Olahraga

Herdman Puji Mitchell Baker, Ratapi Nasib Pemain Senior Usai Indonesia Tersingkir AFF 2026

Ringkasan

  • Pelatih Timnas Indonesia John Herdman memuji performa Mitchell Baker meski tim harus tersingkir dini dari Piala AFF 2026 setelah imbang 1-1 lawan Singapura, Jumat (7/8).

Indonesia resmi tersingkir dari babak grup Piala AFF 2026 setelah hanya mampu mengumpulkan empat poin dari tiga laga. Hasil imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Gelora Bung Karno, Jumat (7/8), menempatkan Garuda di peringkat ketiga Grup A di bawah Vietnam dan tuan rumah. Kekalahan ini berarti mimpi Timnas mengangkat trofi juara pertama dalam sejarah sepak bola Indonesia harus tertunda lagi.

Meski hasilnya mengecewakan, John Herdman memilih menarik sisi positif dari turnamen ini. Pelatih asal Inggris itu menyoroti penampilan sejumlah pemain muda yang dipanggil untuk pertama kali ke tim senior. Nama yang paling mencolok adalah Mitchell Baker, bek kiri berusia 19 tahun yang menunjukkan kematangan di luar dugaan.

"Jika melihat pemain muda seperti Mitch Baker, kita bisa melihat bahwa permainannya memiliki nilai lebih dari sekadar keunggulan fisik. Dia mampu melakukan banyak hal, dan saya sangat antusias dengan potensi dan masa depannya," ujar Herdman sebagaimana dikutip Aseanutdfc, Sabtu (8/8). Pujian ini bukan sekadar lip service — Baker memang tampil konsisten di kedua laga terakhir, baik secara defensif maupun mendukung serangan.

Lahir di Sydney 2005, Baker bermain di akademi Sydney FC sebelum pindah ke Newcastle United U-21. Ia memiliki darah Indonesia dari pihak ibu dan baru saja memperoleh klarifikasi FIFA. Di Piala AFF 2026, Herdman mempercayakannya sebagai starter di laga krusial lawan Singapura, menggantikan Rizky Ridho yang cedera. Keputusan itu terbukti tepat: Baker tidak kalah fisik dengan penyerang Singapura dan sering kali memulai konstruksi serangan dari belakang.

Kendati demikian, Herdman tidak melupakan pengorbanan para pemain senior. Beberapa nama seperti Asnawi Mangkualam, Edo Febriansah, dan Rafael Struick terlihat sedih di akhir laga. Pelatih berusia 49 tahun itu mengakui rasa sedihnya melihat para veteran gagal mewujudkan mimpi sejarah.

"Di sisi lain, saya merasa sedih untuk beberapa pemain senior. Mereka telah mengerahkan usaha terbaik dalam turnamen ini dan melakukan pengorbanan besar untuk bisa hadir di sini. Mereka sangat berhasrat untuk mempersembahkan trofi bagi Indonesia. Sayangnya, hal itu belum bisa terwujud kali ini, tetapi mereka telah memberikan segala yang dimiliki," tutur Herdman dengan nada yang terdengar tersentuh.

Kegagalan di AFF 2026 sebenarnya sudah terlihat sejak laga pembuka. Indonesia hanya menang tipis 1-0 atas Laos berkat gol penalty Thom Haye, lalu kalah 0-2 dari Vietnam di laga kedua. Lawan Singapura, Timnas sempat unggul 1-0 melalui gol Ferry Rotinsulu menit ke-34, tapi tidak bisa mempertahankan keunggulan hingga laga berakhir. Gol penyeimbang Singapura dicetak oleh Faris Ramli menit ke-67 setelah kesalahan marking di kotak penalti.

Secara statistik, Indonesia menguasai bola 58 persen dan mencetak 14 tembakan, namun hanya tiga yang mengarah ke gawang. Efisiensi finishing menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan sejak era pelatih sebelumnya. Herdman sendiri baru memimpin tim dalam tiga laga resmi ini — terlalu singkat untuk mengubah karakter bermain yang sudah melekat bertahun-tahun.

Namun, turnamen ini memberikan nilai tak ternilai harganya bagi regenerasi. Selain Baker, nama lain seperti Arkhan Fikri (19 tahun), Zanadin Fariz (20 tahun), dan Muhammad Ferarri (21 tahun) juga mendapat menit bermain signifikan. Mereka belajar langsung karakteristik sepak bola ASEAN: fisik, cepat, dan penuh kontak. Pengalaman ini akan jadi modal di kualifikasi Piala Asia 2027 dan Piala Dunia 2026.

PSSI dan Erick Thohir kini menghadapi tekanan publik yang masif. Medsos Timnas dan federasi dirujak warganet usai tersingkir. Thohir sendiri baru saja mengeluarkan pernyataan menjanjikan evaluasi menyeluruh, termasuk soal sistem kompetisi domestik yang dinilai kurang mendukung pengembangan pemain. "Kita harus jujur, level Liga 1 masih jauh di bawah standar internasional," tuturnya dalam konferensi pers terpisah.

Langkah selanjutnya bagi Herdman adalah mempersiapkan tim untuk jendela FIFA Maret 2027 — kualifikasi Piala Asia. Dia sudah menandai sejumlah pemain diaspora baru yang akan diklarifikasi, termasuk striker berusia 20 tahun yang kini bermain di liga kedua Belanda. Proyek regenerasi ini butuh waktu minimal dua hingga tiga tahun untuk menghasilkan tim yang benar-benar kompeten di level Asia.

Bagi Mitchell Baker dan kawan-kawan muda, tersingkir di AFF 2026 bukan akhir, melainkan awal. Mereka kini punya gambaran nyata apa yang dibutuhkan untuk bersaing di panggung senior. Tugas Herdman dan stafnya adalah memastikan pengalaman pahit ini dijadikan pupuk, bukan beban. Sejarah sepak bola Indonesia penuh dengan kegagalan yang berulang — kali ini, setidaknya, ada fondasi pemain muda yang nyata untuk dibangun ke depan.

Mengapa Ini Penting

Kegagalan di AFF 2026 justru memperjelas jalan regenerasi yang selama ini kabur. Herdman tidak hanya menemukan Mitchell Baker, tapi juga membuktikan bahwa pemain muda berdarah ganda bisa beradaptasi cepat dengan karakteristik sepak bola ASEAN. Ini mengubah narasi: Indonesia tidak lagi butuh 'penyelamat' berupa naturalisasi massal, tapi sistem yang memungkinkan pemain muda berkembang. Jika PSSI konsisten dengan proyek ini, kualifikasi Piala Asia 2027 jadi target realistis — bukan sekadar slogan.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
8 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit