Sepakbola

Herdman Saring 24 Pemain di Gianyar, Perebutan Slot Striker Jadi Fokus Piala AFF 2026

Ringkasan

  • Pelatih John Herdman memangkas daftar 50 pemain menjadi 24 nama yang mengikuti pemusatan latihan di Gianyar, Bali, dengan komposisi lini tengah paling stabil dan perebutan posisi striker tersisa paling ketat menjelang Piala AFF 2026.

Timnas Indonesia menjadi satu-satunya kontestan Piala AFF 2026 yang belum mengumumkan skuad resmi hingga Kamis (23/7). Keputusan John Herdman menunda pengumuman final bukan tanpa alasan: manajer teknis asal Skotlandia itu ingin memastikan keseimbangan antara pengalaman internasional, kecocokan sistem, dan kedalaman skuad dalam format 26 pemain yang baru diterapkan turnamen kali ini.

Saat ini, 24 pemain telah bermati-matian di pemusatan latihan Gianyar, Bali. Mereka disaring dari *long list* 50 nama yang dipantau sejak awal tahun. Proses penyaringan ini menunjukkan betapa ketatnya standar Herdman, yang tidak hanya melihat performa di Liga 1, tapi juga intensitas latihan dan kemampuan mengeksekusi instruksi taktis dalam waktu singkat.

Perubahan aturan skuad dari minimal 23 menjadi maksimal 26 pemain justru menjadi variabel krusial. Jika Herdman memutuskan mengisi kuota penuh, tiga kiper — Nadeo Argawinata, Cahya Supriyadi, dan Muhammad Riyandi — berpeluang besar terbawa. Riyandi dan Teja Paku Alam memang tercoret dari 24 nama awal, namun keduanya tetap dijaga kesiapannya. Logikanya sederhana: turnamen berdurasi panjang di iklim tropis memerlukan rotasi dan rotasi penjaga gawang yang handal tanpa menurunkan kualitas.

Sektor pertahanan tampak paling *settled*. Delapan nama — Rizky Ridho, Jordi Amat, Sandy Walsh, Brian Fatari, Wahyu Prasetyo, Shayne Pattynama, Dony Tri Pamungkas, dan Tim Geypens — diprediksi tidak akan tersentuh. Kehadiran empat pemain naturalisasi (Walsh, Geypens, Pattynama, Amat) di lini belakang menciptakan fleksibilitas taktis: bisa main *back three* atau *back four*, serta memiliki kecepatan recovery yang vital menghadapi lawan cepat seperti Vietnam atau Thailand.

Jantung tim berada di lini tengah. Delapan pemain — Thom Haye, Marc Klok, Kadek Agung, Ivar Jenner, Rayhan Hannan, Beckham Putra, Marselino Ferdinan, dan Eliano Reijnders — dianggap Herdman sebagai *core* yang tak tergantikan. Kombinasi pengalaman Klok-Haye, dinamika Jenner-Reijnders, serta kreativitas Marselino-Beckham menciptakan variasi permainan yang sulit diprediksi lawan. Tidak ada indikasi pengurangan di sektor ini meski skuad dipangkas jadi 23.

Ketegangan tersimpan di lini depan. Enam nama bersaing untuk paling banyak lima slot: Saddil Ramdani, Rizky Eka Pratama, Egy Maulana Vikri, Ragnar Oratmangoen, Jens Raven, dan Mitchell Baker. Saddil, Egy, dan Ragnar hampir pasti aman berkat versatilitas dan angka produksi. Perebutan sisa slot memanas antara Rizky Eka yang punya pengalaman, Jens Raven yang menawarkan kecepatan dan *finishing* modern, serta Mitchell Baker yang bisa main di sayap maupun *false nine*.

Nama Ramadhan Sananta muncul sebagai *wild card*. Jika skuad diperluas jadi 26, Sananta kuat masuk sebagai *target man* murni — tipe pemain yang tidak dimiliki striker lain di daftar. Kehadirannya memberi opsi *plan B* saat lawan *park the bus*: *aerial threat* dan kemampuan *hold-up play* untuk melibatkan Marselino atau Reijnders dari lini kedua.

Strategi naturalisasi di era Herdman berbedaan nyata dengan masa Shin Tae-yong. Jika dulu fokusnya *plug-and-play* di posisi kunci, kini naturalisasi dirancang untuk menciptakan kedalaman *squad* di seluruh sektor. Reijnders dan Geypens misalnya, bukan sekadar *starter*, tapi juga mendorong standar latihan pemain lokal seperti Kadek Agung atau Dony Tri Pamungkas.

Sinyal dari staf pelatih jelas: komposisi 24 pemain saat ini sudah merepresentasikan *best XI* plus *reliable backups*. Pengurangan ke 23 hanya akan mengorbankan kedalaman di posisi striker, bukan kualitas *starting lineup*. Keputusan final soal kuota 26 akan diumumkan pekan depan, selambat-lambat H-10 sebelum laga pembuka.

Bagi penggemar, daftar ini menandai pergantian generasi yang terstruktur. Pemain lahir 2000-an seperti Jenner, Reijnders, Geypens, Raven, dan Baker bukan lagi *prospek*, tapi *first-team regulars*. Transisi ini berlangsung mulus karena Herdman membangun sistem yang tidak bergantung pada satu bintang, tapi kolektifitas — modal utama untuk lolos ke Piala Asia 2027 dan kualifikasi Piala Dunia 2026.

Langkah selanjutnya adalah uji coba internal dan laga persahabatan yang dijadwalkan awal Agustus. Di sana, Herdman akan menguji *chemistry* antara Ragnar-Oratmangoen dengan Marselino di sisi kiri, serta koneksi Haye-Jenner di *double pivot*. Keberhasilan integrasi sepuluh hari di Gianyar akan menentukan apakah Indonesia bisa menjuarai AFF ke-2 setelah 2020, atau harus puas jadi *runner-up* lagi.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini mengungkap pergeseran fundamental dalam manajemen skuad Timnas: dari bergantung pada segelintir bintang naturalisasi senior, menuju model *squad depth* berbasis generasi muda hybrid (lokal + naturalisasi muda). Keputusan Herdman soal kuota 26 pemain bukan soal jumlah, tapi sinyal kepercayaan pada sistem rotasi yang dibutuhkan untuk kampanye panjang kualifikasi Piala Dunia 2026. Perebutan slot striker antara Raven, Baker, dan Sananta juga merefleksikan dilema taktis modern: apakah Indonesia butuh *pace* untuk konter, *target man* untuk memecah *low block*, atau *versatile forward* untuk fleksibilitas formasi. Jawabannya akan menentukan identitas permainan Timnas dua tahun ke depan.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit