PSSI telah menetapkan harga tiket pertandingan kandang Timnas Indonesia pada fase grup Piala AFF 2026, dengan laga kontra Vietnam pada 3 Agustus mendatang dibanderol lebih mahal daripada duel melawan Kamboja. Kedua laga grup tersebut akan digelar di Stadion Pakansari, Bogor, sebagai bagian dari strategi penyelenggaraan yang disiapkan PT Garuda Sepakbola Indonesia (GSI).
Berdasarkan pengumuman resmi federasi, skuad Garuda menjamu Kamboja pada 27 Juli 2026 dengan harga tiket terendah Rp100.000 untuk tribune utara dan selatan, serta Rp200.000 untuk tribune barat dan timur. Seminggu berselang, saat menghadapi Vietnam, harga naik menjadi Rp125.000 untuk tribune utara dan selatan, dan Rp250.000 untuk tribune barat dan timur.
Penetapan harga bertingkat ini mencerminkan tingginya minat suporter terhadap pertandingan besar di tengah persaingan ASEAN. Vietnam merupakan rival tradisional Indonesia yang kerap menghadirkan tensi tinggi, sehingga permintaan tiket diproyeksikan melampaui laga pembuka melawan Kamboja. PSSI tidak menyediakan kategori premium atau VIP pada daftar harga kali ini, berbeda dengan beberapa turnamen sebelumnya yang memasukkan kelas khusus penonton berkemampuan bayar tinggi.
Pemilihan Stadion Pakansari sebagai venue kandang bukan tanpa alasan. GSI menilai kapasitas dan dinamika penonton pada babak penyisihan grup belum akan mencapai puncak, sehingga stadion berkapasitas menengah di Bogor lebih efisien secara operasional. Apabila Timnas lolos ke semifinal dan final, penyelenggaraan dipindah ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang memiliki daya tampung jauh lebih besar.
Kebijakan ini juga beririsan dengan agenda komersial PSSI pasca-reformasi tata kelola pertandingan. Dengan mematok harga terjangkau di tribune utara dan selatan, federasi berupaya menjaga akses suporter kelas menengah ke bawah, sekaligus menaikkan pendapatan dari sisi tribune barat dan timur yang lazim dihuni penonton dengan budget lebih longgar. Strategi ini sejalan dengan tren ticket pricing di kompetisi regional yang mulai membedakan harga berdasarkan rivalitas.
Dampak langsung dirasakan oleh suporter yang harus menyesuaikan rencana keuangan sejak jauh hari. Laga melawan Vietnam yang lebih mahal otomatis memicu antrean sistem daring lebih ketat, mengingat sejarah pertemuan kedua tim selalu menyedot perhatian publik. Di sisi lain, pelaku usaha kecil di sekitar Bogor—pedagang makanan, jasa parkir, dan transportasi lokal—diuntungkan oleh dua gelombang kedatangan penonton dalam kurun satu pekan.
Bagi industri olahraga tanah air, transparansi daftar harga sejak awal menjadi sinyal positif. Supporter tidak lagi dihadapkan pada ketidakpastian like sebelumnya, ketika tiket kerap diumumkan mendadak dan memicu kelangkaan semu. Langkah ini juga mempermudah pihak sponsor dalam menyusun aktivasi di area stadion sesuai segmentasi penonton tiap tribune.
Meski begitu, pengamat menyebut ketiadaan kategori VIP berpotensi mengurangi potensi pendapatan dari korporasi yang biasa membeli blok khusus. Di era sebelumnya, keberadaan lounges dan kursi premium membantu menutup biaya operasional pertandingan. Tanpa itu, PSSI harus mengandalkan volume penjualan reguler yang sangat bergantung pada performa di lapangan.
PT GSI selaku operator telah menegaskan bahwa mekanisme penjualan akan dilakukan terintegrasi dengan platform resmi guna meminimalisasi calo. Hal ini krusial mengingat pengalaman masa lalu di mana tiket Piala AFF kerap diburu hingga melahirkan pasar gelap. Sosialisasi jadwal dan harga melalui kanal Instagram PSSI menjadi langkah awal yang dilakukan menjelang pembukaan pemesanan.
Proyeksi ke depan, apabila Indonesia melaju ke fase gugur, SUGBK akan menjadi ujian tata kelola berikutnya. Harga tiket di GBK dipastikan naik signifikan mengingat statusnya sebagai stadion utama nasional. Momentum Piala AFF 2026 juga dipakai PSSI untuk mengukur respons pasar menjelang siklus kompetisi internasional yang lebih padat pada 2027.
Tren pembedaan harga berdasar lawan main diprediksi bertahan di edisi-edisi mendatang. Federasi negara ASEAN lain seperti Thailand dan Malaysia sudah lebih dulu menerapkan dynamic pricing pada laga kandang mereka. Indonesia melalui kebijakan Pakansari ini mulai menyelaraskan standar profesional penyelenggaraan dengan tetangga regional.
Penggemar di Tanah Air kini memiliki kejelasan untuk menyusun itinerari mendukung Garuda. Dua laga Bogor menjadi panggung awal sebelum kemungkinan pesta di Jakarta. Harga yang ditetapkan hari ini akan menjadi rujukan bagi banyak keluarga pecinta bola saat libur akhir Juli dan awal Agustus tahun depan.