Olahraga

Herdman Puji Karakter 50 Pemain Timnas Indonesia Usai TC Bali

Ringkasan

  • Pelatih John Herdman menyebut 50 pemain Timnas Indonesia di Bali memiliki karakter kuat dan rasa kekeluargaan solid jelang Piala AFF 2026.

John Herdman menuntaskan tahapan pertama pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia di Bali yang berlangsung selama tujuh hari. Dalam evaluasinya, juru taktik asal Inggris tersebut memuji ketangguhan fisik dan ikatan kekeluargaan yang terbangun di antara 50 pemain yang dipanggil.

Program TC di Bali sejatinya telah dimulai sejak 5 Juni. Fase tujuh hari terakhir digelar dengan menekankan penggemblengan fisik serta penanaman filosofi permainan yang sedang ia bangun untuk skuad Garuda. Herdman menegaskan bahwa pekan awal tersebut sangat menguras tenaga, namun menjadi fondasi krusial jelang turnamen bergengsi akhir bulan ini.

Piala AFF 2026 akan bergulir pada 24 Juli hingga 26 Agustus. Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Kamboja, Timor Leste, dan Singapura. Persaingan di grup ini membutuhkan kesiapan mental dan fisik maksimal sejak peluit pertama, sehingga TC di Bali dirancang untuk menempa mentalitas pemain.

Herdman, yang merupakan mantan juru latih Kanada, membawa pendekatan baru ke panggung sepak bola Indonesia. Ia tidak hanya menuntut kualitas teknis di atas lapangan, tetapi juga menekankan aspek psikologis serta karakter pemain ketika menghadapi titik kelelahan mental dan emosional.

Pernyataan mengenai 'pekerjaan di balik layar' yang ia sampaikan merujuk pada proses pemetaan kondisi atlet secara menyeluruh. Di era modern, pendekatan ini identik dengan pemanfaatan teknologi olahraga atau sports science. Meski tidak dijabarkan rinci, metode saintifik Herdman selaras dengan tren analitik data global yang kini mulai masuk ke tim nasional Asia.

Bagi pecinta sepak bola Tanah Air, penekanan pelatih pada 'karakter' ketimbang sekadar skill individu merupakan angin segar. Sepak bola Indonesia kerap kali kehilangan momentum karena mentalitas yang goyah saat tertinggal atau kondisi fisik yang menurun di babak kedua.

Dari kacamata portal teknologi, pemanfaatan data performa dalam TC seperti ini sangat krusial. Klub-klub elite Eropa sudah lama menggunakan pelacak GPS dan sensor detak jantung untuk mengukur beban latihan. PSSI berpeluang mengadopsi sistem pemantauan digital yang lebih terintegrasi agar evaluasi pemain bersifat objektif.

Pemangkasan skuad dari 50 menjadi 23 pemain juga menunjukkan kompetisi internal yang sehat dan ketat. Keputusan sulit harus diambil menjelang turnamen, dan metode berbasis data akan menjadi kunci agar seleksi tidak sekadar mengandalkan nama besar atau popularitas.

"Ini adalah tim yang kuat. Dan hal yang selalu menonjol ketika para pemain lokal datang bersama-sama, ada perasaan kekeluargaan. Rasanya seperti ada persaudaraan," ucap Herdman menggambarkan atmosfer ruang ganti yang solid.

Pria asal Inggris itu menambahkan, "Saya hanya bisa mengambil 23 pemain. Saya ingin mengambil setiap pemain pada pekan ini. Karena dari perspektif karakter, hal itu ada di sana. Itulah yang akan saya nilai sekarang." Ia mengakui akan sangat sulit melepas siapapun karena kualitas yang ditunjukkan selama pekan menguras fisik tersebut.

Tahap kedua persiapan akan segera berjalan dengan pemangkasan nama secara drastis. Laga perdana Timnas dijadwalkan bertanding pada 27 Juli menghadapi Kamboja, disusul ujian kedua melawan Timor Leste pada 31 Juli. Herdman dituntut meracik formasi terbaik dalam waktu yang sangat singkat.

Ke depan, keberhasilan metode Herdman di Bali akan menjadi barometer bagi transformasi sepak bola nasional. Jika filosofi kekeluargaan dan kedisiplinan fisik ini mampu bertahan hingga Piala AFF bergulir, Indonesia berpotensi kembali menjadi kandidat juara yang diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.

Mengapa Ini Penting

Penekanan Herdman pada aspek karakter dan 'pekerjaan di balik layar' membuka peluang adopsi sistem sports analytics berbasis teknologi di tubuh Timnas Indonesia. Bagi industri olahraga lokal, ini menjadi sinyal bahwa pemantauan performa via wearable device dan data ilmiah bukan lagi sekadar tren elit Eropa, melainkan kebutuhan mendesak. Keberhasilan pemangkasan skuad dari 50 ke 23 pemain secara objektif akan mengubah paradigma seleksi nasional yang selama ini kerap dikritik subjektif. Pada akhirnya, kolaborasi antara teknologi dan ikatan kekeluargaan ala Herdman bisa menjadi cetak biru pembinaan pemain muda di tanah air.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit