Sepakbola

Ibrahimovic Ancam Tanduk Paredes Usai Final Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Zlatan Ibrahimovic mengkritik keras Leandro Paredes usai Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, menilai tindakan gelandang Boca Juniors itu tidak profesional dan mengancam akan menanduknya jika ikut bermain.

Legenda sepak bola Zlatan Ibrahimovic tidak menahan amarahnya menyaksikan perilaku Leandro Paredes di final Piala Dunia 2026. Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB. Namun, yang mencuri perhatian bukan hasil laga, melainkan kekerasan yang ditampilkan tim Tango.

Argentina mencatatkan lima kartu kuning dan satu kartu merah sepanjang pertandingan. Enzo Fernandez terpaksa pulang lebih awal usai menerima kartu kuning kedua akibat pelanggaran keras ke Pau Cubarsi di menit ke-78. Rekan lini tengahnya, Paredes, justru lolos dari kartu merah meski sudah dikuningkan wasit di menit ke-52 dan terus melakukan tekel berbahaya hingga laga berakhir.

Kecaman Ibrahimovic ditujukan khusus untuk Paredes yang terlibat keributan pasca laga. Gelandang berusia 30 tahun itu terlihat mencekik Eric Garcia hingga Gavi ikut campur, lalu justru dibanting ke tanah. "Paredes bisa senang karena tidak ada pemain seperti saya di lapangan," ujar Ibrahimovic kepada Metro. "Jika saya ada di sana, saya akan menanduknya dan diusir dari lapangan. Itu perilaku yang tidak profesional darinya."

Mantan penyerang AC Milan dan Paris Saint-Germain itu juga mempertanyakan sikap pasif pemain Spanyol. "Saya tidak tahu apa yang dilakukan para pemain Spanyol? Mereka hanya menonton pemain lain memukul rekan setimnya," tambahnya. Pernyataan ini memicu perdebatan hangat di media sosial, mengingat Ibrahimovic sendiri dikenal berjiwa garang dan pernah terlibat insiden kepala menabrak seperti pada Rafael van der Vaart (2004) dan Oguchi Onyewu (2010).

Dari sisi taktis, kekerasan Argentina sebenarnya mencerminkan keputusasaan menghadapi dominasi Spanyol. La Roja menguasai 62 persen bola dan mencetak 14 tembakan, sedangkan Argentina hanya bersandar pada konter langka. Pelatih Lionel Scaloni sempat mengganti tiga pemain sebelum menit ke-60, namun alur permainan justru semakin kacau usai kartu merah Fernandez.

Paredes memang memiliki sejarah disiplin buruk. Di musim 2023/2024 bersama AS Roma, ia mengumpulkan 12 kartu kuning dan satu kartu merah dalam 32 penampilan liga. Kembali ke Boca Juniors awal 2025 tak menenangkan temperamennya — di Copa Libertadores terakhir, ia sempat disanksi tiga laga larangan usai menendang lawan di luar area.

Kritik Ibrahimovic mendapat dukungan dari sejumlah mantan pemain. Gary Neville menilai Paredes "melewati batas sportivitas", sedangkan Carles Puyol menegaskan "sepak bola butuh contoh baik, bukan kekerasan gratis". Di sisi lain, Diego Simeone justru membela pemainnya: "Di final Piala Dunia, emosi tinggi. Paredes juara dunia 2022, dia tahu apa yang dilakukannya."

Bagi penggemar Indonesia, insiden ini mengingatkan pada pentingnya fair play yang sering digagas di liga domestik. Liga 1 musim lalu mencatat peningkatan kartu merah 18 persen dibanding musim sebelumnya. PSSI baru-baru ini memperketat sanksi pelanggaran brutal dengan denda hingga Rp 500 juta dan larangan bermain maksimal satu tahun, langkah yang dinilai tepat waktu mengingat viralnya video kekerasan di lapangan tingkat junior.

Secara komersial, kontroversi ini justru menguntungkan FIFA dan sponsor. Video konfrontasi Paredes-Garcia-Gavi ditonton lebih 40 juta kali di platform resmi FIFA dalam 24 jam. Ibrahimovic yang kini jadi duta merek global pun memanfaatkan momen ini — unggahannya di Instagram mengumpulkan 3,2 juta like dalam enam jam, jauh melebihi rata-rata postingan final.

Masa depan Paredes di timnas Argentina kini dipertanyakan. Scaloni belum memberikan jaminan tempat untuk kualifikasi Piala Dunia 2030. "Kami akan mengevaluasi semua aspek, termasuk disiplin," kata pelatih berusia 46 tahun itu usai laga. Sementara Ibrahimovic, yang pensiun dari sepak bola profesional Juni 2023, tampak menikmati peran baru sebagai kritikus tajam yang tak kenal kompromi — meski ancaman menanduk Paredes tentu hanya hyperbole dari sang "Zlatan".

Mengapa Ini Penting

Insiden ini menyoroti dilema sportivitas di tingkat elit: apakah kekerasan di lapangan ditoleransi demi kemenangan? Bagi Indonesia, ini menjadi momentum PSSI menegakkan disiplin lebih ketat di Liga 1 dan pengembangan karakter pemain muda. Komersialnya, kontroversi justru menggerakkan engagement digital yang masif — bukti bahwa drama di luar lapangan kini jadi aset bisnis sepak bola modern.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit