Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, melontarkan tantangan terbuka bagi para pemain lokal untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba peruntungan di kompetisi Eropa. Langkah berani ini dinilai sebagai kunci utama untuk meningkatkan level permainan Indonesia agar mampu bersaing dengan raksasa futsal dunia.
Souto yang memiliki rekam jejak mumpuni di dunia futsal menegaskan bahwa kesenjangan kualitas antara Liga Futsal Profesional (PFL) Indonesia dengan kompetisi di Eropa, khususnya Spanyol, masih cukup lebar. Menurutnya, perbedaan paling mencolok terletak pada tempo permainan yang jauh lebih cepat di Eropa, yang menuntut pemain untuk berpikir dan bertindak dalam hitungan detik.
Ketimpangan ritme kompetisi ini menjadi tantangan besar bagi pemain yang selama ini hanya berkutat di liga domestik. Sang pelatih menilai bahwa meski kualitas PFL terus menunjukkan perkembangan positif dari tahun ke tahun, intensitas yang tercipta di Liga Spanyol tetap berada di tingkatan yang berbeda.
Keinginan Souto untuk mengirim pemain ke luar negeri bukan sekadar wacana. Ia berkaca pada fenomena di dunia sepak bola, di mana pemain yang berani meniti karier di liga luar negeri cenderung memiliki kematangan mental dan teknis yang lebih baik. Pengalaman menghadapi pemain-pemain kelas dunia dari Spanyol hingga Brasil setiap pekannya menjadi sekolah terbaik bagi seorang atlet.
Ia menyoroti pentingnya jam terbang dalam lingkungan yang kompetitif. Pemain yang berkarier di Eropa akan dipaksa untuk beradaptasi dengan atmosfer latihan yang ketat, di mana setiap individu harus membuktikan kapasitasnya setiap hari agar tidak tersingkir dari rotasi tim.
Sebagai contoh konkret, Souto mengangkat kisah sukses Muhammad Osamanmusa asal Thailand. Perjalanan Osamanmusa di Liga Spanyol tidaklah instan. Pada awal kedatangannya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan. Namun, ketekunan dan proses adaptasi yang panjang akhirnya membuahkan hasil, menjadikannya pemain kunci yang kini rutin masuk dalam starting five.
Proses yang dilalui Osamanmusa inilah yang ingin ditiru oleh Souto untuk para pemain Indonesia. Ia menegaskan bahwa menjadi pilihan ke-12 dalam tim di Eropa jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi pemain bintang di liga domestik, karena di sana pemain akan belajar cara meningkatkan level permainan secara bertahap.
Bagi industri futsal nasional, dorongan ini merupakan sinyal bahwa standar kualitas pemain Indonesia perlu ditingkatkan melalui eksposur internasional. Tanpa keberanian untuk keluar dari ekosistem yang sudah dikenal, pemain nasional akan sulit menembus batas maksimal kemampuan mereka.
"Cara termudah memperkuat tim nasional kita adalah mengirim pemain berkarier di luar negeri. Kesenjangan kompetisi liga itu nyata dan harus dipangkas," ujar Souto saat ditemui di GOR POPKI, Jakarta Timur, Kamis (8/10).
Souto menambahkan bahwa evolusi seorang pemain akan terjadi secara alami ketika mereka berada di lingkungan yang menuntut standar tinggi. Mentalitas bertanding akan terbentuk bukan melalui teori, melainkan melalui tekanan di lapangan yang sesungguhnya.
Ke depannya, tantangan bagi pengurus futsal dan agen pemain adalah bagaimana memfasilitasi jalur bagi talenta-talenta muda Indonesia untuk bisa menembus pasar Eropa. Dukungan ini krusial agar impian Souto tidak hanya berhenti sebagai harapan, melainkan menjadi strategi jangka panjang bagi kemajuan futsal Indonesia.
Jika Indonesia mampu mengirim lebih banyak pemain ke liga kompetitif, bukan tidak mungkin peringkat dunia Timnas Futsal akan terkerek naik secara signifikan. Keberanian mengambil risiko untuk berkarier di luar negeri kini menjadi tolok ukur baru bagi masa depan futsal nasional.