Olahraga

Hunt Raih Emas Ketiga, Asher-Smith Pecah Rekor di Kejuaraan Eropa

Ringkasan

  • Amy Hunt meraih emas ketiganya di Kejuaraan Eropa, sementara Dina Asher-Smith memecahkan rekor dengan tujuh emas dalam satu dekade.
  • Kemenangan ini memperkuat posisi Inggris sebagai salah satu kekuatan utama dalam atletik Eropa.

Amy Hunt berhasil meraih medan emas ketiganya dalam enam hari terakhir di Kejuwaan Eropa Atletik di Birmingham, menambah kesempatan besar untuk meraih quadruple yang belum pernah dicapai sebelumnya. Di sisi lain, Dina Asher-Smith membuat sejarah dengan menjadi atlet yang paling banyak mendapatkan emas di ajang ini dalam satu dekade.

Pada Sabtu malam, tim relay 4x100 meter wanita British berhasil mengamankan emas dengan waktu 42,05 detik, jauh di depan Swiss (43,12) dan Polandia (43,15). Hunt yang baru berusia 24 tahun ini telah mengukuhkan posisinya sebagai bintang muda terkemuka Inggris setelah sebelumnya menaklukkan 100m dan 200m. Kemenpanipian ini membuatnya menjadi favorit kuat untuk meraih emas keempat pada hari Minggu dalam lomba campuran 4x100 meter.

Asher-Smith, yang sudah berkarier lebih lama, kini telah mencetak rekor dengan tujuh emas di Kejuaraan Eropa — sejumlah yang sama dengan Jakob Ingebrigtsen dari Norwegia dan Sandra Elkasevic dari Kroasia. Prestasi ini ditambah dengan kesembilan emasnya sekaligus menyamakan rekor Irena Szewinska dari Polandia sekaligus menjadi atlet dengan jumlah total medali terbanyak dalam sejarah ajang ini.

Keberhasilan tim Inggris tidak hanya terbatas pada wanita. Pria juga berhasil meraih emas dalam relay 4x100 meter dengan waktu 38,45 detik, mengalahkan Jerman (38,64) dan Belgia (38,70). Jeremiah Azu, Louie Hinchliffe, dan Zharnel Hughes yang juga perak di 200 meter turut menyumbangkan kontribusi penting dalam kemenangan ini.

Dengan kemenangan ini, Inggris berhasil menambahkan enam emas dari total 12 medanya, tetap berada di perburuan ketat dengan Italia yang unggul dengan 17 medanya. Namun, ada rasa frustrasi juga bagi Inggris di nomor lain seperti 1500 meter pria di mana Jake Wightman dan Jake Heyward gagal mencatatkan kemenangan meskipun berada di posisi unggul hingga lap terakhir.

Stefan Nillessen dari Belanda berhasil meraih emas dengan waktu 3:35.70, mengalahkan Samuel Pihlstrom dari Swedia dan Andrew Coscoran dari Irlandia. Wightman sendiri finis di posisi keenam dengan waktu 3:37.18, sementara Heyward berada di posisi ketujuh.

Di nomor heptathlon, Katarina Johnson-Thompson dari Inggris hanya mampu meraih peringkat ke-21 secara keseluruhan, sementara timnya Jade O’Dowda berada di peringkat ke-13. Emas pada nomor ini berhasil diraih oleh Kate O’Connor dari Irlandia yang juga sekaligus menjadi juara umum di Commonwealh Games.

Sayangnya, ada kekecewaan bagi Amber Anning yang terpaksa mundur dari final 400 meter putri akibat cedera saat panutan. Yemi Mary John yang menjadi penggantinya finis di posisi kelima dengan waktu 51,12, sementara Charlotte Henrich yang baru masuk sebagai pengganti finis di posisi keenam dengan waktu 51,29. Emas pada nomor ini diraih oleh Henriette Jaeger dari Norwegia dengan waktu 49,04.

Di nomor lompat tinggi putri, Morgan Lake dari Inggris hanya mampu mencapai peringkat kedelapan dengan rekor tertingginya sebesar 1,88 meter. Emas diraih oleh Yaroslava Mahuchikh dari Ukraina yang mampu melewati tiang pertama dengan ketinggian 1,97 meter.

Pertandingan ini juga menandai momen penting bagi Hunt yang kini semakin diproyeksikan sebagai calon bintang global. Setelah meraih perak dunia di Tokyo tahun lalu, ia kini konsisten menampilkan performa dominan di kancah internasional. Jika berhasil meraih quadruple ini, ia akan menjadi atlet pertama dalam sejarah Kejuaraan Eropa yang meraih empat medan emas dalam satu edisi.

Sementara itu, Asher-Smith yang sudah berusia 30 tahun ini menunjukkan bahwa usianya bukanlah halangan untuk tetap kompetitif. Dengan pengalaman dan kemampuan teknis yang dimilikinya, ia menjadi pelopor generasi baru bagi atlet muda seperti Hunt. Kombinasi antara pengalaman veteran dan bakat muda ini menjadi kunci keberhasilan tim Inggris dalam kejuaraan ini.

Dari sudut pandang Indonesia, keberhasilan ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pengembangan atlet muda yang konsisten. Meskipun belum ada atlet Indonesia yang mampu mencapai level kompetisi ini, progresifasi yang dilakukan oleh tim Inggris bisa menjadi model bagi pelatnah dan pengembangan bakat di negeri kita. Dukungan infrastruktur, pelatihan teknis, dan eksposur internasional yang cukup menjadi faktor kunci untuk mencapai tingkat kompetisi semacam ini.

Kejuaraan Eropa ini juga menegaskkan pentingnya kerja tim dalam atletik, terutama dalam perlombaan relay. Koordinasi, kepercayaan, dan strategi penyerahan baton yang tepat waktu semuanya menjadi elemen krusial yang ditampilkan oleh tim Inggris. Hal ini menjadi pelajaran bagi negara-negara yang ingin meningkatkan performa di kancah internasional.

Sebagai penutup, fokus kini beralih pada lomba campuran 4x100 meter yang akan berlangsung pada Minggu. Jika Asher-Smith memilih untuk berpartisipasi, ia memiliki kesempatan untuk menjadi atlet yang paling banyak mendapatkan medan dalam sejarah Kejuaraan Eropa. Sementara itu, Hunt akan terus berusaha untuk menambahkan satu lagi emas ke koleksinya dan mewujudkan mimpi sejati untuk menjadi legenda baru dalam atletik Eropa.

Mengapa Ini Penting

Keberhasilan Amy Hunt dan Dina Asher-Smith di Kejuwaan Eropa menunjukkan betapa pentingnya sistem pengembangan atlet muda yang terus-menerus. Bagi Indonesia, yang masih berusaha meningkatkan performa di kancah internasional, keberhasilan ini bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat infrastruktur pelatnas dan memberikan eksposur yang lebih luas bagi atlet muda. Selain itu, fokus pada kerja tim dalam relay juga menegaskan pentingnya koordinasi dan kepercayaan antaranggota tim, sesuatu yang perlu dikembangkan di komunitas atletik Indonesia. Dengan progresifasi yang konsisten, Indonesia bisa berharap suatu hari mampu bersaing di tingkat yang sama.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
15 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit