Tenis

Ignacio Buse Ukir Sejarah Keluarga di US Open 66 Tahun Kemudian

Ignacio Buse Ukir Sejarah Keluarga di US Open 66 Tahun Kemudian

Ringkasan

  • Teniser Peru Ignacio Buse meraih kemenangan pertamanya di US Open setelah mengalahkan Marcos Giron dalam lima set, mengulang prestasi kakeknya Eduardo yang terakhir menang di turnamen itu pada 1958.

Ignacio Buse menorehkan namanya dalam catatan sejarah tenis Peru pada Rabu waktu setempat setelah berhasil lolos ke babak kedua US Open 2024. Pebulutangkis berusia 22 tahun itu mengalahkan Marcos Giron asal Amerika Serikat dengan skor 3-6, 6-3, 6-3, 6-7(6), 6-1 dalam pertarungan maraton tiga jam 48 menit di Court Six, Flushing Meadows. Kemenangan itu bukan sekadar kemenangan pembukaan Grand Slam pertamanya, tapi juga melengkapi cerita keluarga yang terputus enam puluh enam tahun silam.

Kakeknya, Eduardo Buse, merupakan legenda tenis Peru yang pernah berlaga di kejuaraan yang dulu bernama US Championships di lapangan rumput West Side Tennis Club, Forest Hills. Eduardo mencatat kemenangan terakhirnya di turnamen itu pada 1958 saat mengalahkan Edward Atkinson — juga dalam lima set. Kini, cucunya mengulang jejak serupa di era modern di atas hard court, surface yang baru diperkenalkan di US Open sejak 1978.

Kisah keluarga Buse dengan tenis Amerika Serikat bermula jauh sebelum Ignacio lahir. Eduardo dan kembarannya, Enrique, menjadi ikon tenis Peru pada era 1940-an hingga 1950-an. Kedua bersaudara itu bahkan dihormati dengan penamaan Estadio Hermanos Buse di Lima, stadion yang menjadi simbol warisan tenis keluarga tersebut. Sayangnya, Ignacio tidak pernah bertemu kakeknya yang meninggal dunia jauh sebelum dia lahir, namun warisan genetik dan semangat kompetitif jelas mengalir kuat.

"Sulit menemukan ketenangan dalam situasi seperti itu, tapi di set kelima saya hanya mencoba pulih secara mental," ujar Ignacio usai lolos. "Ini pertarungan mental. Saya tetap tenang. Ini momen yang sangat spesial." Ketenangan itu teruji keras saat Giron memaksa tie-break di set keempat dan memiliki set point, namun Ignacio bertahan lalu mendominasi set penentu dengan skor 6-1.

Kemenangan ini datang tepat waktu setelah Ignacio meraih gelar ATP 250 Winston-Salem Open minggu lalu — gelar karir pertamanya di level tour. Momentum itu dibawa ke New York dengan keyakinan penuh. Sebagai seeded ke-32, dia memang difavoritkan atas Giron yang unseeded, tapi realitas di lapangan menunjukkan betapa ketatnya persaingan di level Grand Slam, apalagi melawan pemain rumah yang didukung penonton.

Bagi tenis Peru, kemenangan Ignacio menyegarkan narasi yang agak sepi di panggung besar. Negara Amerika Selatan itu jarang menghasilkan pemain yang konsisten menembus babak utama Grand Slam era modern. Luis Horna pernah juara ganda French Open 2008, tapi di single, prestasi terbaik relatif jarang. Ignacio, yang kini menduduki ranking karir tertinggi di posisi 137 dunia, berpotensi jadi wajah baru yang mengangkat bendera Peru.

Dari perspektif Indonesia, cerita Buse menawarkan paralel yang menarik. Tenis Indonesia pun memiliki warisan generasional — dari keluarga Suharyadi, Yayuk Basuki, hingga generasi muda seperti Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi yang kini berkiprah di jalur ganda. Namun, tantangan Infrastruktur, sistem pengembangan, dan eksposur internasional tetap jadi hambatan utama agar muncul pemain single yang bisa bersaing di level Grand Slam secara rutin.

Kembali ke Ignacio, tantangan selanjutnya menunggu di babak kedua lawan Benjamin Bonzi, teniser Prancis berusia 28 tahun yang lebih berpengalaman di level tour. Bonzi pernah menembus top 50 dan dikenal agresif dari baseline. Pertandingan itu akan jadi uji nyata apakah momentum Winston-Salem dan ketahanan mental yang ditunjukkan lawan Giron bisa bertahan lebih lama.

Jika Ignacio berhasil lolos lagi, dia akan menyamai atau melampaui rekor kakeknya yang pernah mencapai babak ketiga US Championships 1946. Tapi apa pun hasilnya, babak baru dalam saga keluarga Buse sudah resmi terbuka — ditulis bukan di rumput Forest Hills, tapi di hard court Arthur Ashe Stadium era baru.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan Ignacio Buse bukan hanya soal statistik, tapi narasi warisan olahraga yang langka di era modern. Bagi Indonesia, ini mengingatkan betapa pentingnya regenerasi dan sistem pendukung agar bakat generasi kedua atau ketiga bisa berkembang — bukan hanya mengandalkan genetika. Jika Peru dengan sumber daya terbatas bisa menghasilkan pemain Grand Slam lewat klub keluarga dan turnamen challenger, Indonesia yang punya basis pemain jauh lebih luas seharusnya bisa mereplikasi jalur serupa dengan manajemen yang lebih terstruktur.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Ignacio Buse Ukir Sejarah Keluarga di US Open 66 Tahun Kemudian"?

Teniser Peru Ignacio Buse meraih kemenangan pertamanya di US Open setelah mengalahkan Marcos Giron dalam lima set, mengulang prestasi kakeknya Eduardo yang terakhir menang di turnamen itu pada 1958.

Mengapa Tenis ini penting?

Kemenangan Ignacio Buse bukan hanya soal statistik, tapi narasi warisan olahraga yang langka di era modern. Bagi Indonesia, ini mengingatkan betapa pentingnya regenerasi dan sistem pendukung agar bakat generasi kedua atau ketiga bisa berkembang — bukan hanya mengandalkan genetika. Jika Peru dengan sumber daya terbatas bisa menghasilkan pemain Grand Slam lewat klub keluarga dan turnamen challenger,

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
3 September 2026
Waktu Baca
4 menit