LAS VEGAS – Max Holloway menorehkan nama dirinya kembali dalam sejarah MMA dengan kemenangan TKO spektakuler atas Conor McGregor hanya dalam 1 menit 9 detik di ronde pembuka UFC 329 di T-Mobile Arena, Las Vegas, Sabtu (11/7) waktu setempat. Pertarungan yang diproyeksikan sebagai 'pertarungan generasi' justru berakhir anti-klimaks setelah lutut kanan McGregor tidak kuat menopang beban tubuhnya sendiri pasca mendaratkan tendangan.
Kedatangan McGregor ke Oktagon kali ini disertai spekulasi masif soal kondisi fisiknya. Mantam dua divisi UFC itu tidak bertarung sejak Juli 2021 di UFC 264 saat patah tulang pergelangan kaki melawan Dustin Poirier. Selama hampir lima tahun, 'The Notorious' lebih sibuk mengurus bisnis whiskey Proper No. Twelve, film Hollywood, serta kontroversi hukum di Irlandia. Banyak pakar mempertanyakan apakah ia masih memiliki 'killer instinct' di usia 36 tahun.
Di sisi lain, Holloway (33) memasuki pertarungan ini sebagai underdog berbayar +180 meski statusnya sebagai mantan kampiun berat ringan dan pemilik rekor signifikan strike terbanyak dalam sejarah UFC. 'Blessed' baru saja menumbangkan Justin Gaethje via knockout dramatis di UFC 300 April lalu, merebut gelar BMF. Momentum dan aktivitas ringan jelas ada di pihak petarung asal Waianae, Hawaii itu.
Gong pertama berbunyi dan McGregor langsung mengambil pusat kandang dengan sikap khasnya: tangan kanan rendah, badan miring, dan gerakan kepala konstan. Ia melepaskan jab-jab pengukur jarak, sementara Holloway tenang menunggu di tepi dengan garda tinggi. Detik ke-40, McGregor melepaskan tendangan rendah (low kick) ke paha kiri Holloway yang diblokir bersih. Ia mencoba mengulang aksi sama ke-2, namun saat kaki kanannya mendarat, lututnya melengkung ke dalam secara tidak alami – tanda klasis cedera ACL atau meniskus.
McGregor langsung roboh ke kanvas, bukan karena pukulan, melainkan kegagalan struktural tubuh. Holloway tidak membuang kesempatan. Ia turun ke guard McGregor dan mencurahkan ground-and-pound yang presisi: siku ke dahi, pukulan tangan ke wajah. McGregor mencoba survival dengan mengaitkan kaki dan melempar upkick, namun tekanan Holloway tak kenal lelah. Wasit Herb Dean mendekat, memperhatikan pertahanan McGregor yang mulai pudar.
Sangat ironis, McGregor sempat bangkit berdiri di detik ke-58 dengan semangat juang yang patut dihargai. Ia bahkan melepaskan kombinasi 1-2 yang mendarat bersih ke dagu Holloway. Namun, saat mencoba mundur dan bertumpu penuh pada kaki kanan, lututnya kembali 'give out'. Tubuhnya runtuh ke belakang untuk kedua kalinya. Dean tidak ragu menghentikan pertarungan pada 1:09 ronde pertama.
Kemenangan ini menempatkan Holloway di posisi sangat strategis di divisi berat ringan (155 lbs). Dengan rekor 26-7, ia kini berhak menuntut title shot terhadap kampiun tersandung Islam Makhachev atau pemenang rematch Arman Tsarukyan vs Charles Oliveira. Lebih dari itu, Holloway membuktikan ia bukan sekadar 'petarung volume' tapi memiliki finishing instinct elite saat dibutuhkan.
Bagi McGregor, ini kemungkinan besar babak terakhir karir MMA-nya yang legendaris. Rekornya turun menjadi 22-7 dengan tiga kekalahan berturut-turut via stoppage (Poirier x2, Holloway). Dana White pasca-pertarungan tersenyum tipis saat ditanya soal masa depan McGregor: "Conor sudah mencapai segalanya. Kesehatan jangka panjang lebih penting." Di Indonesia, di mana McGregor memiliki basis penggemar terbesar di Asia Tenggara, berita ini menutup era 'McGregor Mania' yang pernah memenuhi bioskop dan bar olahraga setiap kali ia bertarung.