Nikki Hiltz memenangkan gelar 1500 meter AS keempat berturut-turut di Icahn Stadium, New York, Sabtu (25/7) dengan catatan 4:06.92, sambil mengibarkan bendera trans di bahunya.
Hiltz, yang menggunakan pronomina they/them, melewati Addy Wiley di lintasan terakhir dan menahan Emily Mackay, meraih kemenangan tipis selisih 0,04 detik.
Kejuaraan ini digelar pertama kali di New York setelah tiga puluh tahun, menarik penonton penuh kehadiran Wali Kota Zohran Mamdani yang memegang pita finish untuk final 100 meter ambulatory.
Tahun ini tidak ada Olimpiade atau Kejuaraan Dunia, sehingga kompetisi bersifat domestik, namun narasi inklusivitas membuatnya tetap menjadi sorotan media internasional.
Di sisi lain, Nathan Green memenangkan 1500 meter putra 3:50.27; Dalilah Muhammad lolos babak 400 meter hambatan 54,80 detik; Aaliyah Butler juara 400 meter putri 49,93 detik; Chris Bailey juara 400 meter putra 44,39 detik.
Noah Lyles, baru saja juara 100 meter, menang heat 200 meter 20,51 detik, menunjukkan konsistensi performa di musim panas ini.
Alia Armstrong menang 100 meter hambatan 12,38 detik, mengisi kekosongan Masai Russell yang sibuk di rangkaian Diamond League.
Kemenangan Hiltz memperkuat visibilitas atlet non-binary di atletik dunia, menginspirasi federasi lain termasuk di Indonesia untuk mempertimbangkan kebijakan inklusif.
Di Indonesia, kategori gender dalam atletik masih baku; kehadiran tokoh seperti Hiltz bisa jadi referensi diskusi kebijakan PELATNAS dan KONI.
Hiltz mengatakan "Ibu saya dari Long Island, jadi saya merasa sebagian kecil dari saya berasal dari sini" sambil membungkus bendera trans di bahunya.
Proyeksi ke depan, Hiltz diprediksi akan jadi favorit di Diamond League musim depan, sementara Muhammad menargetkan kembali ke panggung dunia pasca-pensiun.
Kejuaraan AS 2025 menunjukkan bahwa narasi kemanusiaan dan prestasi bisa berjalan beriringan, memberikan pelajaran bagi olahraga global termasuk Indonesia.