Anthony Hudson, pelatih kepala Timnas Thailand, mengeluarkan pernyataan tegas soal sikap timnya menjelang laga semifinal Piala AFF 2026 leg pertama melawan Singapura. Di konferensi pers pra-pertandingan, Jumat (14/8), Hudson menegaskan tidak ada ruang untuk sikap lengah meski rekor head-to-head sangat menguntungkan negara Gajah Perang.
Thailand mencatat 10 kemenangan berturut-turut atas Singapura di berbagai kompetisi. Pertemuan terakhir terjadi November lalu di babak grup Piala AFF 2024, di mana Thailand menang 3-2 dalam laga yang juga menandai debut Hudson dan Gavin Lee sebagai pelatih masing-masing tim. Rekor itu, menurut Hudson, justru jadi alasan untuk lebih waspada.
"Kami sangat menghormati Singapura. Tidak akan ada sikap lengah dari pihak kami. Sama sekali tidak ada," ujar Hudson di laman resmi turnamen. Ia menambahkan bahwa seluruh fokus tim saat ini hanya tertuju pada laga leg pertama, tanpa memikirkan leg kedua yang akan digelar di Bangkok beberapa hari mendatang.
Singapura memasuki semifinal sebagai runner-up Grup A. The Lions mengumpulkan 5 poin dari tiga laga, dengan hasil menarik adalah imbang 2-2 melawan Timnas Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno. Hasil itu memastikan Singapura lolos ke empat besar sekaligus menundukkan Timor Leste dan Kambodia.
Di sisi lain, Thailand menguasai Grup B dengan performa sempurna: 12 poin dari empat kemenangan tanpa kekalahan. Gajah Perang menundukkan Malaysia, Timor Leste, Kambodia, dan Singapura di babak grup. Dominasi itu membuat Thailand jadi favorit kertas, namun Hudson menolak label tersebut.
Kendati demikian, data statistik memang mendukung Thailand. Sejak 2017, Singapura tidak pernah mengejutkan Thailand dalam 90 menit reguler. Bahkan di era pelatih Tatsuma Yoshida (2019-2021), Singapura hanya sekali sempat unggul dulu sebelum kalah 1-4 di final Piala AFF 2020. Hudson, yang pernah melatih Bahrain dan Wales, memahami betapa berbahayanya rasa percaya diri berlebih.
Perspektif Gavin Lee, pelatih Singapura, justru menarik. Lee yang menjabat sejak awal 2024 telah membangun gaya bermain berbasis transisi cepat dan pressing tinggi. Di babak grup, Singapura mencetak 7 gol — terbaik ketiga setelah Thailand (14) dan Vietnam (9). Lee percaya timnya bisa bersaing setara di kandang sendiri, Stadion Jalan Besar, yang dikenal memiliki atmosfer pendukung yang intens.
Bagi sepak bola Indonesia, laga ini punya makna khusus. Singapura yang sempat menyamakan skor 2-2 melawan Garuda di Jakarta membuktikan bahwa tim Gavin Lee punya karakter dan kemampuan taktis untuk mengejutkan lawan favorit. Jika Singapura berhasil mengalahkan Thailand, ini akan jadi momentum besar bagi sepak bola Asia Tenggara bahwa dominasi Thailand tidak mutlak.
Dari sisi Thailand, Hudson membawa pengalaman internasional yang kaya. Mantan pelatih Wales dan klub-klub di Liga Inggris itu menerapkan sistem 4-2-3-1 yang fleksibel, dengan Supachok Sarachat dan Peeradol Chamrasamee sebagai kuncinya di lini tengah. Thailand juga punya keunggulan fisik berkat jadwal liga domestik yang lebih padat dibanding Singapura Premier League.
Namun, faktor kelelahan jadi catatan. Thailand baru saja memainkan empat laga grup dalam sebulan, sedangkan Singapura hanya tiga laga. Leg pertama di Singapura juga berlangsung di cuaca lembab dengan suhu mencapai 31 derajat Celcius — kondisi yang bisa mempengaruhi tempo bermain Thailand yang cenderung mengandalkan kekuatan fisik di menit-menit akhir.
Hudson menutup konferensi pers dengan nada realistis: "Suasana tim sangat positif dan kondisinya memang sudah bagus sejak awal. Kami tentu sadar bahwa pertandingan besok sangat berbeda, menghadapi lawan yang sangat kami hormati." Pernyataan itu mencerminkan kesadaran bahwa di level semifinal, rekor masa lalu hanya jadi statistik — bukan jaminan kemenangan.