah tim nasional Meksiko dalam ajang Piala Dunia harus terhenti secara dramatis setelah menelan kekalahan pahit 3-2 dari Inggris di Stadion Azteca pada hari Minggu. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi para pendukung tuan rumah yang sempat menaruh harapan besar bahwa 'El Tri' mampu melaju lebih jauh dalam turnamen bergengsi tersebut.
Stadion Azteca yang dikenal angker bagi tim lawan seketika berubah menjadi saksi bisu kesedihan mendalam. Sepanjang sejarah, Meksiko tercatat hanya pernah menelan dua kekalahan dalam pertandingan kompetitif di stadion ikonik ini. Namun, rekor tersebut kini ternoda setelah lebih dari 80.000 suporter yang memadati tribun harus pulang dengan kekecewaan dan air mata.
Sebelum pertandingan, suasana di dalam stadion dipenuhi dengan optimisme yang tinggi. Pertanyaan “¿Y si sí?” atau “Bagaimana jika (kita menang)?” terus menggema di antara para suporter. Sayangnya, realita di lapangan memberikan jawaban yang brutal bagi impian mereka. Elizabeth Marcos, salah satu suporter yang hadir, mengungkapkan bahwa pesta kemenangan yang dinantikan akhirnya berakhir dengan kekecewaan.
Situasi sempat memberikan secercah harapan bagi Meksiko ketika pemain Inggris, Jarell Quansah, diganjar kartu merah dan harus meninggalkan lapangan. Meksiko yang sebelumnya tampil impresif dengan catatan tanpa kebobolan hingga babak 16 besar, gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di sepertiga akhir pertandingan. Ketidakmampuan mengonversi keunggulan tersebut menjadi gol penyeimbang membuat para pendukung merasa terpukul.
Di luar stadion, suasana duka menyelimuti kota, terutama di sepanjang Reforma Avenue. Ribuan orang yang sebelumnya berkumpul di bawah hujan untuk menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa tampak lesu dan terdiam. Kontras dengan suasana hati para suporter, sebuah band mariachi tetap memainkan musik di jalanan yang mulai kosong, menambah nuansa melankolis di pusat ibu kota.
Aysha Peraza, seorang suporter yang menempuh perjalanan jauh dari Sinaloa, menggambarkan transisi emosi yang drastis dari pagi yang optimis menjadi sore yang penuh kesedihan. Meski merasa hancur, ia tetap mengakui bahwa perjuangan Meksiko dalam turnamen kali ini telah memberikan pengalaman emosional yang sudah lama tidak dirasakan oleh masyarakat Meksiko. Perjalanan panjang mereka di Piala Dunia akan tetap dikenang sebagai momen yang menyatukan bangsa dalam harapan dan duka.