Tim WRT 32 memasuki putaran keenam FIA World Endurance Championship (WEC) 6 Hours of Sao Paulo dengan optimisme tersendiri meski harus memulai balapan dari posisi kesembilan kelas LMGTOS. Kebocoran cuaca yang meramalkan hujan deras selama balapan di Sirkuit Interlagos, Brasil, Minggu (14/7) malam WIB, dinilai bisa mengacak strategi dan menyamakan kesempatan bagi trio pembalap Augusto Farfus, Sean Gelael, dan Darren Leung.
Dalam konferensi pers pra-balapan, Farfus yang berdomisili di Brasil tidak menyembunyikan ambisinya. "Saya sangat ingin meraih minimal podium, syukur-syukur bisa menang," ucap pembalap senior itu. Keyakinan Farfus tidak tanpa dasar. Sebagai pembalap tuan rumah yang telah menaklukkan Interlagos berulang kali di Stock Car Brasil dan seri GT internasional, ia memahami betul karakteristik lintasan yang licin saat hujan turun — terutama di sektor tengah seperti Subida dos Boxes dan Curva do Laranjinha yang jadi titik kritis overtaking.
Kondisi kering yang mendominasi seluruh sesi latihan bebas hingga kualifikasi Hyperpole justru jadi momok bagi WRT 32. BMW M4 GT3 nomor 32 kesulitan menemukan window setup optimal untuk single-lap pace, sehingga terpaut jauh dari pole position yang diraih Heart of Racing Team nomor 23 (Aston Martin Vantage GT3 Evo). Namun, simulasi long-run tim menunjukkan degradasi ban yang relatif stabil, membuka peluang strategi stint panjang jika safety car atau full course yellow muncul saat hujan.
Kehadiran Sean Gelael sebagai satu-satunya pembalap Indonesia di grid WEC menambah narasi khusus pada balapan ini. Putra mantan pebalap F1 Ricardo Gelael ini telah menunjukkan konsistensi tinggi sejak bergabung WRT musim ini, dengan best finish P4 di 6 Hours of Spa-Francorchamps. Di Interlagos, pengalaman Gelael mengendarai di kondisi basah pada era Formula 2 dan European Le Mans Series diharapkan jadi aset vital saat transisi track condition terjadi. "Kita siapkan beberapa skenario strategi balapan basah," ujar Gelael lewat akun media sosialnya seminggu sebelum balapan.
Dinamika kelas LMGT3 musim ini memang sangat kompetitif. Berbeda dengan era GTE Am, regulasi GT3 berbasis customer racing membuat performance gap antar merek sempit. Aston Martin, Ferrari, Porsche, Corvette, Lamborghini, dan BMW saling berbagi podium di lima putaran pertama. Heart of Racing, Team WRT, Manthey PureRxcing, dan Iron Dames jadi empat tim paling konsisten di top-5. Start dari P9 berarti WRT 32 butuh kombinasi kecepatan murni, manajemen ban cerdas, dan sedikit keberuntunan safety car untuk menembus top-3.
Sementara di kelas Hypercar, Cadillac Racing mendominasi baris depan dengan V-Series.R nomor 2 (Earl Bamber/Alex Lynn) dan nomor 3 (Sébastien Bourdais/Renger van der Zande) mengunci 1-2. Porsche Penske Motorsport dan Ferrari AF Corse mengejar dari baris kedua dan ketiga. Dominasi Cadillac di kualifikasi kering menegaskan keunggulan paket aerodinamik mereka di lintasan bergelombang seperti Interlagos, namun race pace 6 jam di kondisi berubah tetap terbuka lebar.
Secara championship, WRT 32 saat ini menduduki posisi kelima klasemen tim LMGT3 dengan 46 poin, tertinggal 28 poin dari pemimpin Manthey PureRxcing (Porsche 911 GT3 R). Setiap podium bernilai emas untuk mengejar gap di separuh musim kedua. Bagi Gelael secara personal, hasil bagus di Sao Paulo akan memperkuat posisinya sebagai kandidat kuat untuk naik ke kelas Hypercar musim depan, mengingat minat beberapa manufaktur besar terhadap talenta Asia-Pasifik.
Balapan berlangsung 6 jam atau hingga bendera cekered, dimulai pukul 21.30 WIB Minggu. Penonton Indonesia bisa menyaksikan live streaming gratis melalui kanal YouTube KUY Entertainment serta platform resmi Gelaelized.com. Komentar berbahasa Indonesia disediakan untuk memudahkan penggemar lokal mengikuti perkembangan strategi tim WRT 32 secara real-time — termasuk keputusan pit stop kritis saat hujan mulai mengguyur aspal Interlagos.