Keely Hodgkinson melanjutkan jejak emasnya di Kejuaraan Eropa Atletik 2024 yang berlangsung di Stadio Olimpico, Roma, Kamis (11/6) malam waktu setempat. Pemenang medali emas Olimpiade Paris 2024 itu menyelesaikan semifinal kedua nomor 800 meter putri di posisi pertama dengan catatan waktu 1 menit 57,38 detik, mengamankan tiket ke final yang dijadwalkan Jumat (14/6) mendatang.
Performa Hodgkinson terlihat tenang dan terkendali. Dia memimpin sejak peluit start dan mampu menahan laju Femke Broeders-Bol, juara dunia 400 meter hambatan dua kali yang memutuskan beralih ke nomor 800 meter musim ini. Broeders-Bol finis kedua dengan 1 menit 57,53 detik, sementara Lorea Ibarzabal Spanyol melengkapi tiga besar dengan 1 menit 58,12 detik.
Drama sebenarnya terjadi di semifinal pertama beberapa menit sebelumnya. Audrey Werro, pelari Swiss berusia 22 tahun yang musim ini mencatatkan waktu tercepat dalam 43 tahun untuk nomor ini, memimpin balapan sejak awal. Namun di putaran terakhir, kaki kanannya terkecoh oleh kaki kirinya sendiri, membuatnya terhujam ke tartan.
Werro bangkit sejenak kemudian dan menyelesaikan balapan di posisi terakhir sambil meringkuk dan memegang dada. Wajahnya mengekspresikan rasa sakit dan kekecewaan. Replay televisi jelas menunjukkan tidak ada kontak fisik dengan pelari lain — insiden murni kecelakaan sendiri.
Keputusan juri awal mengeluarkan Werro dari final memicu protes tim Swiss. Setelah meninjau bukti video dan mendengar penjelasan atlet, juri apelasi memutuskan mengembalikan hak Werro untuk berkompetisi di final. Keputusan ini kontroversial karena aturan World Athletics ketat soal gangguan sendiri, namun pertimbangan medis dan semangat fair play jadi dasar pertimbangan.
Hodgkinson mengaku tidak menyaksikan kejadian secara langsung. "Aku mendengar suara 'ooh' dari penonton, itu tidak pernah pertanda baik," ujarnya ke BBC. "Aku tidak tahu tampak seperti apa. Jelas ini sangat menyedihkan dan aku berharap dia baik-baik saja. Aku berharap dia ada di final besok, itu akan jadi balapan yang sangat menarik."
Kehadiran Werro di final menambah ketegangan. Sebelum cedera, dia merupakan ancaman serius bagi Hodgkinson dengan personal best 1 menit 57,31 detik — hanya 0,07 detik lebih lambat dari rekaman musim Hodgkinson. Duel dua pelari berbakat ini dinanti sebagai salah satu aksi paling menarik kejuaraan kali ini.
Bagi atlet Indonesia, kasus Werro jadi pelajaran berharga soal protokol apelasi dan pentingnya bukti video. Di Kejuaraan Asia maupun SEA Games, prosedur serupa berlaku tapi sering kali tidak diekspos begitu detail. Pelatih dan atlit nasional perlu memahami hak mereka mengajukan banding dalam jangka waktu 30 menit pasca resmi hasil.
Faktanya, tidak ada pelari Indonesia yang saat ini bersaing di level 800 meter putri internasional tinggi seperti ini. Rekor nasional masih di tangan Esther Sumah (2 menit 04,78 detik, 2019), jauh di bawah standar final Eropa. Kesenjangan ini menyoroti perlunya program pengembangan middle-distance yang terstruktur, mulai dari kategori U18 hingga senior.
Di sisi teknis, balapan semifinal menunjukkan tren taktik "front-running" yang dikembalikan Hodgkinson. Berbeda dengan strategi duduk di belakang lalu sprint akhir yang populer era Athing Mu, Hodgkinson lebih suka menguasai tempo dari awal. Pendekatan ini meminimalkan risiko terjepit di peloton padat — risiko yang justru menimpa Werro saat dia memimpin.
Final Jumat nanti akan jadi uji mental sekaligus fisik. Werro harus pulih dari trauma jatuh dan kemungkinan cedera dada, sementara Hodgkinson harus menahan tekanan jadi favorit utama di hadapan penonton Italia yang ramai. Broeders-Bol, Natoya Goule-Toppin (Jamaika), dan Jemma Reekie (Skotlandia) siap memanfaatkan celah.
Apapun hasilnya, babak semifinal ini sudah menuliskan narasi sendiri: ketangguhan Werro bangkit dari kejatuhan, keputusan apelasi yang langka, dan konsistensi Hodgkinson sebagai raja nomor ini. Atletik Eropa memang tidak pernah sepi dari drama — dan inilah daya tariknya.