Olahraga

Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Ratusan Juta Rupiah, FIFA Masih Sisakan Ribuan Kursi

Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Ratusan Juta Rupiah, FIFA Masih Sisakan Ribuan Kursi

Ringkasan

  • FIFA menuai kritik tajam setelah ribuan tiket final Piala Dunia 2026 masih belum terjual dengan harga mencapai puluhan ribu dolar per kursi.

Menjelang laga puncak Piala Dunia 2026 yang akan digelar di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, pada 19 Juli mendatang, publik dunia dikejutkan oleh kebijakan harga tiket yang dinilai sangat eksklusif. FIFA dilaporkan masih memiliki sekitar 1.200 tiket yang belum terjual untuk kategori dua, dengan harga per lembar mencapai 7.380 dolar AS atau setara dengan lebih dari 115 juta rupiah. Kondisi ini memicu perdebatan sengit mengenai aksesibilitas turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia bagi penggemar akar rumput.

Berdasarkan data dari situs penjualan tiket resmi FIFA, sebanyak 1.178 kursi masih tersedia di area dek atas sepanjang garis tepi lapangan. Ketersediaan ini tersebar di lima bagian tribun, yakni sektor 333, 334, 335, 343, dan 344. Fakta bahwa kursi-kursi ini masih tersedia di saat hari pertandingan semakin dekat menunjukkan adanya kesenjangan antara penetapan harga yang agresif oleh otoritas sepak bola dunia dengan daya beli sebagian besar penggemar sepak bola global.

Tidak hanya kategori menengah, FIFA juga menawarkan tiket kategori satu di dek bawah dengan harga yang jauh lebih mencengangkan, yakni berkisar antara 19.995 hingga 32.970 dolar AS. Lebih jauh lagi, paket premium Trophy Lounge dan Trophy Lounge+ dipasarkan dengan harga masing-masing 34.500 dan 32.500 dolar AS. Paket ini mencakup fasilitas eksklusif berupa layanan makanan dan minuman, yang menegaskan pergeseran orientasi turnamen menuju model bisnis komersial kelas atas.

Kritik tajam terus menghujani FIFA sepanjang fase penjualan tiket turnamen ini. Sebuah kelompok penggemar bahkan sempat menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan terkait praktik harga tiket yang dianggap berlebihan atau 'excessive'. Langkah hukum ini mencerminkan kekecewaan luas atas komersialisasi olahraga yang dianggap menjauhkan nilai inklusivitas sepak bola dari semangat aslinya.

Dalam merespons kritik tersebut, Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka membela kebijakan harga tersebut. Ia berargumen bahwa FIFA memiliki kewajiban untuk memaksimalkan pendapatan dengan memanfaatkan regulasi di Amerika Serikat yang memungkinkan penjualan kembali tiket di atas harga nominal (face value). Infantino bahkan sempat melontarkan komentar bernada sarkastik saat menanggapi tiket yang dijual kembali di pasar sekunder dengan harga mencapai 2 juta dolar AS per lembar.

Situasi ini semakin pelik dengan adanya intervensi dari otoritas hukum di Amerika Serikat. Negara bagian New York dan New Jersey dilaporkan telah melayangkan surat panggilan (subpoena) kepada FIFA sebagai bagian dari investigasi resmi. Fokus penyelidikan ini mencakup transparansi penetapan harga tiket serta akurasi informasi lokasi kursi yang dijual kepada publik, mengingat potensi ketidaksesuaian antara iklan dan realitas di lapangan.

Di pasar sekunder resmi FIFA, fluktuasi harga juga sangat ekstrem, dengan rentang harga mulai dari 7.440 hingga lebih dari 11 juta dolar AS untuk satu kursi. Ketidakstabilan harga ini menciptakan spekulasi masif yang merugikan penggemar setia yang ingin menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding. Fenomena ini menjadi preseden buruk bagi manajemen ajang olahraga internasional di masa depan.

Sebagai perbandingan, tiket untuk laga perempat final antara Argentina dan Swiss di Arrowhead Stadium, Kansas City, dijual dengan harga berkisar 1.600 hingga 3.995 dolar AS. Meskipun lebih murah dibandingkan tiket final, angka tersebut tetap dipandang sebagai hambatan finansial yang signifikan bagi banyak pendukung. Piala Dunia 2026 kini tidak hanya menjadi ajang pembuktian prestasi di atas lapangan hijau, tetapi juga panggung kontroversi mengenai batasan komersialisasi dalam olahraga profesional.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti pergeseran drastis model bisnis olahraga global yang kini semakin mengandalkan ekonomi eksklusif daripada partisipasi massa. Bagi industri hiburan dan teknologi di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya transparansi harga dan regulasi marketplace tiket digital untuk mencegah praktik spekulasi yang merugikan konsumen. Kasus ini juga mempertegas bahwa di era digital, perlindungan konsumen terhadap algoritma harga dinamis menjadi tantangan hukum baru yang mendesak untuk diperhatikan.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
10 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →